• March 20, 2026
Wanita Manado mengoreksi pernyataan bahwa dia diperkosa

Wanita Manado mengoreksi pernyataan bahwa dia diperkosa

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

STC diduga mengubah pernyataannya karena diintimidasi oleh pelaku. Meski demikian, Polda Gorontalo menyebut pernyataan tersebut disampaikan STC tanpa ada paksaan.

GORONTALO, Indonesia – STC, perempuan Manado yang mengaku diperkosa 15 pria tiba-tiba mengoreksi pernyataannya. Perempuan berusia 19 tahun itu mengaku kepada Polda Gorontalo bahwa dirinya tidak pernah diperkosa.

Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP Bagus Santoso mengatakan STC telah mencabut laporannya dan kasus ini akan segera ditutup.

Tidak ada tindakan pemerkosaan terhadap saya, kata STC yang didampingi ibunya, RS, di Polres Gorontalo, Selasa, 7 Juni.

Pernyataan koreksi tersebut disampaikan STC usai proses konfrontasi yang dilakukan Polda Gorontalo. Selain itu, STC juga membantah menggunakan jasa Novie Kolinug SH sebagai penasihat hukum.

Novie yang hari itu berada di Polres Gorontalo memilih tak mencantumkan namanya di berkas berita acara pemeriksaan (BAP). Kliennya pun mengaku tidak merasa terintimidasi oleh polisi sehingga memberikan keterangan berbeda.

STC mengatakan dia dalam keadaan sehat fisik dan mental saat memberikan pernyataan tersebut.

“Apa yang diberitakan di beberapa media, bahwa ada tindakan pemerkosaan terhadap saya, tidak benar,” kata STC lagi.

Sementara itu, Polda Gorontalo kini menunggu hasil kasus terkait penggunaan narkoba yang saat ini masih dilakukan di Bareskrim Mabes Polri. Bagus berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan kasus tersebut.

Mari kita selesaikan secara hukum dan jangan membuat pernyataan yang bertentangan dengan fakta hukum, kata Bagus.

Diintimidasi oleh polisi

Usai pemeriksaan, STC dan ibunya kembali ke Manado. Menurut kuasa hukum korban, Novie Kolinug SH, STC mengubah pernyataannya karena mendapat intimidasi dari polisi.

Tentang media, Novie mengatakan, proses intimidasi terjadi saat korban dihadang di Polda Gorontalo pada 6-7 Juni. Saat itu, kata Novie, STC menemui 8 pria diduga pelaku pemerkosaan di ruang reskrim Polres Gorontalo. Proses konfrontasi tidak dilakukan di ruang PPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak).

Selama proses konfrontasi STC tidak didampingi siapapun. Entah dari keluarga, psikiater, atau polisi wanita. Alasannya tidak dikabulkan penyidik ​​polisi.

“Korban (akhirnya) mengalami depresi psikologis,” ujarnya.

Ia menduga ada kejanggalan dalam penyelesaian kasus tersebut, yang disampaikan oleh 15 pria, termasuk petugas polisi, kepada STC.

“Saya menduga ada keinginan SP3 dalam kasus ini. Makanya saya tidak mau menandatangani hasil konfrontasi saat itu, ujarnya.

Kehadiran intimidasi juga dibenarkan oleh Ny. STC, RS. Dia mengatakan putranya sering menerima SMS dari salah satu tersangka, sehingga dia menjadi takut.

Sementara itu, Polda Gorontalo membantah STC tidak didampingi saat proses konfrontasi. Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP Bagus Santoso mengatakan, pengacaranya juga ada di ruangan itu. Padahal, sebelumnya ibu korban, RS, ada di ruangan itu.

Namun ibu korban harus ditidurkan di ruang pemeriksaan karena terus mengintervensi korban agar mengakui telah terjadi tindakan pemerkosaan, kata Bagus kepada Rappler melalui pesan singkat.

Setelah orang tuanya keluar dari ruang pemeriksaan, STC bisa leluasa menyampaikan keluh kesahnya dan mengaku tidak pernah menjadi korban pemerkosaan. Kasus pemerkosaan ini sebenarnya sudah diberitakan sejak Januari lalu. Beberapa pelaku rupanya adalah petugas polisi.

Namun polisi lamban menindaklanjuti kasus tersebut. Hasil otopsi baru keluar 3 bulan kemudian dan kasus tersebut baru diketahui media pada bulan Mei. Lantas bagaimana kasus ini akan berakhir? – Rappler.com

BACA JUGA:

pengeluaran hk hari ini