• March 21, 2026

Wahyu dan Aslima: Kesetiaan cinta dalam ketidaksempurnaan

Wahyu Nugroho mengangkat istrinya dari kursi roda, menggendongnya keluar rumah, lalu mendudukkannya di atas sadel sepeda motor yang diparkir di teras rumahnya. Pria berusia 29 tahun itu menyalakan mesin sepeda motornya, sedangkan sang istri melaju di belakangnya sambil memeluk erat sang suami.

Istrinya, Aslima, tidak bisa bergerak tanpa kursi roda. Ia dilahirkan tanpa kedua kaki dan jari tangan kanannya cacat. Sejak masih bayi, perempuan berusia 30 tahun itu hidup hanya dengan separuh tubuhnya.

Kisah cinta mereka tidak biasa. Wahyu adalah segelintir pria di dunia ini yang rela menerima perempuan difabel sebagai pasangan hidupnya berdasarkan cinta, tanpa mempertimbangkan penampilan fisiknya.

“Bagi saya fisik bukanlah segalanya, saya jatuh cinta pada Aslima karena kebaikan dan ketulusannya,” kata Wahyu.

Keputusan ini membuat anggota keluarga dan teman-teman Wahyu menggeleng tak percaya dengan pilihan hidupnya. Bahkan, orang tua Wahyu tidak merestui hubungan mereka karena menganggap memiliki istri penyandang disabilitas akan menjadi beban.

Cinta dalam botol air

Benih cinta mereka bermula dari sebotol air minum. Suatu hari, Wahyu sedang menjual hasil kerajinan akar wanginya di sebuah pasar malam di Kudus, Jawa Tengah. Pemuda asal Semin, Gunungkidul itu melihat Aslima berjalan-jalan di pasar malam dengan kursi roda.

“Bagi saya fisik bukanlah segalanya, saya jatuh cinta pada Aslima karena kebaikan dan ketulusannya,” kata Wahyu.

Aslima tertarik dengan kerajinan tangan yang Wahyu jual, mereka lalu berbincang. Aslima memberinya sebotol air mineral karena melihat Wahyu kepanasan dan bercucuran keringat. Setelah itu, keduanya bertukar nomor telepon dan berkomunikasi secara rutin.

Aslima kemudian pindah ke Yogyakarta dan mengikuti pelatihan keterampilan di sebuah yayasan yang bekerja untuk penyandang disabilitas. Semakin pendek jaraknya, keduanya semakin sering bertemu dan akhirnya mulai berkencan.

Dua tahun kemudian, Wahyu ingin menikah dengan Aslima, namun kendala terbesarnya adalah orang tuanya sendiri yang tidak setuju dengan keputusannya. Aslima tidak pernah sakit hati dan menganggap sikap orang tua Wahyu itu biasa saja.

“Tentu setiap orang tua ingin menantunya sempurna. “Saya tidak mau menikah kalau tidak mendapat restu dari orang tua calon suami saya, tapi Mas Wahyu pantang menyerah,” kata Aslima.

Wahyu terus meyakinkan orang tuanya bahwa Aslima bukanlah beban baginya, melainkan tambahan dalam hidupnya. Ia melanjutkan, calon istrinya adalah wanita mandiri yang kesehariannya tidak bergantung pada orang lain.

Kegigihan Wahyu membangun mahligai bersama Aslima akhirnya meluluhkan hati orang tuanya. Keduanya mendapat lampu hijau dari orang tua Wahyu dan menikah pada 17 Mei 2010 di Kudus.

Pesta pernikahan tersebut digelar dengan meriah di kampung halaman Aslima. Pernikahan tersebut juga mengejutkan warga desa karena mereka ingin mengetahui siapa yang melamar gadis yang telah diberitahu oleh penduduk desa bahwa dia tidak akan pernah menikah.

Saat melihat Wahyu di pelaminan, banyak yang menyebut orang tua Aslima bahagia karena ada pria “normal” dan tampan yang bersedia menikahkan putri mereka. Namun tak sedikit pula yang bersikap sinis dan menganggap pernikahan hanya sekadar mencari sensasi. Mereka memperkirakan pernikahan tersebut tidak akan bertahan lama.

Pertimbangkan untuk tidak menikah

Di keluarga besarnya sendiri, Aslima dianggap tidak akan pernah menikah karena sulitnya mencari pasangan dengan keterbatasan fisiknya. Pada pernikahan kakak perempuannya, orang tua Aslimah diminta mengadakan upacara Tumplak Punjen, sebuah tradisi untuk menandai perayaan terakhir saat orang tua menyelesaikan tugas menikahkan seluruh anaknya.

Saat hampir digelar, sang ibu akhirnya memutuskan untuk menolak Tumplak Punjen, karena ingin terus menyemangati anak bungsunya meski ia sendiri tidak yakin Aslima suatu saat akan menemukan jodohnya.

“Ibu saya tidak mau mendahului nasib, karena pernikahan adalah urusan Tuhan,” kata Aslima.

Aslima penuh dengan ejekan orang-orang atas kondisi fisiknya, mulai dari bangku SD hingga SMA. Tapi dia tidak pernah marah atau menyesali hidupnya. Di sisi lain, perempuan yang selalu ceria dan senang bercerita ini semakin tegar dan menganggap kecacatan yang dimilikinya bukanlah sebuah hambatan melainkan sebuah tantangan hidup yang harus diatasi.

“Saya sering diberi uang oleh orang-orang yang kasihan pada saya di jalan. “Saya selalu menolak, karena hidup saya bukan untuk dikasihani,” kata Aslima.

Pemikirannya yang positif dan sikap optimisnya terhadap kehidupan membuat Aslima banyak berteman. Ia sering diundang menjadi motivator di berbagai acara di Yogyakarta untuk menceritakan pengalaman pahit hidupnya di masa lalu – terlahir tidak sempurna, dihina, diremehkan, kemudian dipaksa oleh anggota keluarganya sendiri untuk mengemis seperti pengemis di pasar untuk bekerja. – dan bagaimana cara mengatasinya.

Hidup mandiri

Sejak menikah, Wahyu dan Aslimah memutuskan untuk hidup terpisah dari orang tuanya. Keduanya kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Kaliurang, Sleman.

Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa mandiri. Aslima juga ingin hidup berkeluarga pada umumnya dan umumnya berperan sebagai seorang istri, melayani suami, mengurus rumah, dan membesarkan anak.

“Istri saya tidak ada bedanya dengan wanita lain yang tubuhnya lengkap. “Semua pekerjaannya bisa dia lakukan sendiri,” kata Wahyu.

“Tentu setiap orang tua ingin menantunya sempurna. “Saya tidak mau menikah kalau tidak mendapat restu dari orang tua calon suami saya, tapi Mas Wahyu pantang menyerah,” kata Aslima.

Aslima menyelesaikan pekerjaan rumahnya tanpa bantuan, mulai dari membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan mengasuh anak. Ia tak ingin keterbatasan fisiknya menghalanginya beraktivitas seperti perempuan lainnya.

Ia pun meminta Wahyu mengajarinya membuat kerajinan akar wangi agar bisa membantu suaminya dalam bekerja. Wahyu kini memiliki dua kios kerajinan dan cenderamata di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, berjarak sepelemparan batu dari bekas rumah juru kunci Merapi Mbah Maridjan yang kini menjadi salah satu destinasi wisata Merapi Lava Tour.

Aslima kerap menemani suaminya berjualan. Namun sejak anak keduanya lahir, ia hanya sesekali melihat ke warungnya karena lebih sibuk menjaga kedua anaknya.

Mitra yang setia

Wahyu di mata Aslima adalah laki-laki yang setia. Ia tak malu kemana-mana sambil menggendong istrinya di punggung saat tidak menggunakan kursi roda. Baginya, ketidaksempurnaan fisik istrinya bukanlah hal yang memalukan.

Terkadang kesabaran Wahyu memudar ketika ada yang mengolok-oloknya. Aslima-lah yang kemudian menenangkan emosi suaminya dan mengingatkannya untuk tidak peduli dengan penilaian orang lain.

Selama di rumah, Wahyu juga kerap membantu aktivitas rumah tangga. Ia mengasuh kedua putrinya – yang semuanya terlahir sempurna – terutama anak sulung yang sangat dekat dengannya.

Banyak orang yang menganggap Aslima adalah wanita yang beruntung karena menikah dengan pria normal dan setia. Namun bagi pasangan ini, keduanya sama-sama merasa sama-sama bahagia karena bisa memiliki satu sama lain.

“Kami saling melengkapi. “Saya melengkapi Mas Wahyu dan Mas Wahyu juga melengkapi kekurangan saya,” kata Aslima.

Pasangan ini saling percaya. Aslima tidak pernah khawatir suaminya berubah pikiran atau menjadi kembaran, begitu pula Wahyu terhadap istrinya.

Di antara mereka tidak ada lagi rahasia, tidak ada privasi dan tidak ada urusan yang tersembunyi. Kedua ponselnya bisa diakses secara leluasa oleh pasangannya, meski hanya memiliki satu akun media sosial, yang dijawab bergantian oleh Aslima dan Wahyu.

“Setelah menikah tidak ada lagi aku atau kamu. “Hanya ada satu, kita,” kata Wahyu.—Rappler.com

keluaran hk