Di tengah anomali bisnis perminyakan, Pertamina berhasil membukukan laba sebesar US$1,42 miliar
keren989
- 0
Apa rahasia PT Pertamina agar tetap meraup untung di tengah terpuruknya bisnis minyak?
JAKARTA, Indonesia – Direktur Utama Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya tengah melakukan diversifikasi sumber daya dan investasi kerja sama dengan mitra asing.
“Sesuai pengalaman, diversifikasi memungkinkan kami mendapatkan kontrak kerja sama dengan nilai terbaik. Ketergantungan pada satu pihak memang tidak baik. “Mereka gampang mendikte,” kata Dwi menjawab pertanyaan Rappler dalam pertemuan dengan redaksi media di Jakarta, Kamis malam, 2 Juni.
Baru-baru ini Pertamina menandatangani kerja sama dengan perusahaan Rosneft untuk kilang Tuban dan kerja sama dengan Saudi Aramco untuk kilang Cilacap.
Dalam pemaparan terkait bisnis tahun 2015, Dwi menyampaikan kinerja operasional dan efisiensi PT Pertamina menopang kinerja keuangan perseroan di tahun 2015. Pertamina membukukan laba bersih sebesar US$1,42 miliar di tengah memburuknya situasi industri migas sepanjang tahun lalu.
Faktanya, harga minyak mentah saat ini sedang anjlok tajam dari sekitar US$106 per barel menjadi sekitar US$42 per barel, hal ini sangat mempengaruhi kinerja seluruh perusahaan migas di dunia, termasuk Pertamina.
Dwi mengungkapkan, banyak perusahaan yang melakukan langkah efisiensi, mulai dari pemangkasan belanja modal atau modal dan biaya operasional atau biaya operasional yang berdampak langsung pada penurunan kinerja bahkan penghentian layanan.
Saat industri melemah, kata Dwi, Pertamina justru memperbaiki kinerja operasional unit bisnis dan anak perusahaannya. Mereka terus melakukan efisiensi di berbagai lini, tanpa perlu melakukan PHK. Alhasil, kata Dwi, Pertamina mampu membukukan laba bersih sebesar US$1,42 miliar atau turun tipis dibandingkan kinerja tahun sebelumnya sebesar US$1,45 miliar.
“Pertamina seperti sebuah anomali, ketika perusahaan lain mengalami keterlambatan bisnis dobel angkanya, Pertamina hanya mengalami sedikit penurunan. “Pertamina juga bisa mempertahankan pekerjanya untuk terus mengabdi kepada perusahaan,” kata Dwi.
Dwi melanjutkan, pencapaian tersebut tidak lepas dari upaya terobosan yang dilakukan sepanjang tahun 2015.
Produksi terus meningkat
Produksi hulu migas Pertamina meningkat 11 persen dari 548,5 ribu barel setara minyak per hari menjadi 606,7 ribu barel per hari, dimana produksi gas menyumbang pertumbuhan signifikan yakni 18 persen dari semula 1,61 BSCFD menjadi 1,90 BSCFD atau miliar standar kubik kaki per hari. Produksi panas bumi juga meningkat sebesar 8 persen menjadi setara listrik 3.056,82 Gwh.
Pencapaian penting di unit pengolahan juga terjadi pada tahun lalu, dimana beroperasinya RFCC Cilacap dan juga re-manajemen Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) memberikan dampak positif terhadap kinerja pengolahan. Memberikan produk yang berharga Kilang Pertamina meningkat menjadi 75,52 persen dari sebelumnya 73,14 persen
(BACA JUGA: Jusuf Kalla Resmikan Kilang Cilacap)
Di sisi pemasaran, penurunan harga produk dan bertambahnya variasi merek produk Pertamina berdampak pada peningkatan kinerja bisnis hilir.
Pertalite yang distribusinya dimulai pada Juli 2015, terjual sebanyak 373.040 Kilo Liter pada akhir tahun yang sama. Sementara pelumas Pertamina masih mendominasi pangsa pasar dengan penjualan mencapai 59,1 persen.
Transportasi gas dan niaga gas juga meningkat masing-masing sebesar 4 persen dan 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang tahun lalu, pengangkutan gas Pertamina melalui anak usahanya yakni Pertagas mencapai 531,17 BSCF, sedangkan niaga gas mencapai 48.230 ribu BBTU.
Dengan realisasi pendapatan sebesar US$41,76 miliar dan EBITDA sebesar US$5,13 miliar, Pertamina mencatatkan margin EBITDA sebesar 12,28 persen atau tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
Pencapaian penting dari sisi finansial Pertamina adalah kesehatan finansial yang ditunjukkan dengan pembayaran utang sebesar US$4,07 miliar selama 2015. Sementara realisasi investasi tahun lalu mencapai US$3,62 miliar, dimana 75% dialokasikan untuk bisnis hulu.
Sementara itu, upaya efisiensi di seluruh level terpantau dalam program Breakthrough Project New Initiatives 2015 yang dijalankan Pertamina, dimana dampak finansial yang dicapai melalui program ini mencapai efisiensi dan nilai tambah sebesar US$608,41 juta sepanjang tahun lalu.
“Kinerja keuangan perseroan yang semakin membaik memunculkan optimisme terhadap rencana investasi dan ekspansi Pertamina di masa depan. “Fokus kami saat ini adalah investasi hulu dan kilang, selain pengembangan infrastruktur hilir migas,” kata Dwi. – Rappler.com
BACA JUGA: