
#Animasi: Selamat Tahun Baru 2017!
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Terompet Tahun Baru telah ditiup. Kembang api diluncurkan, lampu warna-warni menerangi malam terakhir tahun 2016. Begitu pula jagung bakar yang disantap bersama orang tersayang. Kami mengadakan pesta tadi malam untuk menyambut Tahun Baru 2017.
Namun, setelah tahun berganti, tidak ada salahnya untuk mengambil langkah mundur sejenak untuk melihat kembali apa yang terjadi di satu tahun terakhir.
Bukan sekadar mengenang, tapi juga mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi.
Dua minggu pertama tahun lalu, kita dikejutkan dengan ledakan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Setidaknya dua bom meledak di kawasan ini. Selain itu juga terjadi baku tembak antara polisi dan pelaku teroris. Akibatnya, 8 orang meninggal dunia dan 25 lainnya luka-luka.
Sebanyak 12 orang kemudian ditangkap. Dari keterangannya, polisi mendeteksi keterlibatan pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia, Bahrun Naim.
Hampir 11 bulan setelah penyerangan, polisi menyergap kelompok terduga teroris di Bekasi dan Tangsel. Dari Bekasi, polisi menemukan bom di dalamnya penanak nasi. Sedangkan bom aktif ditemukan 6 bom di Tangsel.
Dari kedua kelompok tersebut, polisi kembali menemukan jejak Bahrun Naim. Dia dilaporkan meminta mereka untuk meledakkan diri saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Perintah ini datang dari Suriah.
Untungnya, jaringan ini berhasil dibongkar sebelum ditindaklanjuti. Perayaan Natal juga berjalan dengan aman dan perayaan Tahun Baru pun demikian. Kinerja kepolisian – khususnya Seksi Khusus (Densus) 88 Antiteror – dalam mencegah gerakan teroris patut diacungi jempol.
Namun pekerjaan rumah polisi belum selesai. Mereka belum bisa menangkap Bahrun Naim. Sebab meski berada di Suriah, Bahrun terbukti mampu memobilisasi sel teroris di Indonesia.
Rentetan aksi teror yang terjadi pasca bom Sarinah dan penyergapan kelompok Bekasi dan Tangsel kemungkinan besar ada kaitannya.
Selain itu, ketangkasan polisi dalam mencegah aksi teroris juga harus dibarengi dengan sikap tegas terhadap ormas yang kerap memiliki sikap intoleran.
Kita tahu bahwa sepanjang tahun 2016 cukup banyak terjadi tindakan intoleransi. SETARA Institute menghitung setidaknya ada 182 pelanggaran kebebasan beragama.
Kasus terbaru adalah pembubaran kegiatan KKR di Gedung Sabuga Bandung dan aksinya menyapu dilakukan sejumlah ormas di berbagai kota. Kasus intimidasi terhadap komunitas LGBT juga belum mereda.
Oleh karena itu, ketegasan aparat terhadap kelompok atau ormas intoleran sangat diperlukan. Rencana Kementerian Dalam Negeri untuk mengatur ormas-ormas tersebut juga patut mendapat dukungan.
Karena intoleransi adalah langkah awal menuju radikalisme – bahkan terorisme. Membiarkannya tumbuh di masyarakat ibarat membuat bom waktu.
Selain terorisme dan intoleransi, permasalahan penting lainnya yang disorot dalam setahun terakhir adalah kasus penodaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
Ahok dinilai melakukan penodaan agama lewat komentarnya pada Surat Al-Maidah ayat 51 saat berkunjung ke Kepulauan Seribu pada 27 September.
Saat ini, kasus tersebut masih berlanjut di pengadilan. Kita tunggu saja apa yang akan diputuskan majelis hakim di akhir persidangan.
Jika Ahok terbukti bersalah, maka Ahok akan menjadi orang kesekian yang menjadi korban pasal penodaan agama, yakni pasal 156 huruf a KUHP.
Banyak orang yang terjerat kasus ini. Misalnya saja Tajul Muluk di Sampang yang divonis 4 tahun penjara karena dianggap menista agama karena beragama Syiah.
Revisi, bahkan mungkin pencabutan, pasal ini diperlukan. Agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Juga agar masyarakat bisa lebih leluasa menafsirkan teks agamanya.
Seseorang tidak boleh dipenjara hanya karena mempunyai penafsiran yang berbeda dengan penafsiran mayoritas. Sebab penafsiran ajaran agama tidak bisa dimonopoli oleh satu kelompok saja.
Peristiwa lain yang perlu mendapat perhatian adalah jatuhnya helikopter TNI pada 24 November. Helikopter Bell-412 EP jatuh di jurang di Malinau, Kalimantan Utara.
Ini merupakan helikopter TNI ketiga yang jatuh sepanjang tahun ini. Dua helikopter lainnya jatuh di Poso pada 20 Maret dan di Yogyakarta pada 8 Juli. Sedikitnya 16 tentara tewas dalam dua insiden tersebut.
Selain ketiga helikopter tersebut, satu pesawat Hercules milik TNI juga jatuh pada 18 Desember di Wamena, Papua. Sebelumnya, TNI juga kehilangan pesawat Super Tucano yang jatuh di Malang pada Februari lalu.
Sebanyak tiga helikopter dan dua pesawat TNI jatuh sepanjang tahun ini. Sehingga sudah saatnya alat utama sistem senjata (alutsista) dievaluasi.
Pasalnya anggaran Kementerian Pertahanan meningkat sebesar 154,8 persen pada periode 2010-2017. Pada tahun 2010, anggaran pertahanan sebesar Rp 40 triliun. Tahun ini anggarannya bertambah menjadi Rp 108,7 triliun.
Tahun ini, anggaran Kementerian Pertahanan masih sebesar Rp108 triliun. Dari jumlah tersebut, dana yang dialokasikan untuk modernisasi alutsista sebesar Rp8,4 miliar.
Dengan anggaran Meskipun demikian, kami tentu saja tidak mengharapkan adanya peremajaan besar-besaran pada peralatan pertahanan. Oleh karena itu, evaluasi terhadap alutsista yang ada perlu dilakukan. Agar tidak ada lagi tentara yang tewas dalam kecelakaan pesawat atau helikopter.
Masalah lain yang perlu mendapat perhatian adalah bencana. Menjelang akhir tahun ini, kita dikejutkan dengan gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 7 Desember lalu.
Akibat gempa ini, 104 orang meninggal dunia, ratusan rumah hancur, sekolah dan gedung pemerintahan hancur, serta puluhan ribu orang mengungsi.
Kecermatan pemerintah dalam menangani pengungsi memang patut diapresiasi. Di Pidie Jaya, puing-puing bahkan mulai hilang dalam waktu kurang dari seminggu.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu diingatkan jika tinggal di jalan raya Cincin Api Kawasan Samudera Pasifik dan di atas pertemuan beberapa lempeng Bumi.
Dampaknya, gempa bumi bisa terjadi kapan saja. Namun, banyaknya korban jiwa setidaknya menunjukkan bahwa kita belum belajar banyak dari gempa bumi yang terjadi di masa lalu.
Akhirnya, memasuki tahun 2017, semoga saja tahun ini berjalan lebih baik.
Selamat tahun baru! —Rappler.com