• April 9, 2026

5 hal yang perlu kamu ketahui tentang Setya Novanto

Meski termasuk sosok kontroversial, Setya Novanto berhasil terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar periode 2016-2019.

JAKARTA, Indonesia – Setya “Setnov” Novanto akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar setelah melalui proses pemungutan suara tertutup pada Selasa pagi, 17 Mei. Ia berhasil meraih 277 suara dari 544 pemilih.

Sedangkan pesaing terdekatnya, Ade “Akom” Komarudin memperoleh 173 suara. Setya dan Ade sebenarnya bisa lolos ke putaran kedua karena sesuai aturan pemilu, mereka berhasil meraih 30 persen suara. Namun Ade kemudian memilih mundur sehingga membuka jalan bagi Setnov untuk menjadi ketua umum.

Berikut 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Setnov:

1. Beliau pernah menjadi Ketua DPR
Setya Novanto terpilih sebagai Ketua DPR pada 2 Oktober 2014. Saat itu, ia didukung lima partai politik yang saat itu tergabung di bawah naungan Koalisi Merah Putih (KMP), yakni Golkar, Gerindra, PKS, PAN, dan PPP. Satu partai lain juga mendukungnya meski tidak bergabung dengan KMP, yakni Demokrat.

Namun ia terpaksa mengundurkan diri setelah dianggap melanggar kode etik dalam perundingan perpanjangan kontrak Freeport. Kasus ini ramai diperbincangkan publik dengan nama “Papa Minta Saham”.

Setya dinilai melanggar kode etik karena sebagai Ketua DPR menggunakan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meminta saham PT Freeport. Alhasil, kasus tersebut masuk ke Majelis Kehormatan (MKD) untuk disidangkan.

Namun pengunduran diri Setya dilakukan secara tertutup. Ketua sidang Sufmi Dasco kembali membacakan isi surat pengunduran diri Setya.

Sehubungan dengan masih berjalannya penanganan pengaduan dugaan pelanggaran etik di MKD DPR, demi menjaga harkat dan martabat lembaga DPR RI serta menciptakan ketentraman masyarakat, dengan ini saya menyatakan pengunduran diri saya sebagai Ketua DPR RI Periode 2014- Periode 2019,” kata Sufmi setelah membaca isi surat tersebut.

2. Didukung penuh oleh orang-orang keraton
Kehadiran Setya dalam bursa pencalonan Ketua Umum Partai Golkar didukung penuh oleh orang-orang dekat Istana. Sosok itu adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan.

Bahkan, Luhut juga sempat terbang ke Bali dan memantau jalannya Konferensi Nasional Luar Biasa (Munaslub). Selain itu ia juga menelepon dan berbicara dengan 7 calon umum lainnya. Pertemuan itu diyakini dilakukan agar mereka mendukung Setya Novanto, meski Luhut membantahnya.

Sejak dibukanya Munas, perebutan kursi diperkirakan akan didominasi oleh dua calon, yakni Setya Novanto dan Ade Komarudin. Jika Setya didukung Luhut, maka Ade mendapat restu dari Wakil Presiden Jusuf “JK” Kalla.

Presiden Jokowi juga mengetahui hal ini. Bahkan, dalam pidato pembukaan Munas, Jokowi melontarkan sindiran terhadap Luhut dan JK yang sama-sama mengumpulkan DPD Golkar.

“Saya bilang, Pak JK pernah menjadi Ketua DPP Golkar. Pak Luhut pernah duduk di Dewan Pertimbangan Golkar, kata mantan Gubernur DKI itu, Sabtu malam, 15 Mei, di Nusa Dua, Bali.

Meski begitu, Jokowi mengaku tetap berusaha bersikap netral dan tidak ingin berpihak pada kubu mana pun. Baik Luhut maupun JK mulai bermanuver.

Luhut membawa nama Presiden dan menyampaikan kepada 7 calon ketua umum agar tidak boleh ada ketua partai yang merangkap jabatan. JK langsung membantahnya. Ia mengatakan, hal itu tidak pernah disampaikan oleh Presiden Jokowi.

3. Calon Ketua Umum terkaya
Di antara 7 calon ketua umum lainnya, Setya dikenal sebagai calon terkaya. Berdasarkan laporan kekayaan yang disampaikan kepada panitia penyelenggara, kekayaan Setya tercatat sebesar Rp114.769.292.837 dan US$49.150.

Sebelumnya, panitia meminta uang jaminan kepada partai untuk calon ketua umum sebesar Rp1 miliar. Meski sempat menuai kontroversi dan dikategorikan politik uang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun 8 calon ketua umum tetap membayarnya.

4. Angka kontroversial
Selain kasus “Papa Minta Saham”, Setya juga tersangkut beberapa kasus lainnya. Namun hal itu tidak pernah tersentuh oleh undang-undang. Berikut beberapa kasusnya:

5. Janji rekonsiliasi Partai Golkar
Usai terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar yang baru, Setya berjanji akan melakukan rekonsiliasi dari pusat hingga daerah. Hal ini nantinya akan masuk dalam program 100 hari kerja Setya.

Ia pun berjanji akan mengajak 7 calon ketua umum lainnya untuk bergabung dan bekerja sama.

“Insya Allah tidak akan ada konflik. “Saya juga akan bekerja sama dengan pihak lain dalam jangka waktu 3 tahun ke depan,” kata Setya.

Setya pun mendukung arah kebijakan baru Golkar, yakni keluar dari Koalisi Merah Putih dan mendekat ke pemerintahan Jokowi dan JK.

Saya juga akan meluangkan waktu untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar, ujarnya. – Rappler.com

BACA JUGA:

HK Prize