• April 8, 2026

Ke-12 calon kepala daerah tersebut berasal dari dinasti politik

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Bahkan ada calon kepala daerah yang memiliki keterkaitan dengan terpidana kasus korupsi.

JAKARTA, Indonesia – Koalisi Pilkada Skoon menemukan sedikitnya 12 calon kepala daerah yang berasal dari dinasti politik dan akan maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun ini.

Fenomena politik dinasti akan terjadi pada Pilkada Serentak 15 Februari 2017. Diketahui total 12 calon kepala daerah di 11 daerah berasal dari dinasti politik yang didirikan di daerahnya masing-masing, kata koordinator Clean Koalisi Pilkada Almas Sjafrina dalam siaran persnya, Sabtu, 14 Januari.

Berikut daftarnya:

Almas mengatakan, bahkan ada calon kepala daerah yang memiliki keterkaitan dengan terpidana kasus korupsi.

Andika Hazrumy bahkan punya hubungan dengan terpidana kasus korupsi yang sedang menjalani hukuman penjara, yakni (mantan Gubernur Banten) Atut Chosiyah, kata Almas.

Andika sebelumnya menjabat sebagai anggota DPR RI 2014-2019. Ia dicalonkan menjadi wakil gubernur oleh DPD Partai Golkar Banten yang diketuai Tatu Chasanah, adik Atut.

Sementara di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pasangan Noormiliyani dan Rahmadian Noor merupakan kerabat Hassanudin Murad, Bupati Barito Kuala yang tidak bisa mencalonkan diri kembali karena menjabat dua periode.

Noormiliyani yang sebelumnya menjabat Ketua DPRD Kalsel merupakan istri Hasanuddin. Sedangkan Rahmadian Noor yang sebelumnya menjabat anggota DPRD Barito Kuala merupakan sepupu Hasanuddin. Keduanya diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Selanjutnya, Atty Suharti merupakan calon Wali Kota Cimahi saat ini yang kini ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus penerimaan suap Rp500 juta terkait proyek pembangunan Pasar Atas Baru Cimahi tahap kedua. .

Atty merupakan istri Wali Kota Cimahi periode 2002-2007. Ia dicalonkan oleh Partai Nasdem, Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

‘Dinasti politik dekat dengan korupsi’

Almas mengatakan dinasti politik merupakan sesuatu yang dapat mengancam demokrasi di Indonesia.

“Masalah utama dinasti politik adalah kontrol atas sumber daya dan dampaknya yang melemahkan checks and balances di pemerintahan, apalagi ketika dinasti telah merebut kekuasaan eksekutif dan legislatif,” ujarnya.

“Masalah inilah yang membuat dinasti dekat dengan korupsi.”

Terlebih lagi, dinasti politik, baik sebagai kepala daerah maupun anggota DPR atau DPRD, menjadikan jabatan tersebut dengan segala kewenangannya sebagai alat bagi dinasti tersebut untuk memperoleh akses terhadap sumber daya ekonomi.

“Dinasti politik juga membutuhkan dana yang besar untuk mempertahankan kekuasaan dan jaringannya di partai, organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan simpul politik lainnya. “Kedua hal ini menciptakan potensi korupsi yang lebih besar di kalangan anggota dinasti politik,” kata Almas.

Menurutnya, satu-satunya cara untuk mematahkan dinasti politik adalah dengan pemilih yang selektif dan cerdas dalam menentukan pilihannya pada pilkada mendatang.

“Pemilih harus melihat rekam jejak calon, termasuk rekam jejak keluarga yang terafiliasi dengan calon. Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah dinasti politik peserta pemilu bermasalah atau berpotensi melakukan tindak pidana korupsi atau tidak, kata Almas.

Jika suatu keluarga dari kelompok dinasti pernah atau sedang terlibat kasus korupsi, maka sudah selayaknya masyarakat tidak memilihnya demi menyelamatkan demokrasi dan kepentingan masyarakat luas agar permasalahan korupsi tidak terulang kembali di daerahnya. . .

Selain itu, untuk meminimalisir terjadinya dinasti politik pada pemilu mendatang, pencalonan partai politik tidak boleh berada di tangan ketua umum, melainkan diputuskan oleh rapat pengurus anggota melalui mekanisme demokratis dan memperhatikan kemampuan serta integritas. calonnya,” kata Almas. —Rappler.com

BACA JUGA:

uni togel