• April 18, 2026
Upaya diplomasi Indonesia ke tiga negara untuk menyikapi pengakuan AS terhadap Yerusalem

Upaya diplomasi Indonesia ke tiga negara untuk menyikapi pengakuan AS terhadap Yerusalem

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Retno akan mengunjungi Yordania, Turki, dan Belgia

JAKARTA, Indonesia – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berangkat ke Amman, Yordania pada Minggu pagi, 12 Desember. Hal ini merupakan langkah lanjutan yang diambil pemerintah Indonesia untuk menyikapi kebijakan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Hal itu diumumkan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Rabu 6 Desember waktu setempat. Trump kemudian memerintahkan Departemen Luar Negerinya untuk segera memindahkan gedung kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. (BACA: Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel)

Namun, Retno tidak hanya akan mengunjungi Yordania saja, ia juga akan mengunjungi Turki dan Belgia.

“Perjalanan ini bertujuan untuk memperkuat perjuangan diplomasi Indonesia untuk Palestina. Sesuai instruksi Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia akan selalu bersama Palestina, kata Retno dalam keterangannya di Bandara Soekarno-Hatta pagi ini.

Di Amman, Yordania, Retno akan bertemu dengan rekan-rekannya yakni Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi. Ia selanjutnya akan mendampingi Jokowi ke Ankara untuk menghadiri KTT darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada Rabu 13 Desember.

Setelah meninggalkan Ankara, menteri luar negeri perempuan pertama Indonesia ini akan berangkat ke Belgia untuk melakukan lobi agar tidak ada negara di Uni Eropa yang mengikuti keputusan Paman Sam dengan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.

“Di Brussel saya akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Uni Eropa untuk memperkuat upaya diplomasi dan tidak mengikuti keputusan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan tidak ikut memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem,” ujarnya.

Hingga saat ini, negara-negara UE yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel menempatkan kedutaan besarnya di Tel Aviv. Mereka menghormati status quo kota Yerusalem yang masih diperebutkan antara Palestina dan Israel.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini sebelumnya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Safadi di Brussels. Dia mewakili UE dan mengutuk keputusan Trump
mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Menurut Mogherini, kebijakan Trump justru membawa upaya perdamaian antara Palestina dan Israel kembali ke masa kegelapan dan terhenti.

Mogherini juga menegaskan posisi UE tetap teguh dengan solusi dua negara demi perdamaian di sana. Artinya, UE menyebut Yerusalem tidak hanya sebagai ibu kota Israel, tetapi juga ibu kota Palestina.

Rencananya, ia akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin besok. Ia meminta kedua belah pihak tetap tenang.

“Apa yang kita butuhkan dalam situasi sulit saat ini adalah kebijaksanaan dan keinginan untuk mendengar suara-suara bijak yang menyerukan perdamaian. “Kami pun bereaksi dengan tenang,” kata Mogherini seperti dikutip media.

Sementara itu, para menteri dari negara-negara Arab meminta pemerintah AS pada hari Sabtu untuk membatalkan pengakuan mereka atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusan itu diambil para menteri dalam resolusi pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir. Menurut mereka, dengan sikap Amerika tersebut, Negeri Paman Sam memilih mundur sebagai sponsor dan mediator upaya perdamaian Israel dan Palestina.

“Para pihak sepakat untuk menuntut AS membatalkan keputusan mengenai pengakuan Yerusalem dan menyerukan masyarakat internasional untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” bunyi resolusi tersebut.

Menyusul pengumuman tersebut, beberapa pemimpin negara-negara Timur Tengah, termasuk Presiden Palestina Mahmud Abbas, membatalkan jadwal pertemuan mereka dengan Wakil Presiden AS Mike Pence. Pence diutus Trump untuk bertemu dengan beberapa pemimpin Arab dan pimpinan gereja serta menjelaskan kebijakan pemerintah AS.

Keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel mendapat kecaman dan protes di seluruh dunia. Di Indonesia, protes dan demonstrasi terjadi di Kedutaan Besar AS dan Konsulat Jenderal di beberapa kota. Bahkan, sejumlah ormas tertentu di Jakarta menyerukan agar Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph Donovan, diusir dari Tanah Air. – dengan pelaporan AFP/Rappler.com

agen sbobet