5 Hal Tentang Prannoy, Sang “Pembunuh Raksasa” di Indonesia Open 2017
keren989
- 0
Kiprah performa Prannoy tak lepas dari bimbingan Mulyo Handoyo, mantan pelatih Taufik Hidayat.
JAKARTA, Indonesia – Indonesia Open 2017 benar-benar mengejutkan. Pasalnya pemain-pemain top mulai tumbang di ronde pertama.
Mulai dari ganda putra papan atas Indonesia Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi, Praveen Jordan/Debby Susanto hingga pemain tunggal putra asal Malaysia Lee Chong Wei. Namun, melalui Indonesia Open muncullah bintang-bintang baru. Salah satu yang menonjol adalah pemain tunggal putra India Prannoy HS
Tampaknya pemain yang tidak diunggulkan itu bisa melaju ke babak semifinal setelah membungkam pemain dunia seperti Chen Long dari China dan Lee Chong Wei dari Malaysia. Oleh karena itu tak heran jika masyarakat memberinya julukan “si pembunuh raksasa”.
Berikut fakta-fakta yang perlu Anda ketahui tentang pemain berusia 24 tahun tersebut:
1. Debut pertama
Lahir pada tanggal 17 Juni 1992, Prannoy resmi terdaftar sebagai anggota BWF pada tahun 2010. Turnamen pertama yang diikuti Prannoy adalah Grand Prix Syed Modi Memorial India Jaypee Cup 2009, di mana ia bermain di dua nomor yakni tunggal putra dan ganda putra.
Di sektor tunggal putra, perjalanan Prannoy baru sampai babak pertama karena dikalahkan rekan senegaranya Sai Praneeth B. dengan skor 17-21 dan 18-21.
Di sektor ganda putra, Prannoy berpasangan dengan Eshan Naqvi. Mereka berhasil lolos ke babak 8 besar sebelum dikalahkan oleh rekan senegaranya, Francis Alwin dan Sanker Gopan, dengan skor 16-21, 15-21.
2. Gelar pertama
Prannoy meraih gelar bulutangkis pertamanya saat berlaga di Summer Youth Olympics 2010 di Singapura. Pada turnamen ini ia meraih medali perak setelah kalah di final melawan Pisit Poodchalat, wakil Thailand, dengan skor 21-15, 21-16.
Pada tahun 2014, Prannoy meraih gelar Grand Prix pertamanya yakni Indonesia Masters setelah mengalahkan wakil tuan rumah Firman Abdul Kholik dengan skor 21-11, 22-20 di final. Dua tahun kemudian, Prannoy meraih gelar Super Series pertamanya di Swiss Open 2016. Pemain bertinggi badan 1,75 meter itu berhasil mengalahkan Marc Zwiebler dengan skor 21-18, 21-15.
3. Hancurkan rentetan kemenangan beruntun Chen Long
Tidak ada yang menyangka bahwa Chen Long bisa dikalahkan oleh pemain yang tidak memiliki peringkat. Apalagi hal itu terjadi di ajang seperti Indonesia Open.
Di babak perempatfinal, Prannoy berhasil membungkam Chen melalui rubber match dengan skor 21-18, 16-21, dan 21-19. Kemenangan ini berhasil memecahkan rekor tak terkalahkan Chen Long saat menghadapinya.
Kedua pemain ini sudah bertemu tiga kali sebelumnya. Namun Prannoy selalu kalah.
Sementara di babak 16 besar, ia juga berhasil mengalahkan pemain top lainnya yakni Lee Chong Wei dalam dua game berturut-turut. Lee kalah dengan skor 10-21 dan 18-21.
Pria yang diberi gelar “Datuk” oleh pemerintah Malaysia ini terlihat sangat kecewa saat mengetahui dirinya dikalahkan oleh Prannoy. Bahkan, saat Lee memberikan siaran pers, ia berusaha menyangkal ada sesuatu yang terjadi di lapangan.
“Apa yang sebenarnya terjadi bukanlah apa-apa yang terjadi,” kata Lee kepada media.
4. Pernah menduduki peringkat 12 dunia
Saat ini Prannoy berada di peringkat 25 dunia. Namun, itu bukanlah peringkat tertinggi yang pernah diraihnya.
Pada Juni 2015, Prannoy berhasil naik ke peringkat 12 dunia. Hal tersebut tak lepas dari performa baik yang ditunjukkannya di awal tahun tersebut.
Ia berhasil mencapai babak semifinal Kejuaraan Bulu Tangkis Internasional Syed Modi, babak 16 besar All England, babak 8 besar India Open, babak 16 besar Malaysia Open, babak 8 besar Singapore Open dan babak terakhir. 16 Kejuaraan Dunia BWF.
Sayangnya, setelah hasil menggembirakan tersebut, performa Prannoy justru menurun hingga peringkatnya turun ke posisi 20 di penghujung tahun 2015.
5. Murid Mulyo Handoyo
Di balik peningkatan performa Prannoy tahun ini, ada sosok pelatih yang patut diapresiasi atas prestasi Prannoy. Dialah Mulyo Handoyo, orang yang pernah membina Taufik Hidayat.
Di bawah bimbingan Mulyo, Taufik sukses meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004. Pelatih berkepala dingin ini memilih melatih tim bulu tangkis India setelah tak masuk dalam rencana Susi Suanti di Pelatnas Cipayung. Jadi apa yang terjadi seperti yang kita lihat sekarang.
Kualitas pemain tunggal putra India sedang naik daun. Prannoy sendiri menilai gaya kepelatihan yang dibawakan Mulyo Handoyo sangat bagus dan membuatnya mudah beradaptasi.
“Kami sekarang memiliki pelatih baru dan gaya latihannya sangat bagus. Saya rasa saya bisa beradaptasi dengan baik,” kata Prannoy kepada media. – Rappler.com