• April 30, 2026
Indonesia-Chile tancap gas untuk mempercepat kesepakatan perdagangan barang

Indonesia-Chile tancap gas untuk mempercepat kesepakatan perdagangan barang

Indonesia memandang Chile sebagai jembatan untuk memasuki Amerika Latin

JAKARTA, Indonesia – Pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo tampaknya akan menekan pedal gas dengan keras untuk menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA). Pekan ini delegasi Indonesia dan Chile menggelar perundingan ke-3 Perdagangan Barang (TIG), dalam kerangka IC-CEPA, di kota Santiago, Chili. Sejalan dengan komitmen kedua kepala negara pada Mei lalu, Indonesia dan Chile menargetkan penyelesaian perundingan IC-CEPA TIGs pada tahun 2017.

Ini merupakan perundingan TIGs CEPA pertama yang dilakukan Indonesia dengan negara Amerika Latin. Chile penting bagi Indonesia karena negara ini cukup maju, terbuka, strategis, dan stabil secara politik.kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan yang juga Ketua Perunding Indonesia untuk IC-CEPA, Iman Pambagyo.

Menurut Iman, Chile juga merupakan anggota Aliansi Pasifik dan merupakan jembatan menuju kawasan Amerika Latin. Produk Chile juga saling melengkapi dengan produk Indonesia, sehingga bukan pesaing tapi saling membutuhkan.

Ke depan, kami ingin menjadikan Chile sebagai pintu gerbang ekspor produk Indonesia ke pasar non-tradisional, khususnya di kawasan Amerika Latin. “Selain memiliki infrastruktur yang sangat baik, Chile juga memiliki 25 perjanjian perdagangan bilateral, salah satu yang paling progresif di dunia, sehingga konektivitasnya dengan negara lain cukup tinggi,” kata Iman, seperti tercantum dalam keterangan tertulis yang diterima Rappler, 16 Juni lalu. . , setelah negosiasi.

Di sela-sela pertemuan, Ketua Perunding Indonesia berkesempatan bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Chile, Edgardo Riveros, di kantornya. Keduanya membahas potensi kerja sama yang dapat dilakukan kedua negara, misalnya di bidang pariwisata dan industri strategis.

Menurut Iman, masyarakat Indonesia dan Chile saat ini belum terlalu mengenal satu sama lain. Untuk itu perlu diadakan kegiatan promosi bersama yang bertujuan untuk meningkatkan visibilitas masing-masing negara.

Wakil Menteri Luar Negeri Riveros menekankan pentingnya kedua negara bersikap pragmatis, fleksibel dan penuh keterbukaan dalam perundingan, namun tetap mengutamakan kualitas perjanjian yang akan dihasilkan.

Setelah perundingan ke-3 selesai, masih banyak hal yang perlu ditindaklanjuti. Salah satunya dengan mengadakan pertemuan antarsesi yang intensif konferensi video.

“Kedua negara berencana mengadakan dua putaran perundingan lagi sebelum akhir tahun inikata Dirjen Iman.

Pada IC-CEPA TIGs putaran ke 3 kali ini ada lima Kelompok Kerja (WG)yaitu WG di TIGs, diantaranya dibawah ini akses pasar, sanitasi dan fitosanitasi (SPS), hambatan perdagangan teknis (TBT), sarana perdagangandan indikasi geografis; WG tentang Ketentuan Asal Barang (ROO); WG tentang Prosedur Pribadi (CP); WG tentang Kerja Sama; Dan WG tentang Masalah Hukum.

Delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, Kedutaan Besar Republik Indonesia, dan Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) Santiago, Chili.

Data perdagangan Indonesia-Chili

Kinerja perdagangan Indonesia-Chili dalam lima tahun terakhir (2012-2016) mengalami penurunan sebesar 12,09%. Total perdagangan kedua negara pada tahun 2016 tercatat sebesar US$227,15 juta atau turun 29,28% dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$321,19 juta.

Chile merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia terbesar ke-54 tahun 2016. Komoditas ekspor Indonesia ke Chile tahun 2016 adalah sepatu, topi dan sejenisnya; bagian dari artikel tersebut (US$45,6 juta); mesin, peralatan mekanis (US$13,9 juta); pakaian dan aksesoris pakaian (US$10,1 juta); mesin dan peralatan listrik serta bagian-bagiannya (US$8,5 juta); Dan pakaian dan aksesoris pakaian (US$6,3 juta).

Komoditas impor Indonesia dari Chile tahun 2016 adalah tembaga dan barang daripadanya (US$21,3 juta); pulp dari kayu atau dari bahan selulosa berserat lainnya (US$12,6 juta); residu dan limbah dari industri makanan, pakan ternak olahan (US$11,5 juta); buah-buahan dan kacang-kacangan yang bisa dimakan; kulit buah jeruk atau melon (US$11,4 juta); Dan lemak dan minyak hewani atau nabati serta produk pembelahannya (US$5,4 juta) – Rappler.com

Data Sidney