• March 22, 2026
Diplomasi ‘DevPro’ Indonesia di Forum APEC

Diplomasi ‘DevPro’ Indonesia di Forum APEC

Diplomasi sering kali berjalan secara diam-diam, meskipun dampaknya – sukses atau tidak – sangat luas

Diplomasi seringkali berjalan secara diam-diam, meskipun dampaknya – sukses atau tidak – seringkali sangat luas. Hal serupa juga akan dilakukan oleh beberapa diplomat ekonomi Kementerian Perdagangan RI dan Kementerian Luar Negeri di Vietnam pada tahun ini, dimulai dengan pertemuan di NaTrang Vietnam 22-23 Februari 2017 pekan depan. Didukung beberapa pakar dari IPB, Indonesia melanjutkan diplomasi penting terkait produk pembangunan di forum APEC.

Development Products (DevPro) adalah sebutan untuk produk yang berkontribusi terhadap pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif melalui pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan (RDPA/rural development and pengentasan kemiskinan). Pada hakikatnya DepPro merupakan kategori produk yang proses produksi dan perdagangannya berdampak luas terhadap pendapatan masyarakat miskin, petani kecil dan nelayan, serta masyarakat pedesaan, sehingga jika perdagangan produk tersebut ditingkatkan maka akan berdampak positif terhadap perbaikan. mempunyai status sosial ekonomi masyarakat; dan sebaliknya jika dihambat maka akan berdampak buruk terhadap kesejahteraan kelompok masyarakat tersebut.

Usulan mengenai perlunya kebijakan promosi terhadap perdagangan DevPro antar negara APEC disampaikan oleh Indonesia pada APEC Leaders’ Meeting tahun 2013 di Bali, dan terus dibahas pada pertemuan APEC berikutnya pada tahun 2014 di Beijing, tahun 2015 di Manila dan tahun 2016 mendatang. Lima, Peru. Sayangnya, sejauh ini belum banyak kemajuan berarti dari rangkaian perundingan tersebut, dan pertarungan diplomasi akan terus berlanjut pada forum APEC yang akan diselenggarakan pada tahun 2017 dengan Vietnam sebagai tuan rumah.

Saat ini, 7%-20% populasi negara maju APEC dan 20%-60% populasi negara berkembang APEC tinggal di daerah pedesaan. Di Papua Nugini 87% penduduknya tinggal di pedesaan dan di Vietnam angkanya mencapai 67%. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat miskin dunia tinggal di pedesaan, di beberapa negara APEC bahkan 80% masyarakat miskin tinggal di pedesaan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perdagangan – baik domestik maupun internasional – mempunyai dampak nyata terhadap pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan (RDPA). Dampak ini bisa bersifat positif (pengentasan kemiskinan, dorongan kemajuan) namun bisa juga menjadi ancaman (hilangnya persaingan, hilangnya pangsa pasar). Namun, dampak bersih perdagangan terhadap RDPA cenderung selalu positif.

Negara-negara APEC akan hadir di Vietnam dengan membawa kesepakatan sebelumnya mengenai adanya 157 produk yang disepakati sebagai DevPro atau produk yang berdampak besar pada RDPA di kawasan APEC. Dari 157 produk tersebut, terdapat 15 produk yang diajukan Indonesia, yaitu perikanan (2 produk/kode HS), kelapa sawit (4 produk), karet (1 produk), rotan (3 produk) dan kertas (5 produk). Indonesia tidak hanya mengekspor 15 produk usulan, namun juga mengekspor hampir seluruh 157 jenis produk yang disepakati.

Pada tahun 2015, ekspor Indonesia untuk 15 produk usulan ke negara APEC sebesar USD5,8 miliar, sedangkan ekspor yang sama ke seluruh dunia mencapai USD17,8 miliar. Ekspor Indonesia untuk 157 produk DevPro ke APEC mencapai USD 13,6 miliar (13% dari total ekspor Indonesia ke APEC), dan ekspor Indonesia untuk 157 produk ke seluruh dunia mencapai USD 28,2 miliar (18,7% dari total ekspor Indonesia). Jumlah tersebut cukup besar dan penting untuk diperjuangkan.

Faktanya, tarif bea masuk untuk 15 produk yang diwakili Indonesia di pasar APEC sudah rendah. Angka rata-ratanya hanya 3,17%. Angka rata-rata tertinggi dialami oleh produk kelapa sawit Indonesia yaitu sekitar 6,3%. Namun produk Indonesia masih banyak mengalami hambatan non-tarif yang dampak distorsinya jauh lebih besar dibandingkan tarif.

Bentuk hambatan non tarif dalam perdagangan adalah harga minimum, anti dumping, alasan keamanan atau kesehatan pangan (sanitasi dan fitosanitasi), perizinan, kuota dan larangan impor. Ke-15 produk Indonesia tersebut banyak menghadapi permasalahan hambatan non-tarif di Australia, Vietnam, Selandia Baru, dan Tiongkok. Dan di antara 15 produk yang diusulkan Indonesia, produk yang paling banyak menghadapi hambatan non-tarif adalah produk perikanan, disusul produk minyak sawit. Dalam kondisi seperti ini, memastikan bahwa perdagangan DevPro tidak terhambat merupakan target diplomasi yang realistis.

Upaya diplomasi perdagangan DevPro di APEC merupakan kegiatan pembangunan yang strategis dan patut didukung. Kesepakatan – atau ketidaksepakatan – akan mempunyai implikasi yang luas. Dan tahun ini tantangan diplomasi sangat besar, terutama mengingat perkembangan politik dan ekonomi terkini di kawasan APEC; seperti ketidakjelasan kebijakan ekonomi politik AS di bawah Trump, kondisi ekonomi Tiongkok, atau masa depan negosiasi perdagangan dan investasi regional (TPP, RCEP) dan multilateral (WTO).

Sekalipun berjalan secara diam-diam, diplomasi perlu mendapat apresiasi dan perhatian yang lebih besar. Setidaknya dalam diplomasi ekonomi DevPro di kawasan APEC, hasilnya akan berhubungan dengan penderitaan sekitar 7 juta petani, nelayan, dan masyarakat pedesaan di Indonesia; serta lebih dari 150 juta petani kecil dan nelayan di seluruh kawasan APEC. Sebuah tanggung jawab yang tidak kecil. —Rappler.com

Bayu Krisnamurthi adalah dosen Agribisnis IPB/Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia 2011-2014. Dia bisa dihubungi di

data hk