• March 23, 2026

Lomba kemerdekaan pemuda Joglo yang meriah

JAKARTA, Indonesia – Kegembiraan terdengar dari sebidang tanah berukuran sekitar 200 meter persegi. Di sanalah warga RT03/RW08 Joglo, Jakarta Barat, pada Kamis 17 Agustus 2017 menggelar lomba dalam rangka merayakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbeda dengan lomba panjat pinang pada umumnya, warga RT03 tidak mengadakan lomba panjat pinang. Lombanya juga tidak diadakan setengah hari, melainkan dari pagi hingga sore hari.

Lomba-lomba seperti makan biskuit, memasukkan pensil ke dalam botol, dan mengambil koin dalam melon tetap dilakukan, namun dengan peserta anak-anak. Selain itu juga dihias dengan permainan sepeda, memasang jarum, dan modifikasi lomba tas yaitu balap tas helm.

Dalam permainan ini, anak kecil naik ke dalam tas dan berjongkok, setelah itu tas diikat dengan tali rafia. Anak itu memakai helm wajah penuh. Permainan berlangsung dengan peserta berusaha mencapai garis finis secepat mungkin.

Tingkah laku anak-anak pun mengundang tawa. Pasalnya, para peserta berusaha dengan segala cara, mulai dari melompat, jongkok, hingga berguling. Lucunya lagi, karena para kontestan dalam posisi berjongkok di dalam tas yang diikat, mereka tidak bisa berdiri sendiri jika terjatuh atau terguling. Panitia juga harus membantu mereka bangkit kembali.

Selain anak-anak, panitia juga mengadakan lomba untuk remaja, ibu-ibu, dan ayah-ayah. Permainan yang disediakan juga bervariasi tergantung pesertanya. Untuk lomba bagi ibu-ibu misalnya ada lomba tata rias dan lomba minum kopi panas untuk bapak-bapak.

Ketua panitia acara, Tia Rahmawati menjelaskan, tidak ada alasan khusus dalam memilih kompetisi tersebut. Ia dan panitia hanya menyiapkan lomba-lomba yang minim dana, namun seru dimainkan dan mengundang gelak tawa.

“Saya akan mendaki setelah buah pinang ketujuh belas. Namun hal itu tidak jadi terjadi karena kami juga kesulitan pembiayaannya. Maka carilah kompetisi yang dananya murah. “Hasil lomba didiskusikan dengan panitia, yang umum, yang berbeda, yang unik, tapi seru,” kata Tia.

Dimotori oleh generasi muda

Uniknya lagi, seluruh panitia lomba merupakan anak-anak muda RT03. Padahal, umumnya panitia lomba 17-an adalah ketua RT dan warga setempat. Ketua RT03 Ahmad Sajjuman mengatakan, ada manfaat yang bisa diambil anak muda dengan menjadi panitia.

“Mereka belajar berorganisasi, belajar berbicara di depan umum, di depan banyak orang. Beda kalau kita ngomong sama orang seperti kita dan orang lain, kata Ahmad.

Hal ini pula yang mendorongnya untuk memberikan kesempatan kepada Tia dan teman-temannya. Selain itu, mereka juga merupakan generasi yang akan melanjutkan kepemimpinan di RT ini.

“Agar mereka belajar. Toh merekalah yang akan bekerja,” kata Ahmad.

Ia menambahkan, generasi muda lebih banyak memiliki ide kreatif dibandingkan generasi tua. Dengan cara ini, diharapkan terobosan-terobosan baru dapat dilakukan oleh generasi muda tersebut.

Tia menyambut positif keputusan Ahmad. Baginya, acara ini bisa menjadi pengalaman berorganisasi yang baik. Selain itu, kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi pemuda dalam perayaan kemerdekaan.

“Menurut pendapat pribadi saya, sebagai anak muda Anda harus berpartisipasi dalam hal-hal seperti ini. Bukannya kita yang tidak jelas, jalan-jalan ke luar, ke mall, atau semacamnya. “Jadi harus kita wujudkan juga di masyarakat,” ujarnya.

Warga pun menyampaikan penilaian positif. Salah satunya adalah Rodiyah. Ia mengatakan, kegiatan seperti ini dapat mempererat tali silaturahmi dengan tetangga dan membuat mereka lebih mengenal satu sama lain.

Bagi para peserta khususnya anak-anak, kompetisi semacam ini juga mempunyai nilai positif.

“Iya bagus. Anak belajar berani, belajar sportif, itu bagus,” ujarnya.

Perlombaan, bukan upacara

Selain perlombaan, upacara merupakan hal yang identik dilakukan dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, meski riuh arak-arakan sebagai perayaan kemerdekaan, warga RT03 tak menggelar upacara.

Meski demikian, Ahmad menyatakan ke depannya ia berencana menggelar upacara. Ini merupakan salah satu program yang ia harap bisa terwujud saat ia terpilih kembali menjadi ketua RT.

“Aku ingin melakukannya di masa depan. Ya mudah-mudahan bisa terlaksana,” ujarnya.

Merayakan kemerdekaan bukan sekadar kompetisi. RT03 mempunyai gaya yang menarik dalam penulisan sejarah perayaan kemerdekaan Indonesia. Pada dinding yang mengelilingi lahan kosong tempat diadakannya lomba tersebut, warga melukis logo resmi perayaan kemerdekaan Indonesia lengkap dengan slogannya.

Meski baru dimulai pada tahun 2015, saat Indonesia menginjak usia 70 tahun, warga berharap angka yang tergambar di sana akan terus bertambah, yang juga merupakan wujud umur panjang Indonesia.

“Dindingnya akan penuh. Nanti Anda akan menambahkan 73, 74, 75, dan seterusnya. “Bagus,” kata Ana, seorang warga. —Rappler.com

Togel Singapore Hari Ini