Afi Nihaya Faradisa ingin menjadi pejuang pendidikan seperti Malala
keren989
- 0
Mahasiswi ini pernah diundang menjadi pembicara di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan tampil di panggung acara Car Free Day di Jakarta
Jakarta, Indonesia – Asa Firda Inayah Ia merasa terhormat bisa menjadi pembicara di atas panggung pada acara Car Free Day di Jakarta pada Minggu, 21 Mei. Ia ditunjuk sebagai narasumber bersama Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika.
Meski demikian, gadis berusia 18 tahun yang namanya melejit setelah akun media sosialnya diblokir Facebook ini tidak terlalu sombong atau besar kepala.
Salah satu pertanyaan yang sering ia dapatkan adalah, “Apakah menjadi terkenal itu enak?”
Kalau sekarang saya jadi sorotan, itu bukan kesengajaan sama sekali, kata Asa, pemilik nama pena Afi Nihaya Faradisa, di Facebook.
“Sepertinya saya tidak menyangka seseorang akan menelepon nomor pribadi pada pukul setengah empat pagi dan mengatakan bahwa dia dan teman-temannya tidak hanya dapat melunasi rekening saya, tetapi juga pemiliknya.”
(BACA: Afi Nihaya Faradisa ingin tetap menulis meski suaranya senyap)
Sebelumnya, akun Facebook Asa sempat ditangguhkan hampir 24 jam pada pekan lalu karena banyak orang yang melaporkan artikelnya yang berjudul Warisan. Tulisan itu diskusikan bagaimana agama, kebangsaan dan nama diturunkan melalui keluarga.
Ia menulisnya untuk mengkritisi sikap dan perilaku superior umat beragama yang dinilainya dapat merusak persatuan NKRI.
“Mereka mengira saya adalah penghalang perjuangan di jalan Tuhan. Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya kerugian yang bisa ditimbulkan hanya dengan mengajak anak berpikir?”
“Mereka menganggap saya sebagai penghalang perjuangan di jalan Tuhan,” kata Asa melalui status Facebook yang diunggahnya pada 21 Mei. “Entahlah, apa sebenarnya kerugian yang bisa ditimbulkan hanya dengan mengajak anak berpikir?”
Setelah menjadi salah satu pembicara di panggung CFD, ia diserang oleh para pekerja tinta. Salah satu pertanyaan yang diajukan, “Bagaimana perasaan Anda ketika Andamenggertak atau diserang?”
“Saya hanya satu orang, sedangkan serangan silih berganti datang dari puluhan ribu orang. “Acara seperti itu menguji kualitas pribadiku, apakah aku benar-benar sebaik tulisanku ketika menemui masalah,” jawab Asa.
“Selain itu, saya sepenuhnya menyadari konsekuensi yang akan saya hadapi setelah sebuah artikel diterbitkan.”
Wartawan itu kembali bertanya: “Lalu bagaimana rasanya ditentang bahkan dikritik oleh begitu banyak orang?”
“Tujuan saya menulis bukan untuk disetujui atau menerima pujian. Kalau itu tujuan saya, mudah saja. Tulis saja sesuatu yang menyenangkan semua orang dan pujian akan mengalir. Namun, saya selalu menulis untuk menyampaikan pemikiran, bukan untuk membuat orang terkesan,” kata Asa.
Sebelum berangkat ke Jakarta, Asa juga sempat diundang oleh rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang berbicara di hadapan para guru besar dan perwakilan Badan Manajemen Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur. Dalam kesempatan itu ia merendahkan diri bahwa di usianya yang masih muda, ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penonton yang memenuhi auditorium.
“Secara akademis, saya pasti jauh lebih rendah dari kalian semua. “Aku hanyalah anak kecil yang baru lulus SMA bulan ini, aku benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu,” kata Asa.
“Di tengah segala keterbatasan, saya hanya berusaha melakukan apa yang saya bisa untuk berkontribusi bagi negara ini. Tapi, dengan kemampuan kalian dan segala yang kalian miliki selama ini, saya yakin kalian semua bisa melakukan hal yang jauh lebih hebat dari saya. Demi NKRI, demi negara tempat kita sehari-hari mencari makan.”
(Baca artikel Afi Nihaya Faradisa yang berjudul Warisan Di Sini)
Ia pun mencontohkan aktivis pendidikan Pakistan, Malala Yousafzai, yang diserang secara fisik oleh kelompok radikal di negaranya.
“Seperti yang dikatakan Malala Yousafzai, dengan senjata Anda bisa membunuh teroris. Namun dengan pendidikan yang baik Anda dapat membunuh terorisme. Saya seorang Muslim dan menyukai toleransi. Mari kita bersatu dan tidak mau diadu domba, ujarnya.
Beberapa hadirin memberikan standing ovation saat pidatonya berakhir.
Asa menuturkan, salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika setelah acara selesai, tiba-tiba ada dosen yang menghampiri dan menyentuh pipinya. Dosen berkata dengan mata berkaca-kaca, “Nak, tahukah kamu, banyak sekali orang yang punya pendapat dan suara, tapi memilih untuk tidak mengungkapkannya.”
“Saya adalah salah satu dari mereka. Dan kamu berani, Nak. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. “Saya terharu,” ucap Asa menirukan perkataan ibu dosen tersebut. —Rappler.com