• March 4, 2026

Untuk tidak turun dengan kepala tertunduk

JAKARTA, Indonesia – Pada laga terakhir Liga Inggris, Manchester United mengalahkan Bournemouth 3-1. Meski demikian, kemenangan banyak gol tersebut tak lantas membuat Louis van Gaal, sang manajer, mendapat pujian.

Manajer asal Belanda itu malah menerimanya huuu ketika peluit akhir dibunyikan.

Tentu saja kritik tersebut bukan satu-satunya yang diterima Pak 64 tahun. Dalam beberapa laga Setan Merah, mantan pelatih Bayern Munich dan Barcelona itu juga mendapat perlakuan serupa.

Huuu berbeda karena pertandingan ini merupakan pertandingan terakhir Liga Inggris musim ini. Seolah-olah inilah akhir perjalanan United musim ini: mengecewakan.

Nyatanya, target paling realistis yakni finis di posisi keempat gagal. Musim depan, juara Liga Champions tiga kali itu akan kembali absen di ajang paling bergengsi Eropa tersebut.

Betapa hancurnya United, betapa hancurnya citra Van Gaal.

Tapi, semua penderitaan selalu menawarkan jalan keluar. Dan solusi kejatuhan United musim ini adalah final Piala FA. Mereka akan menghadapi Crystal Palace di Stadion Wembley pada Sabtu 21 Mei pukul 23.30 WIB.

Jika keluar sebagai juara, United akhirnya bisa meraih gelar juara untuk pertama kalinya sejak ditinggal Sir Alex Ferguson. Apalagi, mereka absen menjuarai Piala FA selama 12 tahun.

Memang pamor Piala FA dan Liga Inggris ibarat bumi dan langit. Namun, bagi United yang tak lagi menempati peringkat empat besar Liga Inggris, menjuarai ajang sepak bola tertua di Inggris sama suksesnya dengan meraih gelar juara liga.

Selain itu, United juga jarang memuncaki Piala FA. Terakhir kali mereka mencapai final adalah pada tahun 2007. Itupun kalah dari Chelsea dengan skor 0-1.

Apalagi, ini disebut-sebut menjadi musim terakhir Van Gaal sebagai manajer United. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memenangkan gelar selain sekarang.

Maka dari itu, tak salah jika Van Gaal menganggap final ini jauh lebih penting dibandingkan lolos ke Liga Champions. “Kemenangan adalah satu-satunya hal yang Anda cari di final. Kalau tidak, Anda tidak akan mendapat apa-apa,” katanya dikutip oleh BBC.

Upaya Van Gaal untuk mencapai hal tersebut terbuka lebar seiring dengan semakin berkurangnya daftar cedera. Hanya empat pemain yang kemungkinan akan absen. Mereka adalah Will Keane, Bastian Schweinsteiger, Adnan Januzaj, dan Luke Shaw.

Bomber muda pencetak gol ke gawang Bournemouth, Marcus Rashford, siap diturunkan kembali. Begitu pula dengan Wayne Rooney yang kini banyak berperan sebagai gelandang serang.

dua sayap Jesse Lingard di kanan dan Anthony Martial di kiri juga akan tampil.

“Kami selalu ingin tampil bagus dan mengesankan. Tapi itu selalu tergantung kondisi lawan. Yang jelas, tujuan kami adalah menang dan mencetak gol-gol indah,” kata Van Gaal.

Waspadai dendam lama Alan Pardew

Juara Liga Premier 20 kali itu pantas mendapatkan kepercayaan lebih. Pasalnya lawannya adalah Crystal Palace yang hanya mampu finis di posisi ke-15 Liga Inggris.

Faktanya, sepanjang putaran kedua kasta tertinggi sepak bola Inggris itu, klub asal London itu hanya mampu meraih 2 kemenangan. Yakni atas Norwich City dan Stoke City. Selebihnya mereka kebanyakan kalah dan seri.

Namun, tim yang bermarkas di Selhurst Park itu menampilkan performa berbeda di Piala FA. Mereka tidak pernah kalah. Bahkan, pasukan Alan Pardew mengemasnya lembar bersih alias nihil kebobolan sepanjang tiga laga.

Mereka pun mampu menyingkirkan empat klub Liga Inggris seperti Southampton (2-1), Stoke City (1-0), Tottenham Hotspur (1-0), dan terakhir Watford (2-1) untuk lolos ke babak selanjutnya. terakhir.

Sebaliknya, jalan United menuju final lebih mudah. Mereka baru dua kali bertemu sesama tim Liga Inggris. Selain itu, mereka bertemu tim Championship Derby County dan duo tim League One (kasta ketiga) Shrewsbury Town FC plus Sheffield United.

Jalan United ke final semakin serius ketika menghadapi West Ham United di perempat final dan Everton di semifinal.

Oleh karena itu, meski Crystal Palace akan tampil seperti itu tidak diunggulkan, banyak yang berharap bisa membuat kejutan. Selain itu, Pardew juga punya cerita tersendiri bersama United di Piala FA.

Pada final Piala FA 1989-1990, Pardew terus bermain aktif Para Glazier-sebutan Istana Kristal. Posisinya adalah gelandang. Pardew muda bertemu United di final dengan skor akhir 3-3.

Karena imbang hingga perpanjangan waktu, pertandingan dilanjutkan dengan pertandingan ulang. Alhasil, United menang tipis 1-0 dan meraih gelar ketujuh Piala FA.

Saat dikonfirmasi wartawan, Pardew mengaku masih ingat puncak laga menyakitkan itu. Namun di laga kali ini tak ada lagi dendam masa lalu.

“Tidak ada dendam. “Ini hanya pertanyaan tentang tim yang bisa mencapai final dan akan berusaha untuk menang.” dia berkata.

Pardew sadar pemainnya berada pada posisi inferior dibandingkan pasukan Van Gaal. Namun, segalanya akan berbeda di lapangan.

Ia menjamin para pemainnya akan punya semangat juang lebih dibandingkan Wayne Rooney dan kawan-kawan yang sudah frustrasi sejak gagal bersaing di papan atas Liga Inggris.

“Kami akan menjadi tim yang lebih gigih di lapangan. Kami akan berjuang untuk merebut bola dari mereka. Ada beberapa area di lapangan di mana kami lebih unggul. Kami akan memaksimalkannya,” ujar Pardew.—Rappler.com

BACA JUGA:

Pengeluaran HK