Jika kalah dari Myanmar, harapan Indonesia bergantung pada 4 laga tersisa
keren989
- 0
Meski kalah di gim pertama, pelatih Edu tak kecewa. Ia justru merasa puas dengan performa para pemainnya karena dianggap menunjukkan rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi.
JAKARTA, Indonesia – Timnas U-19 gagal meraih poin usai blunder yang dilakukan Satria Tama. Mereka pun kalah 2-3 dari Timnas Myanmar pada laga Piala AFF U-19 di Hanoi, Vietnam pada Senin 12 September di Vietnam Youth Centre. Empat pertandingan tersisa.
Perjuangan Garuda Jaya untuk lolos dari grup B semakin ketat. Sebab selain Myanmar, lawan lain di grup cukup berat. Mereka adalah Thailand, Australia, Kamboja, dan Laos. Dua nama pertama yang disebutkan akan sangat menyulitkan Indonesia.
Pada laga melawan Myanmar, Timnas U-19 dua kali tertinggal. Sempat mampu menyamakan kedudukan, namun saat tertinggal untuk ketiga kalinya, Dewi Fortuna sudah tak lagi bersama tim polesan pelatih Eduard Tjong.
Di babak pertama, Mentalitas grup Timnas U-19 patut diacungi jempol. Sebab, mereka mampu bermain dengan tenang, sabar, dan percaya diri, serta menjaga penguasaan bola meski tertinggal.
Oleh karena itu, mereka bisa menciptakan peluang matang untuk menjadi gol. Sayangnya, blunder yang dilakukan kiper pengganti Satria Tama pada menit ke-57 membuat tim Garuda harus kalah 2-3.
Indonesia awalnya kebobolan lebih dulu pada menit ke-11 setelah Aung Kaung Mann berhasil memanfaatkan kemelut tendangan sudut. Di mPada menit ke-16, Garuda Jaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah Pandi Lestaluhu mencatatkan namanya di papan skor.
Saat skor rendah, nasib sial menimpa Timnas Indonesia. Kiper utama Muhammad Riyandi mengalami robekan di bawah matanya sehingga harus ditarik keluar pada menit ke-24.
Perubahan ini sangat berdampak pada lini belakang. Rupanya Satria belum siap dan masih gugup, mentalnya belum cukup baik untuk tampil di pertandingan jarak dekat. Dia mengkonversinya pada menit ke-27 melalui Zwe Thet Paing.
Beruntung, sebelum laga babak pertama usai, Sandi Pratama berhasil menjebol gawang Myanmar pada menit ke-44. Skor 2-2 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Indonesia nyaris unggul setelah Dimas Drajad mendapat peluang di depan gawang pada menit ke-48. Namun kiper Myanmar itu masih mampu menyelamatkan tembakannya.
Mentalitas penjaga gawang sepertinya tidak bagus dalam pertandingan jarak dekat ini ketika aAntisipasi buruk hingga berujung blunder terjadi pada menit ke-57. Tendangan tak berbahaya Shwe Ko terlepas dari pelukannya dan masuk ke gawangnya sendiri.
Usai ledakan gol tersebut, semangat timnas tak surut. Namun serangan-serangan yang dibangun Timnas terkesan kasar dan banyak yang dilakukan secara terburu-buru. Ketenangan dan kesabaran belum terlihat seperti di babak pertama.
Kekalahan ini rupanya tak membuat Edu –sapaan akrab Eduard Tjong– kecewa. Ia justru merasa puas dengan performa para pemainnya karena dianggap menunjukkan rasa percaya diri dan semangat bertarung tinggi.
“Meski kalah, (tapi) saya puas. Babak kedua punya banyak peluang. Pemain memiliki kepercayaan diri, kecepatan, semangat bertarung Dengan baik. “Saya sangat senang dengan perjuangan mereka, saya mengapresiasi para pemain,” ujarnya melalui pesan singkat usai pertandingan.
Acaranya belum ditutup

Dengan kekalahan ini, target poin tidak tercapai. Otomatis harus ada perubahan target untuk lolos. Dengan empat laga tersisa, skuad Garuda Jaya perlu memperkuat diri dan mengincar kemenangan di seluruh sisa laga.
”Masih ada empat pertandingan tersisa. Masih ada peluang. Kami harus lebih fokus. “Selanjutnya melawan Thailand, kami tahu mereka tangguh, namun kami bisa melakukannya,” jelas Edu.
Soal blunder yang dilakukan sang kiper, Edu terlihat biasa saja dan tidak menyalahkan pemainnya. Baginya, kesalahan pemain adalah hal yang manusiawi. Dengan begitu, pemain yang melakukan kesalahan tidak akan mendapat hukuman.
“Untuk Thailand, kini adalah koreksi pertahanan. “Satria, menurut saya itu manusiawi, bahkan sekelas Dino Zoff (legenda timnas Italia) melakukan kesalahan,” jelasnya. – Rappler.com