• May 4, 2026
Liliyana Natsir mengincar gelar juara Asian Games 2018 sebelum gantung raket

Liliyana Natsir mengincar gelar juara Asian Games 2018 sebelum gantung raket

JAKARTA, Indonesia – Pebulu tangkis senior Liliyana Natsir hampir meraih seluruh gelar juara. Terbaru, atlet yang akrab disapa Butet itu akhirnya meraih gelar ganda campuran Indonesia Open bersama Tontowi Ahmad pada Minggu malam.

Bersama atlet yang akrab disapa Owi itu, Butet berhasil meraih medali emas di Olimpiade Rio, Brasil pada 2016. Mereka pun berhasil mencetak poin. tiga kali berturut-turut di kejuaraan tertua di dunia, All England. Dua bulan setelah berlaga di Olimpiade, mereka kembali meraih gelar Hong Kong Open.

Namun Butet rupanya ingin meraih satu gelar juara lagi sebelum resmi memutuskan gantung raket. Ia mengaku penasaran ingin meraih medali emas bersama Owi di Asian Games 2018.

“Saya ingin satu lagi gelar yang belum saya raih, yaitu di akhir karir saya ingin juara di Asian Games dan kebetulan Indonesia yang menjadi tuan rumahnya. “Kami memang meraih medali perak (di Asian Games), tapi kalau Indonesia menjadi tuan rumah, kami ingin memberikan medali emas,” kata Butet saat memberikan siaran pers, Minggu malam, 18 Juni.

Ia berharap, performa pasangan yang saat ini menduduki peringkat 9 dunia itu bisa terus berlanjut hingga tahun 2018. Laga bulutangkis kembali digelar di Istora Senayan pada Asian Games mendatang.

Turnamen Super Series Indonesia Open juga seharusnya digelar di sana. Namun hingga saat ini Istora Senayan masih terus direnovasi untuk persiapan perhelatan olahraga terbesar di benua Asia tersebut.

Di sisi lain, pemindahan venue Indonesia Open ke Jakarta Convention Center (JCC) Butet justru membawa keberuntungan tersendiri. Sebab, jika dirunut ke belakang, ia dan Owi selalu gagal meraih gelar juara di Indonesia Open. Hingga pemain berusia 31 tahun itu menyebut ada kutukan pada mereka saat bermain di sana.

Ternyata, saat lokasinya dipindahkan ke JCC, Butet berhasil mematahkan kutukan tersebut. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan anggapan bahwa Istora Senayan selalu menghantuinya selama ini.

“Seperti saya bilang, Istora terbukti menghantui saya. Kalau di JCC sepertinya TIDAK,” kata Butet yang disambut gelak tawa para jurnalis.

Lantas ketika tempat pertandingan dikembalikan ke Istora Senayan, apakah kutukan itu akan berlaku lagi? Butet menanggapinya dengan bercanda bahwa suasana dan interior Istora tergolong baru.

“Jadi auranya juga baru. “Tapi, apapun jadinya meski Asian Games digelar di Istora, tentu (lawan) harus bisa kita kalahkan,” ujarnya.

Jika sukses meraih gelar juara di Asian Games 2018, Butet mengaku mempertimbangkan untuk gantung raket. Cedera lutut yang dialaminya saat bermain di China Open 2016 masih menghantuinya.

“Saya akan cek kondisinya apakah memungkinkan atau tidak (untuk melanjutkan karir). Jika badan saya masih fit, saya mungkin akan terus (bermain), tetapi jika tidak, saya harus melihat perkembangan lutut saya ke depan. “Saya juga mempertimbangkan stamina saya,” kata Butet.

Namun, cedera yang dideritanya hampir setahun terakhir tidak membuatnya kehilangan gelar juara. Bersama Owi, Butet berhasil menjuarai turnamen All England dan Indonesia Open.

Bagi ganda campuran papan atas, kemenangan di Indonesia Open 2017 dinilai sangat berharga karena berhasil memenuhi harapan PBSI untuk meraih gelar juara. Meski pamor juara di Olimpiade Brasil lebih tinggi, namun kemenangan di kandang sendiri justru memberikan suntikan semangat baru. Apalagi kondisi cedera Butet yang belum pulih 100 persen.

“Masih ada kepuasan tersendiri meraih kemenangan di Indonesia Open karena kemenangan di kandang sendiri bisa disaksikan langsung oleh keluarga, teman, dan penggemar bulutangkis. Apalagi mereka ingin Owi/Butet menang di kandang sendiri, ujarnya.

Bahkan, menurut Butet, mereka lebih tegang saat mempersiapkan diri menuju Olimpiade tahun lalu. Tekanan yang begitu kuat mereka rasakan hingga berat badan Butet turun.

Jangan pernah menyerah

Mengomentari lawannya di final Indonesia Open, Owi/Butet mengaku perjuangan mereka tidak mudah. Usia Zheng Siwei/Chen Qingchen yang masih sangat muda dibandingkan Owi/Butet membuat mereka leluasa bergerak.

Butet pun mengaku staminanya sulit bersaing dengan pemain ganda campuran yang saat ini menduduki peringkat satu dunia.

“Mereka adalah pasangan muda pembakaran. Jika dilihat dari rangkingnya, mereka menduduki peringkat satu dan kini menjadi andalan China. Kami bertemu sekali pada tahun 2014 dan kalah dari mereka. “Dengan kemenangan kami, saya pikir kami kembali ke skor 0-0,” kata Butet.

Sebelum masuk final, Owi/Butet mempelajari betul video penampilan Chen/Zhen. Poin dalam set diakui sebagai kemenangan yang ketat. Ganda campuran Tiongkok tak mau menyerah.

“Tapi ya, kami terus fokus. Seperti yang saya katakan kemarin, kami akan tampil maksimal dan Segalanya. Apapun hasilnya, kami akan bahagia. “Tetapi jangan menyerah sebelum pertandingan mencapai angka 21. Itu yang kami pikirkan saat berkompetisi,” ujarnya.

Hasil tak sia-sia, Owi/Butet berhasil mengalahkan Chen/Zhen dua set langsung pada laga yang digelar Minggu malam 18 Juni dengan skor 22-20 dan 21-5.

Bergabunglah dengan Australia Terbuka

Usai menjuarai Indonesia Open 2017, Owi/Butet tak bisa bersantai karena langsung menghadapi turnamen lain yakni Australia Open yang digelar di Sydney pekan ini. Sedianya Owi/Butet berangkat pada Minggu malam pukul 20.00 WIB. Namun karena masih harus bermain di final, pemberangkatannya ditunda.

“Penerbangan ditunda hingga Senin. Sejauh ini belum ada keputusan mundur (dari Australia Terbuka). Semoga menggambar“Ini hari Rabu, karena kami baru datang pada Selasa pagi,” kata Butet.

Dengan proses penentuan lawan yang dilakukan pada Rabu nanti, keduanya bisa mendapat libur satu hari untuk memulihkan diri. Namun jika tidak, maka mereka terpaksa berangkat pada Selasa malam.

“Kami masih berharap bisa bermain pada hari Rabu, jadi ada sedikit waktu pemulihan. “Padahal saya mungkin tidak bisa kembali dengan cepat,” ujarnya. – Rappler.com

HK Prize