Jack Ma bingung menerima tawaran menjadi penasihat komite e-commerce Indonesia
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Director of Public Affairs Alibaba kawasan Asia-Pasifik, Rico Ngai, mengatakan Jack Ma merasa terhormat bisa membantu Indonesia, namun mereka masih menunggu dokumen penawaran resmi dari pemerintah.
JAKARTA, Indonesia – Di sela-sela pertemuan negara-negara G-20 yang berlangsung pada 4-5 September di Hangzhou, Tiongkok, Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyempatkan diri mengunjungi kantor Alibaba. Dalam kesempatan itu, pemerintah Indonesia secara khusus meminta CEO raksasa e-commerce asal Tiongkok, Jack Ma, untuk menjadi penasehat komite pengarah e-commerce di Tanah Air.
Dewan pengarah e-commerce beranggotakan 10 menteri dan dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. Nantinya panitia akan bertugas melaksanakannya peta jalan perdagangan elektronik dibuat oleh pemerintah Indonesia.
Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, langkah ini diambil sebagai upaya menarik perhatian dunia internasional terhadap bisnis e-commerce di Indonesia. Langkah serupa juga dilakukan mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, yang menunjuk Jack Ma sebagai Penasihat Urusan Negara Ratu Elizabeth.
Lalu bagaimana reaksi Jack Ma? Apakah dia bersedia menerima tawaran itu? Juru bicara Alibaba mengatakan Jack Ma merasa terhormat bisa memenuhi permintaan Presiden Jokowi untuk membangun bisnis e-commerce di Indonesia.
Namun kami masih menunggu dokumen resmi penawaran, ujarnya menjawab pertanyaan Rappler yang mengunjungi kantor pusat Alibaba, Jumat, 5 September.
Sementara, untuk Reuters Juru bicara Alibaba mengatakan mereka belum bisa memastikan apakah Jack Ma akan menerima tawaran tersebut atau tidak.
Terlepas dari jawaban apa pun yang ia berikan, Jack Ma akan berada dalam posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, jika Jack Ma menerima tawaran tersebut, pengaruhnya akan semakin besar di bisnis e-commerce Tanah Air. Ia berpeluang mendorong pertumbuhan bisnis Alibaba di Indonesia, seperti AliExpress dan UC Web.
Pada 12 April, Alibaba juga mengakuisisi Lazada, yang merupakan salah satu perusahaan e-commerce terbesar di negara tersebut dan bermaksud untuk mengintegrasikan layanan pembayaran Alipay dengannya.
Hal ini menunjukkan bahwa Alibaba memiliki minat yang cukup besar terhadap pasar Indonesia.
Namun di sisi lain, tawaran kepada Jack Ma ini justru menuai kritik dari publik China. Mereka mengkritik Indonesia terkait kasus Mei 1998 dimana banyak warga etnis Tionghoa yang menjadi korban, serta polemik kedua negara terkait isu Laut Cina Selatan.
Sementara itu, beberapa warga Tiongkok menyampaikan aspirasinya kolom komentar di situs Sina, mendorong Jack Ma untuk menolak tawaran tersebut. Ada pula yang menyarankan agar Jack Ma menerima tawaran tersebut, lalu “merampok” uang Indonesia.
Menarik untuk ditunggu dan dilihat bagaimana kepastian kerja sama Jack Ma dan pemerintah Indonesia akan terus berlanjut. Akankah pemerintah Indonesia serius mengirimkan dokumen permintaan resmi? Mari menunggu. – dengan laporan oleh Uni Lubis/Rappler.com
*Artikel ini diterbitkan di Tech in Asia edisi 7 September
BACA JUGA: