• March 20, 2026

Pramoedya Ananta Toer, tulisanmu tak lekang oleh waktu

Jiwa seseorang yang menolak untuk ditundukkan, atau kebebasannya diikat.

JAKARTA, Indonesia — Kehidupan manusia mungkin terbatas, namun gagasannya akan tetap hidup. Seperti sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer yang seandainya masih hidup pasti akan merayakan ulang tahunnya yang ke-92 pada Senin, 6 Februari 2017.

Karya-karya Pramoedya alias Pram memberikan gambaran Indonesia pada masa imperialisme Belanda dan Jepang. Namun, passionnya lebih dari itu. Jiwa seseorang yang menolak untuk ditundukkan, atau kebebasannya diikat.

Pram tak pernah berhenti bekerja meski berkali-kali keluar masuk penjara. Pertama oleh pemerintah Belanda pada tahun 1947 karena dicap anti penjajah. Setelah itu, ia kembali dipenjara pada tahun 1960, karena mengkritik kebijakan pemerintahan Presiden Soekarno yang anti-Tionghoa.

Menghirup udara bebas hanya dalam waktu singkat, ia ditangkap lagi pada masa pemerintahan Suharto, karena hubungannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pram dikirim ke Pulau Buru bersama tahanan politik lainnya.

Dari sinilah bermula karya besarnya, yakni tetralogi Pulau Buru yang menceritakan perjalanan politik Minke—atau Raden Mas Tirto Adhi Soorjo di dunia nyata. Pram tidak diberi pulpen dan kertas untuk menulis sehingga ia menceritakan karya tersebut secara lisan kepada teman satu selnya.

Setelah berhasil menulis secara rahasia dengan kertas dan pulpen selundupan, karya ini diperkenalkan ke publik oleh teman Pram, seorang pendeta asal Jerman. Kumpulan manuskrip diselundupkan keluar penjara untuk dicetak kemudian. Pada masa rezim Soeharto, buku terlarang ini sulit didapat.

Setelah dibebaskan pada tahun 1979, ia ditempatkan di bawah tahanan rumah dan di bawah penjagaan ketat polisi hingga akhirnya Soeharto jatuh pada tahun 1998. Hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 2006, Pram tak henti-hentinya bersuara mewakili Indonesia.

Berikut kutipan Pram yang masih relevan hingga saat ini:

Pram kerap mengkritik agama dan pemeluknya. Dalam novelnya Salah satu kejadian di Banten Selatan, ia menggambarkan kondisi masyarakat di sana yang hidup dalam kemiskinan. Namun, orang kaya dan tamak tetap saja merampok dan membunuh orang miskin.

Tentu saja praktik-praktik tidak manusiawi masih terus terjadi hingga saat ini, meski bentuknya sudah berubah. Tak sedikit pelakunya berasal dari partai agama tertentu. Lewat kutipan tersebut, Pram seolah mengingatkan bahwa agama tidak pernah mengajarkan pengkhianatan kepada siapapun.

Pram adalah contoh nyata dari kutipan ini. Jika ia memilih menyerah pada keadaan dan berhenti menulis karena keterbatasan, maka kita tidak akan pernah tahu ide cemerlangnya. Begitu pula Minke di Rumah Kaca yang mendirikan surat kabar dengan tulisan yang mampu membangkitkan semangat pemberontakan.

Siapapun Anda, apapun pekerjaan Anda, menulislah. Agar ada warisan untuk generasi setelah anda. Sehingga ada yang memperjuangkan ide Anda, atau setidaknya menjadi benih pertarungan.

Benar dalam pikiran. Ya, perkataan Pram akan bertahan selamanya karena sulit dilaksanakan. Sekalipun Anda berpendidikan tinggi, atau berpengetahuan luas, tetap saja sulit untuk bersikap adil.

Terkadang kenyamanan Anda sebagai bagian dari suatu kelompok membuat Anda lupa bahwa masih ada orang lain yang bernasib sama. Anda tidak melihatnya dari sudut pandang mereka, tetapi dari sudut pandang Anda dan segala keterbatasannya. Anda menilai mereka, tanpa pernah mencoba untuk memahaminya.

Ujung-ujungnya, Anda enggan bersimpati dan malah ikut menghakimi dan memfitnah. Bagi Pram, orang terpelajar tidak seperti itu. Berasal dari pikiran, yang secara alami diwujudkan dari tindakan. Dari pikiran yang tidak ternoda oleh penilaian sepihak.

Banyak hal selain mengejar jabatan, pangkat atau gaji. Masalah kemanusiaan, kesenjangan, ketidakadilan tersebar di mana-mana.

Jika Anda memalingkan muka dan membuka wawasan Anda, dunia seseorang bisa lebih dari sekedar menimbun harta atau gambar yang tak ada habisnya.

Masyarakat seringkali berpikir berlebihan, tidak hanya pada masa penjajahan Belanda, namun juga pada zaman modern. Seperti saat kekasihmu menatapmu dan pikiranmu langsung melayang ke pernikahan.

Atau ketika ada yang mengaku mengetahui percakapan Anda dengan pihak lain, Anda langsung membuat pernyataan publik seolah-olah Anda adalah korban konspirasi jahat. Mungkin Anda hanya menafsirkan secara berlebihan, padahal maksudnya sangat berbeda dengan apa yang Anda pikirkan.

Begitu pula dengan ayat-ayat dari buku atau ucapan tokoh agama. Anda sering mengartikannya seperti ini, yang menjadikan Anda seorang polisi moral yang berhak mengatur kehidupan orang lain; serta mereka yang tidak sependapat dengan Anda.

Hidup ini sebenarnya sederhana, tapi pikiranmulah yang menjadikannya rumit. Atau, pikiran orang lain yang dipaksakan kepada Anda justru menimbulkan keterikatan baru.

Apa kutipan atau karya Pram favorit Anda? Yuk berdiskusi di kolom komentar!—Rappler.com

Pengeluaran Sidney