Strategi pemerintah untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke pasar internasional
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Sejak tahun 2011, tingkat ekspor Indonesia terus mengalami penurunan dengan tren 6,60% per tahun
JAKARTA, Indonesia — Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat ekspor Indonesia terus mengalami penurunan.
Penurunan tingkat ekspor terjadi akibat lemahnya perekonomian global yang mengakibatkan nilai impor juga menurun.
Dalam Laporan Perkembangan Perdagangan Indonesia yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, tingkat ekspor Indonesia mengalami penurunan dengan tren 6,60% per tahun. Sementara tingkat ekspor turun dengan impor 4,51% per tahun.
Anjloknya harga komoditas yang selama ini menjadi produk ekspor andalan Indonesia menjadi penyebab utama terus merosotnya nilai ekspor. Oleh karena itu, dalam kunjungannya ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 pada Rabu, 12 Oktober, Presiden Joko Widodo mengungkapkan dirinya telah memerintahkan menteri terkait untuk memperluas pasar ekspor.
(BACA: Presiden Jokowi Minta Pasar Ekspor Diperluas ke Afrika dan Irak)
Ketua Kepala Badan Perdagangan dan Industri Indonesia (KADIN), Rosan P. Roeslan mengungkapkan, usulan ini harus dilakukan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.
“Bagaimana cara mendukung ekspor? Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah memperluas ke pasar non-tradisional,” kata Rosan kepada media di acara TEI 2016, Rabu.
Selain memperluas target ekspor, diversifikasi produk juga diperlukan untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Rosan sangat optimis Indonesia bisa melakukan diversifikasi, misalnya pada produk kayu dan produk halal.
“Salah satu produk kita yang saya tahu menjadi andalan adalah produk kayu kita. “Tapi juga untuk produk halal kita, misalnya kosmetik halal kita, respon dari luar cukup-sangat baik,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga harus didorong untuk lebih banyak mengekspor.
“Pemerintah bisa memberikan insentif kepada eksportir kita, khususnya eksportir baru dari usaha kecil dan menengah. (Seharusnya) diberi insentif,” kata Rosan.
Bentuk insentif yang diberikan bisa bermacam-macam, mulai dari perpajakan hingga bantuan biaya promosi seperti yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia.
“Kalau kita pelajari, memang Malaysia luar biasa. Memang anggaran “Itu tanggung jawab pemerintah untuk melakukan promosi,” kata pengusaha berusia 47 tahun itu.
Rosan juga mengakui, untuk memaksimalkan potensi ekspor yang ada, diperlukan kerja sama antara pelaku usaha dan pemerintah.
“Kita harus bersinergi dan bersinergi dengan pemerintah,” ujarnya. —Rappler.com