• March 21, 2026
Kantong senjata yang ada di Sudan terbukti bukan milik personel Indonesia

Kantong senjata yang ada di Sudan terbukti bukan milik personel Indonesia

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Kontingen 139 Polri akan kembali ke Indonesia setelah 15 Februari.

JAKARTA, Indonesia – Mabes Polri memastikan tas berisi puluhan senjata dan amunisi yang ditemukan di Bandara El-Fasher, Sudan, bukan milik personel kepolisian asal Indonesia. Berdasarkan laporan tim bantuan hukum Polri di Sudan, tidak ditemukan bukti yang mendukung bahwa senjata ilegal tersebut milik Satgas Garuda Bhayangkara yang tergabung dalam Unit Polisi Bentukan PBB (FPU) VIII.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengungkapkan, tim Korps Bhayangkara yang dipimpin Johanis Asadoma menggelar pertemuan dengan berbagai pihak di Sudan. Johanis pun membawa tim khusus untuk memberikan bantuan hukum kepada 139 anggota Satgas Garuda Bhayangkara. Akibat kasus ini, ratusan personel Polri yang sedianya dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 21 Januari terpaksa tertunda.

Jadi, letak titik, tas, pintu masuk, keluar masing-masing orang, kecil kemungkinan tas itu benar-benar milik FPU VIII, kata Rikwanto saat ditemui di Mabes Polri, Senin, 13 Februari.

Kapan mereka bisa kembali ke tanah air? Rikwanto mengaku belum bisa memastikannya. Hal ini tergantung pada keputusan PBB melalui United Nations African Union Mission (UNAMID). Meski demikian, Polri berupaya memastikan 139 personel Polri bisa kembali ke Indonesia setelah 15 Februari.

“Beberapa penyelidikan, penelitian masih dilakukan dan kita tinggal menunggu kesimpulannya. Informasi dari sana memperkirakan bisa dikembalikan setelah tanggal 15 Februari, ujarnya.

Investigasi masih berlangsung

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tak mau acuh dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Saat dikonfirmasi soal kepemilikan 10 peti berisi senjata dan amunisi, Retno mengatakan semuanya masih diselidiki.

“Kami masih belum tahu (mengetahui pemilik senjata). Investigasi masih berlangsung. Oleh karena itu kita menjaga asas praduga tak bersalah, kata Retno saat ditemui di Istana Negara, Senin, 13 Februari.

Untuk mempercepat proses penyidikan, mantan duta besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda ini mengaku terus berkomunikasi secara intensif dengan Menlu Sudan dan perwakilan Indonesia di New York dan Sudan. Terakhir, Retno berkomunikasi dengan Menlu Sudan pada 9 Februari.

“Saya ingin sampaikan kembali bahwa saya sangat mengapresiasi kerja sama yang ditawarkan Sudan untuk kasus ini, sehingga kasus ini benar-benar bisa dibuka secara transparan. Sudan juga setuju dan akan bekerja sama semaksimal mungkin dengan tim yang dikirim dari Indonesia, ujarnya.

Peristiwa itu bermula saat 139 personel FPU VIII yang terdiri dari personel Polri hendak kembali ke Indonesia usai menjalankan tugasnya di Darfur. Mereka sudah berada di Bandara El-Fasher untuk melakukannya mendaftar.

Namun tak jauh dari mereka ditemukan tas tak dikenal. Setelah diperiksa, di dalamnya terdapat puluhan senjata dan amunisi. Karena letaknya di dekat skuad Indonesia, pihak berwenang Sudan menuduh tas itu milik kontingen Polri. (BACA: Polisi Bantah Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia Coba Selundupkan Senjata dari Sudan)

Kontingen Indonesia berulang kali membantah senjata tersebut milik mereka. Namun pihak berwenang di Sudan melarang mereka meninggalkan bandara.

Menurut laporan media lokal, Tribun SudanKoper tersebut berisi 29 unit Kalashnikov, 4 unit senapan, 6 unit senjata jenis GM3, 61 jenis pistol, dan amunisi dalam jumlah besar. – Rappler.com

pengeluaran hk