Aroma rempah-rempah dari dapur Aceh
keren989
- 0
Aroma rempah-rempah menjadi magnet bagi para pelaut untuk mengarungi lautan
BANDA ACEH, Indonesia – Rasa rempah-rempah dikirimkan ribuan kapal ke nusantara beberapa abad lalu. Harganya tinggi seperti emas dan permata. Namun aromanya menjadi magnet bagi para pelaut untuk mengarungi lautan.
Bukan sekedar eksplorasi, bahkan memunculkan cerita suram: tentang kolonialisme. Rasanya tak pernah ketinggalan jaman, kini bumbu-bumbu tetap ada karena kebutuhan.
Nurmala, 49 tahun, tampak asyik menjelaskan aneka bumbu khas Aceh kepada wisatawan. Di Museum Aceh, Banda Aceh, ia bertugas sebagai pemandu. Kali ini tugas wanita berkulit hitam itu lebih sibuk dari hari-hari biasanya.
Banyaknya wisatawan yang memadati barang pameran sementara di museum membuat Nurmala semakin semangat melakukan pengawalan. Pameran bertema ‘Aroma Rempah-Rempah dari Dapur Aceh’ ini digelar bersamaan dengan peringatan Hari Museum Indonesia pada 12 Oktober.
Pameran yang memperkenalkan bumbu dan peralatan masak khas Aceh ini berlangsung pada 12-18 Oktober 2017. Berbagai jenis bumbu dan bumbu masak khas Aceh dipamerkan.
Misalnya kayu manis. Bumbu yang memperkaya cita rasa masakan ini sangat aromatik, manis dan pedas. Bumbu lainnya adalah jinten. Bumbu yang harum dan sedikit manis ini digunakan sebagai bumbu masakan daging.
Lalu lada hitam, sebagai pemberi rasa pedas dan harum pada makanan, ternyata juga bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu juga ada cengkeh, bunga lawang, kemiri, dan jeura maneh (adas).
“Sejak berabad-abad lalu, Laut Aceh merupakan jalur perdagangan internasional, negara menjadi tempat transit kapal-kapal yang ingin menuju nusantara atau daerah lain,” jelas Nurmala, Sabtu, 14 Oktober 2017.
Jadi, kata Nurmala, ketika para pendatang berada di Aceh, mereka mencari rempah-rempah di sini sebagai bumbu dapur dan obat.
“Para pendatang kebanyakan mengambil rempah-rempah lada dan cengkeh di Aceh, karena selain sebagai bumbu dapur juga bermanfaat untuk pengobatan,” ujarnya.
Selain rempah-rempah, pameran tidak tetap itu juga menampilkan peralatan dapur khas Aceh. Di pojok ruangan Museum Aceh terdapat dua buah kompor lengkap dengan kayu bakar dan lampu berwarna merah seperti api. Panci tanah berada di atas kompor.
Menurut Nurmala, masakan Aceh paling menarik dan sering ditanyakan pengunjung. “Tentang sejarah masakan Aceh, lalu cara memasaknya,” ujarnya.
Selain pengunjung lokal, wisatawan Malaysia paling banyak berkunjung ke sana. Rahasia kelezatan masakan Aceh, kata Nurmala, bukan hanya keunikan bumbunya saja, peralatan memasaknya juga sangat berpengaruh.
Seperti menggunakan pot tanah liat atau logam. “Makanan Aceh rasanya sangat berbeda jika dimasak dalam panci logam,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Jihan Rojana, 20 tahun, mengaku pameran temporer rempah-rempah Aceh ini sangat bermanfaat baginya. Aktor ini dinilai bisa memperkaya pengetahuannya tentang rempah-rempah khas Aceh dan Indonesia.
“Kalau bicara rempah-rempah atau jamu dapur, kita tidak hanya tahu bawang dan kunyit saja. “Ternyata di sini banyak sekali rempah-rempah yang sebelumnya kita bahkan tidak tahu namanya,” kata Jihan saat ditemui Rappler.
Selain itu, ia juga menambahkan, beberapa peralatan dapur khas Aceh yang dipamerkan di sana masih sangat sedikit yang terpakai. Bahkan mungkin anak-anak Aceh pun sudah tidak mengetahui namanya lagi.
“Kami belum tahu nama-nama peralatan dapur kuno, jadi kalau ada acara seperti ini kami akan mengenalnya lagi,” kata Jihan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Pahlevi mengatakan kekayaan rempah-rempah di Aceh berhasil menciptakan beragam kuliner lezat di Aceh.
“Maka dengan mengenalkan kembali ilmu rempah-rempah keseharian ini, kita bisa mengolahnya menjadi kuliner yang nikmat dan tidak kehilangan produk yang kita miliki,” kata Reza.
Selain pameran, juga digelar bazar kuliner, lomba memasak asyik, lomba pengetahuan sejarah, pembuatan kolase, pemilihan mitra museum, dan panggung hiburan.
Nikmati liburan akhir tahun ke Aceh bersama Kupon Pegipegi dan rasakan nikmatnya rasa rempah-rempahnya.
—Rappler.com