Benarkah Istana Perintahkan Mahasiswa Demo di Depan Rumah SBY?
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Partai Demokrat mengecam setiap aktor politik yang menipu dan memanipulasi mahasiswa untuk berdemonstrasi di depan kediaman SBY.
JAKARTA, Indonesia – Kediaman mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan tiba-tiba digerebek sekitar 500 mahasiswa pada Senin sore sekitar pukul 14.30 WIB. Mereka diduga merupakan peserta Persahabatan Pelajar Indonesia di perkemahan Cibubur yang berlangsung pada 4-6 Februari. (BACA: Rumahnya Digerebek Massa, Curhat SBY di Twitter)
Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar.
“Kami mengecam setiap aktor politik yang menyesatkan dan memanipulasi mahasiswa demi kepentingan dan tujuan politik jangka pendek. Faktanya, sebagian besar mahasiswa yang diajak berdemonstrasi tidak mengetahui bahwa rumah yang mereka datangi adalah kediaman presiden ke-6 RI, kata Rachland Nashidik, Juru Bicara Partai Demokrat, dalam sebuah pernyataan. pernyataan tertulis. Senin sore, 6 Februari.
Partai Demokrat juga menyayangkan adanya demonstrasi di depan kediaman SBY yang dilindungi undang-undang. Jika mahasiswa ingin protes, kata Rachland, bisa dilakukan di kantor DPP Partai Demokrat.
“Kami terbuka untuk berdialog dan mengakui bahwa protes damai adalah hak konstitusional kita semua,” katanya.
Partai Demokrat pun mengaku kaget dengan lambatnya aparat kepolisian melakukan tindakan preventif. Bahkan, informasi ajakan aksi di depan kediaman SBY sudah beredar di media sosial sejak beberapa hari terakhir.
“Apakah polisi tidak bisa atau dengan enggan menjalankan tugasnya melindungi presiden keenam Republik Indonesia? Kapolri harus memberikan penjelasan,” kata Rachland.
Diundang ke kediaman SBY
Sementara itu, Koordinator Jambore dan Temu Mahasiswa asal wilayah Jakarta, Mufti Arif membenarkan adanya indikasi acara di perkemahan Cibubur untuk menggerebek kediaman SBY. Padahal, acara tersebut awalnya diadakan untuk menciptakan rasa keberagaman.
Namun kemudian berubah menjadi tindakan (tamparan rumah) dari SBY. Ada yang memprovokasi mereka untuk menggerebek kediaman SBY,” kata Arif saat dihubungi Rappler melalui telepon, Senin sore, 6 Februari.
Akibatnya, karena konsep acara yang tidak jelas, beberapa mahasiswa mengundurkan diri dari acara di Cibubur. Menurut Arif, ada mahasiswa lebih dari 10 provinsi yang memutuskan pulang lebih awal pada Minggu 5 Februari.
“Mahasiswa yang mengundurkan diri antara lain berasal dari Jakarta, Aceh, Jambi, Cirebon, dan Pulau Sulawesi. “Jumlah pastinya (yang mundur) saya belum tahu,” ujarnya.
Tolak mengarahkan massa
Sementara itu, saat dikonfirmasi di Istana Negara, Teten Masduki membantah ada instruksi pemerintah yang memerintahkan mahasiswa yang menggelar jambore dan silaturahmi di Cibubur untuk menyerang kediaman SBY.
“TIDAK sana (arah). Bahwa saya juga hadir dalam acara pagi itu dan diminta menyampaikan beberapa kemajuan selama dua tahun pemerintahan. “Iya, biasanya permasalahan yang dihadapi mahasiswa saat berdialog lebih banyak pada dana desa, pemberantasan korupsi, HAM, pertanian dan lain-lain,” kata Teten kepada media, Senin, 6 Februari.
Mantan aktivis antikorupsi itu membantah ada provokasi. Sebab, melakukan provokasi di depan ribuan mahasiswa merupakan tindakan kriminal.
“Tidak ada provokasi. Itu adalah pertemuan terbuka yang dihadiri lebih dari seribu mahasiswa. Siapa yang berani memprovokasi masyarakat sebanyak itu?” dia berkata.
Teten pun meyakinkan, standar keamanan eks presiden tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, sudah menjadi tugas negara untuk melindungi.
“Sampai saat ini, mantan presiden mendapat keamanan dari pemerintah. “Mereka masih memiliki pengawal dan asisten,” ujarnya. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com