• April 18, 2026
Seorang warga negara Italia yang diculik oleh kelompok bersenjata Filipina telah dibebaskan

Seorang warga negara Italia yang diculik oleh kelompok bersenjata Filipina telah dibebaskan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Rolando del Torchio dibebaskan setelah membayar uang tebusan kepada kelompok bersenjata di Filipina selatan.

JAKARTA, Indonesia – Seorang warga negara Italia bernama Rolando del Torchio yang disandera kelompok bersenjata Filipina akhirnya dibebaskan pada Jumat malam, 8 April. Pria yang dulunya bekerja sebagai misionaris lalu beralih profesi menjadi pengusaha ini dibebaskan setelah dipenjara lebih dari enam bulan.

del Torchio diculik oleh sekelompok pria bersenjata dari restoran pizza miliknya di kota Dipolog pada 7 Oktober 2015. Pelaku kemudian diketahui merupakan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF).

Belakangan, del Torchio dibawa ke Pulau Sulu yang merupakan markas Kelompok Abu Sayyaf (ASG).

Sumber intelijen mengatakan kepada Rappler, personel polisi setempat yang dipimpin Kapolri Wilfredo Cayat menemukan pria berusia 57 tahun itu di Pelabuhan Jolo sekitar pukul 19.30 waktu setempat.

Menurut sumber intelijen, del Torchio bisa dibebaskan setelah membayar uang tebusan. Menurut sumber intelijen, anggota kelompok Abu Sayyaf menyanderanya di Pulau Sulu.

Personel polisi dan anggota Penjaga Pantai kemudian menemaninya dengan perahu menuju Kota Zamboanga.

del Torchio akan dibawa ke pusat trauma militer karena kondisi kesehatannya memburuk.

Del Torchio sebelumnya adalah misionaris di Institut Kepausan untuk Misi Luar Negeri (PIME) Vatikan. Ia lahir di kota Angera, Italia utara, dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1984.

Pada tahun 1988, del Torchio ditugaskan ke kota Sibuco, Zamboanga, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Dia tinggal di sana sampai tahun 1996.

Del Torchio kemudian pindah ke Dipolog dan bekerja dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membantu petani. Dia bilang dia sangat suka tinggal di Dipolog sehingga dia memutuskan untuk menetap di sana dan membuka restoran pizza bernama UrChoice.

Belum ada keputusan

Sementara itu, nasib 10 awak kapal Brahma 12 asal Indonesia masih belum jelas nasibnya. Jumat 8 April merupakan batas waktu yang ditetapkan kelompok Abu Sayyaf untuk menyerahkan uang tebusan sebesar 50 juta peso atau setara Rp 14,2 miliar.

Namun sejak sore tadi, pejabat Kementerian Luar Negeri masih bungkam saat dimintai keterangan mengenai masalah tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir bahkan menyebut tidak pernah ada batasan waktu seperti yang diberitakan media.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung siang tadi mengatakan, kondisi 10 WNI dalam keadaan sehat. Pemerintah Indonesia juga mengetahui keberadaan 10 WNI dari pantauan satelit.

Namun, Pramono mengingatkan, personel militer Indonesia yang disiagakan tidak bisa hanya dikerahkan ke Filipina bagian selatan. Karena tidak sesuai dengan konstitusi pemerintah Filipina.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia terus melakukan negosiasi dan menggunakan jalur diplomasi. Pramono sebelumnya menegaskan pemerintah menolak membayar uang tebusan yang diminta Abu Sayyaf.

Namun tentunya kami berharap pemerintah Filipina dapat menindaklanjuti, melakukan pendekatan dan sekaligus dapat membebaskan WNI yang saat ini disandera, kata Pramono. – Rappler.com

BACA JUGA:

Toto HK