• April 8, 2026

Pengalaman mereka dikenang oleh Wiji Thukul

JAKARTA, Indonesia – pemeran aktivis film biografi Wiji Thukul, Kata Istirahat, masing-masing memiliki cerita tersendiri sebelum dan sesudah syuting. Mereka tak sungkan membagikan cara memperdalam karakternya, bahkan menghidupkannya dalam adegan.

Sutradara Yosep Anggi Noen memang punya kriteria khusus dalam memilih aktornya.

“Aktor-aktor yang saya pilih benar-benar menguasai ruang. Jika Anda hanya mengandalkan ekspresi wajah, Anda akan melakukannya gagalkata Anggie saat menggelar jumpa pers di Jakarta, Senin, 16 Januari.

Film yang mengangkat kisah hidup penyair Pelo ini akan mulai tayang di bioskop pada Kamis 19 Januari mendatang.

Bagi Anggi, salah memilih aktor tidak akan membuat filmnya sukses. Ia sendiri mengandalkan tembakan jarak jauh. Jadi, aktor yang hanya mengandalkan ekspresi wajah akan kesulitan menyampaikan makna.

Dalam film ini, sebagian besar aktornya berlatar belakang teater, seperti Gunawan Maryanto yang terkenal dengan Teater Garasi; Marissa Anita dari Pemain Jakarta; dan Eduwart Boang Manalu dari Teater Populer.

Mungkin satu-satunya pemain yang belum bersentuhan dengan dunia akting adalah musisi Melanie Subono.

Lantas bagaimana kisah para pemain tersebut dalam proses produksinya? Kata Istirahat?

Marissa Anita

Awalnya Marissa dihubungi Anggi karena kepiawaiannya berbahasa Jawa.

Saat itu ada WA (pesan WhatsApp) dari Anggi yang menanyakan: ‘Kamu bisa bahasa Jawa?’, kata perempuan yang juga sempat aktif di dunia jurnalistik itu.

Setelah Marissa menjawab pertanyaan tersebut, Anggi lalu mengajaknya terlibat. Namun tidak seperti Siti Dyah Sujirah alias Sipon, istri Wiji. Namun perannya kecil sebagai tetangganya.

Dia kemudian menerima tawaran itu. Proses pelatihan telah dimulai. Hal pertama yang ditonjolkan Anggi adalah cara berjalan Marissa yang terkesan kental sebagai warga kota.

“Saya belajar dari pengalaman nenek saya, karena nenek saya besar di kota. “Saya besar di kota, jadi referensi yang saya ingat dari kecil ada di kampung nenek saya,” kata Marissa. Ia pun mengenang kembali kenangan bermain di kota Surabaya.

Dia ingat bagaimana semua orang berinteraksi, hingga hal terkecil seperti hidangan apa yang dibuat hari itu. “Aku menyalakannya kembali,” katanya.

Selain itu, ia juga berkonsultasi mengenai logat daerah bersama Gunawan Maryanto yang berperan sebagai Wiji Thukul yang merupakan lawan mainnya. Aksen Jawa Timur yang dikenalnya pasti berbeda dengan logat Sipon yang berasal dari Solo, Jawa Tengah.

Namun, bukan berarti ia meniru Sipon sepenuhnya. Anggi berpesan untuk tidak melakukan plagiat karena keduanya adalah individu yang berbeda.

“Secara fisik juga sangat berbeda. Anggi bilang, saya tidak boleh meniru, tapi menafsirkan, akunya.

Dari nasihat tersebut, Marissa mulai meneliti berbagai literatur tentang Sipon dan Wiji. Dari situ dia menebak wanita seperti apa yang ingin dia tunjukkan. Selama itu ia tidak pernah bertemu dengan wanita yang ia perankan.

“Saya belum pernah bertemu Bu Pon,” kata Marissa.

Setelah menyelesaikan syuting, dia mengatakan bahwa Sipon adalah wanita yang luar biasa kuat. Kepedihan dan kesedihan yang ia tunjukkan dalam film tersebut hanyalah sebagian kecil dari apa yang dirasakan Sipon.

“Itulah sebabnya aku tidak melakukannya percaya diri, bukan berarti peran saya sempurna,” ujarnya. Ia sendiri mengaku kerap merasa emosional saat syuting.

Salah satu adegan yang membuatnya terkesan adalah adegan terakhir antara Wiji dan Sipon. Menghadapi kemarahan dan kebingungan istrinya, Wiji hanya bisa diam dan tidak berbuat apa-apa.

“Adegan ini juga lama, 10 menit!” kata Marissa. Ia sendiri enggan membeberkan langsung apa yang dibicarakan saat itu karena takut bocornya isi film tersebut. Namun, kata kuncinya adalah “rumah”atau pulang dalam bahasa jawa.

Anggi sendiri sejak awal memang berniat memberikan peran Sipon kepada Marissa. “Dia pintar dan tahu memanfaatkan ruang,” kata Anggi.

Melanie Subono

MELANIE SUBONO.  Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Keluarga Wiji Thukul bukanlah sosok asing bagi Melanie yang juga seorang aktivis kemanusiaan. Fajar Merah dan Fitri Nganthi Wani, kedua anak Wiji, ia kenal baik. Padahal, Melanie bekerja di organisasi yang sama dengan adik aktivis tersebut, Wahyu Susilo.

“Mereka diundang duluan,” kata Melanie. Ajakan itu bahkan bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.

“Melanie, kami ingin membuat film tentang Wiji, kamu ikut terlibat ya?” kata putra promotor musik Adrie Subono itu mengulangi ajakan tersebut. Pertama lewat Fajar lewat telepon, lalu Fitri lewat aplikasi mengobroldan terakhir oleh Wahyu saat ditemui di kantor.

Setelahnya, Melanie bertemu dengan tim produksi untuk mendapatkan gambaran lebih jelas. Dia tidak tahu siapa Anggi karena film bukan dunianya.

Kesibukannya sebagai musisi juga membuat Melanie tak sering menghadiri pembacaan naskah. Dari 4 kali dia datang hanya sekali. Ia juga jarang bertemu langsung dengan Ida, wanita yang ia perankan.

“Itu hanya melalui video. “Kami juga pernah bertemu langsung satu kali,” kata Melanie. Namun peran ini tidak sulit untuk dilakukan karena kesamaan karakter. Ida sebenarnya bukan wanita feminim, mirip dengan karakter Melanie.

Satu-satunya perbedaan yang dia rasakan adalah pengetahuannya tentang Wiji. Ida, istri Martin Siregar yang merupakan rekan aktivis, tidak mengetahui siapa bule yang ditampung di rumahnya. Sedangkan Melanie sangat mengetahui siapa Wiji.

Meski demikian, tak sulit bagi Melanie untuk berakting di film gaptek tersebut. “Soalnya ini juga interpretasi saya sendiri,” ujarnya.

Bagi Melanie, itu adalah pengalamannya selama produksi Kata Istirahat sangat menarik Cara ini, lanjutnya, bisa menjadi cara tersendiri dalam memperjuangkan hak asasi manusia.

Ia mengaku tak keberatan diminta berakting di film bergenre serupa. “Rasanya aku menelan kata-kataku sendiri, kalau tak mau main film,” akunya.

Jika film ini berhasil menghidupkan kembali proses hukum Wiji dan aktivis lainnya yang sempat terhenti, menurut Melanie akan menjadi luar biasa. Baginya, anak muda saja akhirnya tahu siapa Wiji setelah menontonnya Kata Istirahat.

“Saat ini banyak anak muda yang suka memakai kaos Che Guevara. “Mereka harusnya tahu, ada tokoh seperti itu dari Indonesia,” ujarnya.

Eduwart Boang Manalu

Saat diajak berakting di sebuah film Kata Istirahat, Edo mengaku belum mengetahui siapa Wiji Thukul itu. Dia baru menelitinya setelah dia setuju untuk memainkan peran tersebut.

“Saya tidak tahu sama sekali, saya baru tahu tahun 1998 orang tua dilarang keluar rumah,” kata Edo.

Untuk memperdalam karakternya, selain penelitian, Edo juga meminta untuk bertemu langsung dengan Martin Siregar, karakter yang ia perankan dalam film tersebut. Pria berdarah Batak ini merupakan aktivis yang menampung Wiji selama mengungsi ke Pontianak.

Kesan pertama yang didapat Edo adalah Martin adalah sosok yang rendah hati. “Juga, jangan melakukan kesalahan apa pun saat menampung Wiji. “Orang-orangnya menyenangkan,” katanya.

Film biografi Wiji Thukul berjudul Kata Istirahat akan tayang serentak di bioskop di 15 kota mulai Kamis, 19 Januari.

Penonton bisa menyaksikan momen-momen Wiji kabur ke Pontianak, Kalimantan Barat, sejak dinyatakan buron pada 27 Juli 1996.—Rappler.com

BACA JUGA:

uni togel