• March 21, 2026
Kisah sebuah kota yang ingin lepas dari stigma

Kisah sebuah kota yang ingin lepas dari stigma

Bisakah PSG akhirnya mendapatkan pengakuan sebagai kota sepak bola yang memenangkan pertandingan?

JAKARTA, Indonesia – Sejak kapan Paris harus selalu mengalah dan mengatakan bahwa mereka bukan kota sepak bola? Jika sepak bola menjadi alat untuk membangun metafora suatu identitas tertentu, maka Paris ingin terus mengukuhkan bahwa mereka juga merupakan kota yang memiliki otoritas sepak bola.

Saat Otoritas Investasi Qatar (QIA) menggelontorkan miliaran rupiah ke ibu kota Prancis dengan membeli Paris Saint-Germain (PSG) pada 2011, majalah sepak bola asal Inggris Empat Empat Dua segera berteriak.

“Paris memang kota cinta. Tapi bukan kota yang mencintai sepak bola,” tulis mereka dalam salah satu laporannya.

Menyebut Paris sebagai kota sepak bola memang agak aneh. Terutama di tingkat Eropa. Padahal, kota yang lebih fanatik terhadap olahraga si kulit bundar adalah Marseille. Sebuah kota di tenggara Perancis yang lebih padat penduduknya dengan imigran.

Tak heran jika PSG tertinggal jauh dalam hal prestasi. Padahal Marseille dan PSG adalah duopoli Ligue 1. Le Klasik. Semacam Real Madrid melawan Barcelona dari Spanyol, tetapi pada tingkat yang berbeda.

Namun, klub-klub ibu kota tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Orang-orang Phocia. Mereka menjuarai Liga Champions dan mengoleksi lebih banyak gelar Ligue 1 dan Coupe de France.

Marseille ibarat sosok manusia yang memandang sepak bola sebagai olahraga ideologis. Memainkannya seperti persoalan hidup dan mati. Menjadikannya pelampiasan hal-hal yang tidak bisa mereka ungkapkan di tengah kerasnya wilayah selatan.

Sebaliknya, bagi PSG, sepak bola tidak pernah mencapai level ideologis. Ini bukan masalah hidup dan mati.

Kehadiran QIA yang membeli klub tersebut menyempurnakan stigma bahwa Paris bukanlah kota yang menyukai sepak bola. Mereka membeli sepak bola. Agar masyarakat mengakui bahwa mereka memang kota yang punya wibawa dalam sepak bola.

Dalam olahraga ini, sejarah tidak bisa terkubur begitu saja dalam waktu. Ia akan terus mengikuti perjalanan klub. Ikuti dia terus-menerus seperti bayangan.

Seperti yang dikatakan Hunter Shobe saat dia menulis Tempat, Identitas dan Sepak Bola: Catalonia, Catalanisme, dan Klub Sepak Bola.

“Olahraga dan stadion digunakan untuk membangun rasa tempat dan rasa kebangsaan,” ujarnya.

“Olahraga dimobilisasi untuk menghasilkan identitas dominan yang dikaitkan dengan tempat,” lanjutnya.

Ide yang ingin disampaikan dari akuisisi QIA dan kedatangan begitu banyak bintang di kota tersebut adalah gairah mereka ke sepak bola. Mereka ingin membangun tim Eropa yang hebat dari inti pemikiran Eropa.

Tetapi gairah Hal hebat ini juga disertai dengan efek samping lain: keinginan untuk mendapatkan hasil instan.

Jadi kisah PSG adalah kisah sebuah kota yang sangat ingin diakui sebagai kota sepak bola, namun terus-menerus gagal mencapainya. Besarnya dana yang digelontorkan selama 5 tahun terakhir tidak sebanding dengan sekedar menjadi raja rumah tangga.

Dan kisah PSG juga merupakan kisah tim yang selalu sial di Liga Champions. Karena mereka selalu bertemu tim yang paling dihindari semua peserta: Barcelona.

Sebab, untuk kesekian kalinya bertemu Barcelona, ​​​​PSG berada dalam situasi orang javu. Mereka mengancam hanya akan memperkuat gagasan di atas.

Kalaupun ingin lepas dari stigma itu, mereka harus bisa berkembang melawan Barcelona. Setidaknya, yang tidak kalah memalukannya di kandang sendiri, Parc de Princess.

Tentu saja, upaya untuk melakukan hal itu sangatlah sulit. Unai Emery bukanlah ahli Liga Champions. Ia lebih nyaman di kasta bawah, Liga Europa, di mana ia meraih dua gelar bersama Sevilla.

Begitu pula dengan tim yang kini lebih mengandalkan pemain muda akademi PSG. Dari semua orang berdiri dalam barisanpaling banyak hanya Thiago Motta dan Maxwell yang memelihara Si Telinga Besar.

Bagi Barcelona, ​​Liga Champions sejatinya ibarat arena bermain. Luis Enrique memenangkan gelar Liga Champions di musim pertamanya sebagai pelatih. Sementara itu, pasukannya pasti sudah berpikir jika tidak menjuarai Liga Champions tahun ini, paling-paling mereka akan juara tahun depan.

Apalagi, di Divisi Primera kali ini, Real Madrid sepertinya punya kans lebih besar untuk meraih gelar juara. Keuntungannya adalah mereka bisa lebih fokus pada ajang Eropa dibandingkan memikirkan trofi domestik.

Tentu saja ini menjadi kabar buruk bagi PSG. – Rapper.com

Data Sydney