• March 23, 2026
Pengetahuan mendalam tentang feminisme dan perjuangan kesetaraan gender

Pengetahuan mendalam tentang feminisme dan perjuangan kesetaraan gender

FemFest 2017 akan digelar di SMA 1 PSKD, Jakarta Pusat, pada 26-27 Agustus

JAKARTA, Indonesia — Menyusul Women’s March yang sebelumnya digelar pada Maret tahun ini, Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) kembali menggelar Festival Feminis yang akan digelar pada 26-27 Agustus di SMA 1 PSKD, Salemba, Jakarta Pusat.

Ketua Panitia FemFest 2017, Anindya Restuviani mengatakan, acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai feminisme dan permasalahan lintas sektoralnya.

“Acara ini juga ingin mengajak peserta untuk lebih aktif berpartisipasi dalam gerakan dan memperjuangkan Indonesia berkeadilan gender,” kata Anindya kepada Rappler.

“Indikator kesetaraan gender bukan hanya sekedar jumlah anak perempuan yang bersekolah, atau jumlah perempuan karir di Indonesia, namun pilihan dan peluang yang diberikan kepada kita semua.”

Ia mengatakan feminisme dapat membantu kita sebagai masyarakat Indonesia untuk memenuhi hak atas keadilan gender dan membebaskan setiap orang untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Sayangnya, menurut Anindya, belum banyak masyarakat yang memahami feminisme karena rendahnya pendidikan mengenai feminisme di Indonesia.

Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, mungkin sudah banyak memahami tentang feminisme dan kesetaraan gender. Namun hal ini tidak serta merta terjadi di daerah kecil yang mempunyai pandangan buruk terhadap feminisme.

“Indikator kesetaraan gender bukan hanya sekedar jumlah anak perempuan yang bersekolah, atau jumlah perempuan profesional di Indonesia, namun pilihan dan peluang yang diberikan kepada kita semua,” ujarnya.

Acara ini sendiri memilih generasi muda sebagai sasaran utamanya. Alasannya karena generasi muda adalah penerus bangsa, oleh karena itu nilai-nilai feminisme sebaiknya ditanamkan pada diri mereka. Namun yang tetap diharapkan adalah masyarakat umum dapat benar-benar memahami feminisme dan kesetaraan gender.

Banyak kegiatan yang telah disiapkan agar peserta dapat lebih memahami feminisme dan perjuangan kesetaraan gender, antara lain 15 diskusi panel, presentasi dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas, serta pameran poster Women’s March Jakarta.

Selain itu, juga akan ada 30 pembicara yang akan membahas isu-isu ekofeminisme, kesehatan seksual dan reproduksi, kekerasan berbasis gender dan isu-isu lainnya.

Acara ini mendapat banyak dukungan dari puluhan LSM seperti Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan (KAPAL), Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) dan Peace Women Across the Globe (PWAG).

Feminist Fest 2017 juga menghadirkan 10 feminis dari Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur untuk berbagi pengalaman. Kesepuluh feminis tersebut tidak hanya berasal dari kalangan perempuan saja, namun juga terdapat laki-laki di dalamnya.

FemFest membuka ruang dialog

Menurut Direktur Lembaga Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan (KAPAL), Misiyah, pentingnya pendidikan feminis di masyarakat juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi penindasan berbasis gender.

“Dalam masyarakat yang saat ini semakin tertutup akibat menguatnya ideologi konservatif, diperlukan suatu gerakan yang mampu membuka ruang dialog untuk mengungkap penindasan berbasis gender yang tersembunyi, bahkan terselubung,” kata Misiyah.

Ia mengatakan, perempuan yang menjadi korban utama penindasan dikonstruksikan untuk diam. Pada akhirnya, tidak banyak orang yang memperhatikan hal ini. Terkadang ada juga yang menganggap permasalahan yang dihadapi perempuan adalah hal yang tidak penting dan wajar.

Edukasi tentang feminisme sendiri idealnya dilakukan langsung kepada masyarakat dan juga menumbuhkembangkan pemimpin perempuan. Bahkan Misiyah mengatakan, yang ideal adalah memasukkannya ke dalam pendidikan formal. Namun hal itu dianggap sangat sulit.

Bukan hanya soal pendidikan, namun memperjuangkan feminisme itu sendiri juga tidak mudah. Situasi politik, hukum, dan budaya di Indonesia saat ini menjadi penyebabnya.

“Ada tiga akar permasalahan utama yang menghambat perjuangan feminis; Yakni menguatnya politik identitas berdasarkan nilai-nilai konservatif, produk hukum yang diskriminatif, dan tetap kuatnya budaya berbasis sistem patriarki, kata Misiyah.

Bagi anda yang ingin mendaftar untuk menghadiri FemFest 2017, silahkan berkunjung www.femfest.id. —Rappler.com

BACA JUGA:

Togel SDY