Pengacara menyoroti kejanggalan BAP saksi ahli
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Sebanyak 8 tanggapan dari dua saksi ahli BAP yang berbeda serupa, mulai dari kesalahan dan letak tanda baca.
JAKARTA, Indonesia – Tim kuasa hukum Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menyoroti kejanggalan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi ahli Mahyuni. Jawaban serupa, hingga salah ketik, mereka temukan pada BAP saksi ahli lainnya, Muzakkir.
Mahyuni sebenarnya berasal dari Mataram, sedangkan Muzakkir berasal dari Yogyakarta. “Ada dua BAP yang sama persis. “Pada poin 17 BAP ahli di halaman enam, pertanyaannya sama dan jawabannya sama dengan yang dijawab ahli lain,” kata kuasa hukum Ahok dalam sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Senin, 13 Februari.
Mahyuni kemudian menjelaskan, ada beberapa pernyataan yang sama terkait definisi. Ia mengaku tidak tahu menahu soal perjanjian tertulis tersebut.
“Kalau definisi adil itu sama persis, sumbernya juga sama. Jika ini kebetulan, saya tidak mengerti. Sebagai ilmuwan dan saya TIDAK Maklum, sama saja,” ujarnya saat sidang.
Ia juga membantah ada pihak yang menyuruhnya memberikan jawaban tertentu saat pemeriksaan. “Tidak ada. “Kecuali Pak Satrio yang membantu,” ujarnya.
Penasehat hukum pun mempertanyakan identitas Satrio kepada Mahyuni. Belakangan, dosen Universitas Mataram ini menyebut rekannya itu sebagai sesama pengajar di Universitas Indonesia yang kerap berkorespondensi dengannya.
Tak puas, penasihat hukum menegaskan akan mendalami perjanjian tersebut lebih dalam. Bahkan akan memasukkannya ke dalam permohonan mendatang.
Usai sidang, salah satu tim kuasa hukum Ahok, Humphrey R. Djemat, menjelaskan kesepakatan yang mereka temukan. Persamaan keduanya terdapat pada BAP masing-masing butir 18, 20, 25, 28, 30, 31, 32 dan 33.
“Apakah temannya (Satrio) yang diminta membantu mengetik, lalu diserahkan ke Bareskrim atau dikatakan semua sudah ada di komputer. Bagaimana bisa sama dengan ahli lainnya?” dia berkata.
Sementara itu, Mahyuni tetap bersikukuh dengan ketidaktahuannya. “Apakah itu suatu kebetulan, saya tidak tahu. “Tapi saya ditanya dan saya jawab,” ujarnya usai sidang.
Ia juga menjelaskan bahwa Satrio tidak membantunya mengetik. Menurutnya, itu hanya kesalahpahaman.
Soal kesamaan referensi, lanjutnya, bukan berarti jawaban saat ditanya Bareskrim akan menjadi referensi ahli berikutnya. Acuan yang dimaksud adalah kesamaan buku dan teori yang digunakan untuk mengkaji pernyataan Ahok.—Rappler.com