• March 21, 2026

Tembakan Antasari Menghantam SBY, Apa yang Terjadi dengan Agus Yudhoyono?

JAKARTA, Indonesia – Banyak pihak yang mengejek kebiasaan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan keterangan pers, bahkan men-tweet lewat akun Twitter-nya, setiap kali ada isu yang menyangkut namanya.

Selasa sore, 14 Februari, sehari jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang juga digelar di Provinsi DKI Jakarta, SBY tergoda menanggapi pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar .

Antasari mengungkapkan, pengusaha sekaligus pemilik media, Hary Tanoesoedibjo, diutus Cikeas untuk meminta mertua SBY, Aulia Pohan, tidak ditahan KPK pada 2008.

Namun, saat Antasari menggelar jumpa pers di Kantor Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan di kawasan Gambir, Jakarta, Antasari tak membeberkan bukti apa pun soal pertemuannya dengan Hary Tanoe.

Apakah dia merekam pertemuan itu? Apakah ada yang menjadi saksi pertemuan tersebut? Bagaimana Antasari bisa membuktikan SBY memerintahkan Hary Tanoe? Padahal, jika memang ada rapat dan benar Hary Tanoe meminta agar Aulia Pohan tidak ditahan, apakah Antasari bisa memutuskannya sendiri tanpa persetujuan pimpinan KPK lainnya?

Semuanya masih menjadi misteri dan masyarakat tinggal menebak-nebak kartu apa saja yang dimainkan mantan jaksa ini. Sasarannya jelas: SBY.

Dan seperti yang kita duga, SBY pun terpancing untuk menjawab. Sebaliknya, berikan komentar singkat dengan mengatakan: “Tidak ada foto, tipuan,Seperti yang biasa dilontarkan netizen di media sosial, SBY mengaitkan tudingan Antasari dengan politik pilkada yang melibatkan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Sejumlah warganet pun ramai mengkritik SBY yang mudah “heboh” atau membawa perasaan saat menyikapi konferensi pers Antasari.

Menurut saya, orang yang sudah 10 tahun menjabat presiden seperti SBY tidak bisa dianggap remeh. Dia mencapai dan mempertahankan kekuatan itu dengan strategi yang berhasil. Jadi, sah-sah saja jika ada yang mengatakan kecenderungan SBY untuk “bersemangat” adalah bagian dari strateginya.

Dalam persoalan persaingan politik, ada banyak contoh ketika strategi menjadi korban (mempermainkan korban) sukses. SBY naik ke tampuk kekuasaan antara lain karena dianggap menjadi korban kritik kubu Megawati Soekarnoputri yang menjabat presiden saat itu.

Tak cukup dengan cuitan, SBY juga menggelar jumpa pers pada Selasa malam di kediaman barunya, kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Di titik ini saya mempertanyakan, apakah cara reaktif ini bagian dari strategi, atau ketidakmampuan menahan emosi, karena tuduhan Antasari dilontarkan sehari sebelum Pilkada?

Kita semua paham, Pilkada Jakarta kali ini merupakan proyeksi dari Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019. Berjuang dan menang sekarang, atau kehilangan momentum yang berharga. Bagi SBY, pertaruhannya lebih berat dan bersifat pribadi.

Siapa yang diuntungkan dengan manuver Antasari?

Jika SBY menjadi sasaran perantara untuk menurunkan kredibilitas putranya, Agus, maka yang diuntungkan dari manuver Antasari adalah pasangan petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Tapi, mari kita lihat kejadian ini. Pada 23 Januari 2017, Antasari mendapat pengampunan dari Presiden Joko “Jokowi” Widodo berupa pengurangan masa hukuman. Tiga hari kemudian, tepatnya 26 Januari 2017, Antasari diterima Presiden Jokowi di Istana Negara.

Presiden Jokowi merupakan sosok yang rutin mengundang tamu, termasuk berbagai kalangan masyarakat, ke Istana. Namun undangan kepada terpidana pembunuh yang baru saja menyelesaikan masa hukumannya cukup istimewa.

Setelah keluar dari hotel gratis, Antasari tampak terburu-buru. Sehari setelah bertemu Jokowi, ia menghadiri debat resmi calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta seri kedua. Antasari duduk paling depan, di kelompok kursi pendukung pasangan Ahok-Djarot.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengaku pihaknya mengundang Antasari untuk menghadiri debat pilkada. Dalam wawancara dengan Kompas TV sehari setelah debat, pada 28 Januari 2017, Antasari menyatakan akan bergabung dengan PDIP pada Februari 2017. PDIP merupakan partai pengusung Ahok-Djarot.

Melihat Antasari duduk di barisan depan pendukung Ahok-Djarot, saya jadi teringat manuver calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sengaja mengundang sejumlah perempuan yang sempat menuduh mantan Presiden Bill Clinton melakukan pelecehan seksual saat Clinton masih menjabat. kekuasaan, untuk menghadiri perdebatan.

Rencana Trump akan menempatkan perempuan di kursi barisan depan untuk mengalihkan perhatian lawannya, Hillary Clinton—istri Bill.

Menurut saya, kehadiran Antasari pada debat kedua tidak banyak berpengaruh terhadap kinerja Agus-Sylvi. Dibandingkan dua paslon lainnya, duet ini terkesan lemah, terutama pada sosok Sylvi, satu-satunya calon perempuan di Pilkada DKI. Namun Antasari yang aktif mengikuti wawancara media dinilai menjadi kendala yang bisa menurunkan kredibilitas Agus. Antasari dinilai bebas melakukan hal tersebut setelah mendapat pengampunan dari Jokowi.

Selasa sore, 14 Februari, Juru Bicara Kubu Agus-Sylvi, Rachland Nashidik mengatakan, “Dia (Antasari) sedang mengikuti Jambore Mahasiswa yang pesertanya disuruh protes di depan kediaman SBY. “Dia juga mendapat pengampunan dari Jokowi, dan Presiden juga menolak mematuhi hukum untuk memberhentikan sementara Ahok dari kursi Gubernur DKI.”

Tentu saja pihak Istana membantah tudingan dirinya yang memimpin demonstrasi di depan kediaman SBY.

(BACA: Benarkah Istana Perintahkan Mahasiswa Demo di Depan Rumah SBY?)

Tanpa manuver Antasari, performa Agus-Sylviana justru menurun belakangan ini. Popularitas Agus-Sylvi naik signifikan dan menduduki peringkat kedua setelah Ahok, bahkan ada survei yang menempatkannya di peringkat pertama. Ketertarikan Agus di usianya yang masih muda dan parasnya yang dinilai menarik membuat popularitas dan elektabilitasnya semakin meningkat.

Namun, setelah debat seri pertama apalagi yang kedua, popularitas Anies-Sandi mengungguli Agus-Sylvi. Pada Februari lalu, sejumlah survei menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi berada di peringkat ketiga.

Melihat pemilu di Amerika Serikat, dapat diasumsikan bahwa survei politik tidak dapat menjamin bahwa hasilnya akan sama pada hari pemilu. Ada persentase pemilih yang belum menentukan pilihannya. Ada yang mungkin tidak menjawab seperti yang akan diputuskan di bilik suara.

Namun jika melihat trennya, besar kemungkinan Pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran, dan tidak akan mengikutsertakan pasangan Agus dan Sylvi pada putaran berikutnya.

Nah, di saat pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi berjuang keras memenangkan Pilkada dalam satu putaran, Agus-Sylvi berjuang hingga Rabu pagi, 15 Februari, untuk memastikan lolos ke putaran kedua. Tembakan Antasari beberapa jam sebelum bilik suara dibuka jelas meresahkan masyarakat. Kegaduhan yang ditimbulkan dan dilihat pemilih melalui pemberitaan di media massa dan perbincangan di media sosial dinilai mempengaruhi preferensi pemilih yang belum mengambil keputusan.

Memantau hasil pilkada

Manuver Antasari yang diyakini pendukung Ahok-Djarot itu menjadi keributan terakhir yang kita saksikan jelang hari pencoblosan. Terdapat 100 daerah lainnya yang menyelenggarakan pilkada serentak pada 15 Februari 2017. Pilkada DKI Jakarta menarik perhatian luar biasa dengan suhu politik yang panas pula.

Jika pilkada berlangsung dua putaran, bisa dibayangkan gesekan politik akan berlangsung hingga pemungutan suara kedua pada 19 April 2017. Potensi kenaikan suhu akibat kampanye yang melibatkan isu SARA semakin besar. Politik identitas menjadi semakin menonjol. Hal ini sebenarnya merupakan fenomena global, tidak hanya di Indonesia.

Setelah melalui proses yang menghabiskan begitu banyak tenaga dan menimbulkan luka antar manusia dan kelompok di masyarakat, kita harus mempersiapkan diri untuk menyaksikan hasil pilkada. Bukan sekadar mengawasi penghitungan atau tayangan ulang, melainkan mengawasi pemerintahan ibu kota selanjutnya, siapa pun pemenangnya.

Kecenderungan mengidolakan pemimpin politik, baik presiden, gubernur, walikota, dan bupati, menurut saya berbahaya karena melemahkan daya kritis kita sebagai warga negara.

Ini juga menjadi catatan penting bagi media. Pemberian cek kosong kepada penguasa memberikan peluang bagi mereka untuk mengisinya sesuai keinginan dan mencairkannya kapan saja demi kepentingan melanggengkan kekuasaannya. Hal ini kita alami di era Soeharto.

Sangat penting untuk memastikan bahwa para pemimpin yang kita pilih memiliki pola pikir untuk mendengarkan dan mempertimbangkan suara warga negara dalam mengambil keputusan publik. Hormati hak asasi warga negara. Tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku daripada banyak menggunakan diskresi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Ibu kota yang menjadi etalase negara juga harus dijalankan dengan semangat pluralisme dan memberikan tempat bagi seluruh warganya tanpa terkecuali. Kota yang secara berkelanjutan mendukung kehidupan semua orang. Hal yang tak kalah penting untuk dipertahankan setelah berjuang memenangkan calon kepala daerah. Pastikan mereka menepati janjinya. —Rappler.com

result hk