Dua negara Timur Tengah tertarik membangun pabrik senjata PT Pindad
keren989
- 0
Negara-negara di kawasan Timur Tengah sudah mengakui kualitas senjata PT Pindad.
JAKARTA, Indonesia – Kualitas senjata dan kendaraan militer buatan PT Pindad sudah diakui dunia internasional. Bahkan, dua negara di kawasan Timur Tengah sudah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik senjata buatan PT Pindad.
Selain ekspansi persenjataan, PT Pindad juga mendapat tawaran negara lain untuk menggunakan fasilitas produksinya untuk memproduksi kendaraan tempur dengan merek Pindad.
Apa sajakah kedua negara tersebut? Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim yang ditemui saat peluncuran 4 senjata baru tersebut di Kantor Kementerian Pertahanan, Kamis malam, 9 Juni, mengaku belum bisa membeberkannya. Dia hanya mengatakan, PT Pindad belum memutuskan di negara mana akan membangun pabrik tersebut.
“Dalam pemilu nanti, tentunya akan ada berbagai pertimbangan, berdasarkan prospek yang potensial pasarYang terpenting hubungan luar negeri dan kemudahan investasi,” kata Silmy.
Di Timur Tengah sendiri, jelas Silmy, kualitas senjata PT Pindad sudah diakui dan dikenal.
“Seperti misalnya saat kita mengadakan pameran dan uji coba senjata di Yordania, bisa dikatakan senjata kita termasuk yang terbaik. Hal ini dibuktikan dengan kabel dari duta besar kami di sana yang menyatakan bahwa penguji menyatakan SPR (sniper) 2 dan 3 merupakan produk senjata dengan kualitas dan performa yang baik, kata Silmy.
Pria yang menjabat Direktur Utama sejak 2014 ini mengaku negara-negara di Timur Tengah menjadi tujuan ekspor PT Pindad. Silmy mengatakan potensi kontrak pertama saja mencapai US$300 juta. Mulai dari pembuatan komponen hingga perakitan.
“Namun, kami belum memutuskan negara mana yang akan dipilih. “Masih ada proses negosiasi dan bantuan dari Kementerian Pertahanan, tapi mudah-mudahan tahun ini bisa diambil keputusannya,” ujarnya.
Selain di pasar Timur Tengah, senjata buatan PT Pindad juga diminati di negara-negara kawasan ASEAN seperti Laos, Thailand, Singapura, Myanmar, dan Timor Leste. Khusus Laos, kata Silmy, salah satu penembak mereka yang mengikuti kejuaraan tingkat ASEAN keluar sebagai juara pertama dengan pistol buatan PT Pindad.
Senjata buatan PT Pindad juga berhasil meraih juara yang ke-9 kalinya dalam ajang Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASM) yang diadakan setiap tahun di Negeri Kanguru. Pada ajang yang digelar pada Mei lalu, kontingen TNI berhasil mempertahankan prestasinya dengan kembali menjadi juara umum.
“Selain itu juga ada pembicaraan dengan Papua Nugini, berbagai negara di kawasan Afrika dan akan kita dorong ke India. Kami berharap PT Pindad mampu bersuara di tingkat Asia pada tahun 2023,” ujarnya.
Meluncurkan 4 senjata
Kamis malam kemarin, PT Pindad memperkenalkan 4 jenis senjata baru, yakni senapan serbu SS3, senapan serbu SS2 subsonik 5,6 milimeter, senapan mesin sub PM3, dan pistol premium G2. Keempat jenis senjata tersebut diciptakan untuk mendukung fungsi pasukan yang berbeda.
“Senapan serbu SS3 merupakan pengembangan dari seri senapan serbu Pindad sebelumnya yaitu SS2. SS3 menggunakan amunisi 7,62 milimeter, kata PT Pindad dalam keterangan tertulisnya.
Senapan serbu SS2 subsonik dirancang khusus dengan peredam dan amunisi subsonik 5,56 mm (di bawah kecepatan suara) sehingga cocok untuk operasi khusus yang membutuhkan kemampuan gerakan senyap. Senapan mesin sub PM3 dirancang dengan sistem penembakan bertenaga gas dengan amunisi 9 milimeter.
“PM3 lahir untuk mendukung kebutuhan operasi pertempuran jarak dekat, pembebasan sandera atau peperangan kota,” kata PT Pindad.
Terakhir, Pistol G2 Premium lahir dari pengembangan desain dan rangka pistol yang merupakan implementasi dan masukan dari penggunanya. Pistol G2 Premium menggunakan amunisi kaliber 9 milimeter dengan jarak tembak efektif 25 milimeter. Silmy mengatakan, pistol jenis ini khusus diperuntukkan bagi atlet tembak, baik sipil maupun militer.
Berikut video peluncuran 4 senjata baru buatan PT Pindad:
Pistol premium G2 yang dibanderol Rp 35 juta per buah itu dipesan oleh organisasi Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Silmy mengatakan mereka memesan hingga 10 ribu senjata dengan total pesanan Rp 350 miliar.
“Pembangunannya akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, kami akan membuat 2.000 senjata hingga kontrak kerja sama selesai. “Mudah-mudahan pembangunan tahap pertama selesai dalam 2 bulan,” kata Silmy.
Ia menegaskan, meski pistol premium G2 bisa dimiliki oleh atlet sipil, namun senjata tersebut tidak mudah disalahgunakan. Karena semua nomor senjata dan amunisi tercatat.
“Lagipula senjatanya tidak kita kirimkan, tapi mereka yang mengambilnya, jadi risikonya biasanya datang dari luar pabrik,” ujarnya. – Rappler.com
BACA JUGA: