• March 22, 2026
Gajah sumatera menghadapi ancaman penyakit herpes

Gajah sumatera menghadapi ancaman penyakit herpes

JAKARTA, Indonesia – Kehidupan gajah sumatera di Indonesia tidak hanya terancam oleh perburuan gading. Namun, herpes juga merupakan wabah yang mematikan.

Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes endotheliotropik gajah (EEHV).

“(Virus ini) dapat menyebabkan pendarahan hebat dan kematian, terutama pada gajah muda,” kata Wahdi Azmi dari Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu 19 Juni.

Saat ini perhatian pemerintah Indonesia dan Uni Eropa tertuju pada EEHV. Dalam dua tahun terakhir, ada 3 bayi gajah yang menjadi korban di Tangkahan, Sumatera Utara. Padahal, kelahiran bayi gajah merupakan hal yang sangat sulit dan ditunggu-tunggu.

Virus ini menyasar gajah berusia 1-8 tahun, dan waktu kematiannya cenderung cepat; hanya 1-2 hari setelah gejala penyakit seperti pendarahan muncul.

Pendanaan untuk penelitian vaksin

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk EEHV, padahal pengobatan dini sangatlah penting.

“Tentu saja tidak aneh jika tidak ada obatnya. “Ini penyakit hewan, bukan penyakit komersial bagi perusahaan obat,” kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend.

Uni Eropa telah mengalokasikan dana kepada perusahaan medis Indonesia untuk membuat obat penawar virus EEHV. Tetapi Wali enggan menyebutkan jumlahnya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tachrir Fathoni mengatakan, pemerintah juga berupaya melindungi gajah.

“Kami sudah mendengar dari para ahli bahwa sejauh ini obatnya belum bisa dibuat. Butuh penelitian dan bantuan keuangan. “Saya pikir ini juga mencakup bagaimana kita bisa menciptakan obat antiherpes kita sendiri untuk menyelamatkan hewan kita,” katanya Tachrir.

Dalam 3 tahun terakhir, telah lahir 16 bayi gajah. Sedangkan korban meninggal mencapai 146 orang.

Pemerintah telah mengetahui keberadaan penyakit ini sejak tahun 1995, namun belum mengalokasikan dana khusus untuk EEHV.

Menurut Tachrir, saat ini ada program penyelamatan 25 spesies yang populasinya harus ditingkatkan 10 persen dalam jangka waktu 5 tahun.

“Tapi tidak tahun ini, mungkin tahun depan akan diberikan,” ujarnya. Namun dana tersebut bukan berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), melainkan sumbangan swasta dan internasional, termasuk Uni Eropa.

Pemerintah juga akan segera mencatat kematian gajah akibat EEHV dari tahun ke tahun, untuk memetakan langkah pencegahan ke depan.

Film Dokumenter ‘Selamatkan Raksasa Kita’

Salah satu upaya Uni Eropa untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit ini adalah melalui film dokumenter pendek bertajuk Selamatkan Raksasa Kita. Aktor Nicholas Saputra tampil dalam tayangan berdurasi 6 menit ini.

“Gajah sangat penting bagi ekosistem. “Kami berharap film ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan membantu menyelamatkan raksasa hutan ini,” kata Guerend.

Selain itu, Uni Eropa juga mengadopsi dua bayi gajah yakni Aras dan Europa dari Tangkahan pada tahun 2015.

Film tersebut menampilkan keindahan alam CRU Tangkahan, serta keseharian warganya sais gajah (pawang) dan gajah disana. Wahdi mengatakan, tujuan utama pembentukan CRU adalah untuk menyelesaikan konflik antara manusia dan gajah.

Nicholas Saputra yang sudah tidak asing lagi dengan kawasan tersebut mengatakan, sebagian besar pawang dan pemandu wisata di sana dulunya adalah pemburu liar. “Setelah mereka mengenyam pendidikan dan mendapat pekerjaan, mereka justru menjadi ranger nomor satu,” kata Nicholas.

Salah satu pawang Joni Rahman mengatakan kedekatan manusia dan gajah di Tangkahan sangat terlihat jelas. Setiap hari mereka menemani hewan bertangkai panjang ini bermain, bahkan memandikannya di sungai.

“Gajah itu sifatnya mirip dengan manusia, cara bermainnya dan lain sebagainya,” kata Joni. Sebab, kematian gajah karena penyakit atau perburuan menyisakan luka yang sangat dalam.

Angka kematian gajah tergolong tinggi

Hingga saat ini angka kematian gajah sumatera masih tinggi. Dalam 3 tahun terakhir, telah lahir 16 bayi gajah. Sedangkan pada periode yang sama, angka kematiannya mencapai 146 individu.

Penyebabnya masih sama yaitu perburuan liar dan konflik dengan manusia. Hutan tempat tinggal gajah telah diubah menjadi perkebunan atau pemukiman, sehingga meningkatkan intensitas pertemuan. Belum lagi, warga kerap menganggap gajah sebagai hama karena memakan tanaman di kebun.

“Jika Anda tidak membunuhnya, Anda akan meracuninya,” kata Wahid. Untuk tahun ini saja, jumlah gajah sumatera yang tersisa sebanyak 1.700 ekor yang berada di kawasan lindung.

Guerend mengatakan Indonesia masih perlu mengambil tindakan hukum terhadap penyelundup gading dan pemburu gajah. “Implementasi itu penting. “Saya kira dengan dibakarnya hasil perburuan liar memberikan kesan yang baik bahwa satwa tersebut tidak bisa dimiliki begitu saja,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia juga berencana menjadikan kawasan tempat manusia dan gajah bertemu dan berkonflik menjadi lebih ramah hewan. “Nantinya kami akan membuat koridor khusus untuk area penyeberangan gajah. “Kalau tidak bisa dikonservasi, maka itu kawasan ekosistem penting,” kata Guerend.

Masyarakat setempat juga akan diajarkan cara menangani gajah. Membunuh dengan racun atau ditembak tidak lagi menjadi pilihan. “Nanti saja diperbaiki,” katanya.

Menurut Guerend, penting untuk menjaga keberlangsungan hidup gajah. Pasalnya raksasa ini membutuhkan makanan dan tempat tinggal yang sangat luas. Jika hal ini terpenuhi, maka hewan kecil lainnya seperti harimau dan orangutan otomatis tidak akan kekurangan lingkungan hidup maupun konsumsi. —Rappler.com

Togel Hongkong Hari Ini