Malam Selikuran, Tradisi Islam-Jawa Merayakan ‘Lailatul Qadr’
keren989
- 0
SOLO, Indonesia – Usai salat tarawih, ratusan prajurit Kasunan Surakarta berbaris membawa pedang, tombak, dan anak panah di depan Kori Kamandungan untuk memimpin kirab malam Selikuran. Mereka berjalan menuju Masjid Agung Kauman diikuti para abdi dalem dan abdi dalem membawa 1.000 nasi tumpeng dan membawa 1.000 lampu ting (lentera).
Beberapa abdi dalem berbaris sambil memainkan gamelan, sementara yang lain menyanyikan lagu Ucapan Dandanguladiambil dari Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV yang bercerita tentang Al-Qur’an sebagai sumber ajaran yang benar dan rahasia malam seribu bulan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karnaval tumpeng sewu dan tinglamp tidak berakhir di Masjid Raya melainkan dilanjutkan ke Kebonraja Taman Sriwedari yang berjarak sekitar tiga kilometer. Tahun ini karnaval kembali mengikuti adat Sunan Pakubuwono
Di Joglo Sriwedari, para abdi dalem meletakkan kotak kayu yang mereka bawa dan menatanya di tengah lantai. Setiap kotak berisi nasi tumpeng yang dikemas dalam bungkus plastik per porsi makan – nasi berbentuk kerucut dalam wadah takir (mangkuk kertas) – sehingga pendistribusiannya lebih mudah dan cepat.
Tiap bungkusnya terdiri dari nasi asin, cabai hijau besar, kedelai hitam goreng, irisan timun, dan telur puyuh. Nasi putih melambangkan kesucian hati menyambut sepertiga terakhir Ramadhan, sedangkan paprika hijau sebesar jari telunjuk melambangkan tauhid dan kesaksian keesaan Tuhan.
“Saat Rasulullah turun dari Jabal Nur pada malam gelap tanggal 21, 23, dan 25, para sahabat dan pengikutnya selalu membawa ubur-ubur untuk menyambut dan menerangi jalan pulang.”
Usai panitia membacakan sejarah Malam Selikuran, ulama keraton memimpin doa kenduri yang khusyuk yang disetujui oleh seluruh yang hadir. Di akhir ritual, nasi tumpeng bungkus dibagikan kepada semua orang untuk dimakan bersama.
Karena jumlahnya dibatasi 1.000, tidak semua orang yang datang bisa mendapatkannya. Selain warga yang menyaksikan, para penonton sidang sendiri juga ikut berebut. Satu tumpeng nasi asin kira-kira setara dengan satu bungkus nasi Padang, cukup kenyang untuk satu orang.
Dahulu tradisi ini dikenal dengan nama Maleman Kebonraja yang mampu menarik minat masyarakat pedesaan sekitar Solo. Setiap warga Sukoharjo, Sragen, Klaten, Wonogiri, dan Boyolali datang ke Sriwedari untuk menyaksikan kirab, termasuk berebut nasi asin.
Tradisi Sunan Pakubuwono ini Sejak beberapa tahun terakhir, pihak Keraton mengalihkan tujuan Karnaval Malam Selikuran ke Masjid Raya karena tanah Sriwedari sedang dilanda sengketa hak waris.
Tradisi Malam Selikuran sudah ada sejak masa kerajaan Demak, dan dilanjutkan oleh kerajaan Pajang, Mataram, dan Kartasura untuk merayakan Lailatul Qadr yang dalam kepercayaan Islam merupakan malam yang paling agung karena kemuliaannya setara dengan 1.000 bulan.
Sebagai pewaris takhta, Kasunan Surakarta terus melestarikannya dengan mengadakan karnaval setiap tahunnya pada malam ke-21 bulan Ramadhan.
Selikur artinya 21 yang mempunyai arti awal malam yang aneh di sepuluh hari terakhir, salah satunya adalah Lailatul Qadr. Malam ke-21 Ramadhan juga istimewa karena menandai turunnya Nabi Muhammad SAW dari Gua Hira di Jabal Nur setelah beliau menerima wahyu pertama (Al-Quran) dari Tuhan melalui malaikat Jibril pada hari ke-17 Ramadhan.
“Saat Nabi turun dari Jabal Nur pada malam gelap tanggal 21, 23, dan 25, para sahabat dan pengikutnya selalu membawa ubur-ubur untuk menyambut dan menerangi jalan pulang,” kata perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta yang acara tersebut, kata KPHA. . Sosronegoro.
“Karnaval lampu ting ini untuk mengenang dan melestarikan peristiwa nabi menerima wahyu pertamanya.”
Lampu ting juga menggambarkan cahaya seribu bulan yang menandakan turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Di dalamnya terkandung ajaran bahwa cahaya (Al-Qur’an)lah yang memberi petunjuk jalan bagi manusia untuk berjalan. Namun untuk mendapatkan cahaya itu, setiap muslim harus mempelajari dan mengamalkannya.
Lampu ting berupa teplok – lampu minyak dengan kaca semprong – yang dilengkapi pegangan untuk menyalakan arak-arakan. Namun saat ini panitia juga menggunakan petromax selain teplok.
Meski kini cahayanya diredupkan oleh lampu listrik di jalanan, pihak istana tetap memakainya sebagai bagian dari ritual agar tidak kehilangan makna Malam Blackjack. Selain lampu ting, beberapa abdi dalem juga membawa lampion berlambang Kasunanan Surakarta.
Sedangkan tumpeng sewu melambangkan sedekah Ramadhan dari Kasunanan kepada masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan menyambut malam Lailatul Qadar. Hal ini mencontoh kebiasaan para sahabat Nabi yang berlomba-lomba memberikan makanan sepulangnya Nabi dari Jabal Nur.
Tradisi Malam Selikuran merupakan salah satu wajah Islam Indonesia yang mewarisi semangat akulturasi Islam-Jawa versi Wali Songo dalam berdakwah. Para wali sengaja menghimpun massa dengan memasukkan risalah Islam ke dalam tradisi lokal yang sudah mengakar di masyarakat sebelum Islam masuk ke Pulau Jawa.
Raja-raja Dinasti Mataram meneruskan ajaran Wali Songo dengan tidak menghilangkan unsur Jawa dalam setiap perayaan hari besar Islam. Selain Malam Selikuran, pihak keraton juga memperingati Gerebek Gunungan pada hari Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha.
“Karnaval ini dimulai oleh Sultan Agung pada masa Mataram, kemudian kita lanjutkan hingga sekarang. “Jadi sudah ada lebih dari 350 tahun,” kata Sosronegoro.
Acara Blackjack Night ini melibatkan lebih dari 1.000 orang dari pihak keraton, 200 personel polisi, dan 150 orang dari pemerintah kota Surakarta. Karnaval juga dijaga polisi bersenjata lengkap di beberapa sudut jalan. —Rappler.com