Melanie Subono protes Sriwijaya Air mengangkut lumba-lumba ke Balikpapan
keren989
- 0
Taman Impian Jaya Ancol keberatan jika dikatakan telah mengubah lumba-lumba menjadi atraksi sirkus
JAKARTA, Indonesia – Aktris sekaligus aktivis Melanie Subono mengunggah foto seekor lumba-lumba yang membuat publik mengernyit. Dalam foto tersebut terlihat bagaimana lumba-lumba hidung botol ditempatkan dalam wadah sempit tanpa air dan hanya ditutup dengan handuk basah.
Kulitnya tampak diolesi Vaseline agar tetap lembab. Mamalia tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bagasi Sriwijaya Air dan diangkut dari Jakarta menuju Balikpapan. Melanie kemudian meminta agar foto yang diunggahnya melalui akun media sosialnya disebarluaskan ke publik.
Di sini lumba-lumba keluar dari kabin dengan BARANGnya @SriwijayaAir !!!!!!!!!!!!!!!
Ingat, sore ini terakhir kali aku naik @SriwijayaAir pic.twitter.com/EcORjXf3ff
— melanie subono (@melaniesubono) 18 Januari 2017
Belakangan diketahui mamalia tersebut berasal dari Taman Impian Jaya Ancol dan dipinjamkan ke pusat pendidikan hewan di Balikpapan. Tweet Melanie mendapat tanggapan dari Sriwijaya Air. Sekretaris Perusahaan Sriwijaya Air, Agus Sujono mengatakan, maskapai mereka memang bisa digunakan untuk mengangkut hewan hidup.
“Kita ambil dan kita tanya catatannya untuk apa, kemarin (diberitahu) untuk edukasi dan konservasi,” kata Agus seperti dikutip media.
Agus pun membela diri bahwa metode transportasi tersebut memenuhi standar kesejahteraan hewan. Padahal tidak diperbolehkan mengangkut lumba-lumba dalam keadaan kering.
Didampingi oleh tim medis
Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) pun mengajukan keberatan dengan menyatakan bahwa mereka adalah lembaga konservasi dan bukan sirkus. Manajer Sekretaris Perusahaan TIJA, Rika Lestari membenarkan adanya lumba-lumba yang diterbangkan dari Jakarta menuju Balikpapan pada Selasa, 17 Januari.
Namun mereka kembali berdalih telah memenuhi standar yang dipersyaratkan, yakni Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor P.1/IV-SET/2014 dan standar yang ditetapkan oleh International Air Transport Association (IATA).
“Tentunya kami tidak akan berani melanggar apa yang tertulis, karena akan berakibat fatal bagi mamalia. “Safety first, itu yang kami utamakan,” kata Rika yang dihubungi Rappler melalui telepon pada Rabu malam, 18 Januari.
Rika menjelaskan, ada dokter hewan yang menemaninya selama pemberangkatan ke Balikpapan untuk memeriksa kondisi lumba-lumba tersebut.
“Yang mendampingi kami biasanya satu (dokter hewan) dan ini sesuai standar, karena dalam hal ini kami tidak mau mencoba apa pun, apalagi dengan makhluk hidup lain,” ujarnya.
Rika pun keberatan jika ada yang menyebut lumba-lumba itu digunakan untuk atraksi sirkus. Pasalnya, lembaga konservasi di TIJA tidak pernah mengeksploitasi satwa tersebut.
Prinsipnya kami hanya ingin mendekatkan masyarakat dengan mamalia laut yang cukup cerdas dan dapat memberikan manfaat bagi makhluk hidup, ujarnya.
Sejauh ini terdapat 24 lumba-lumba hidung botol di TIJA. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan lahirnya lumba-lumba baru di lembaga konservasi setiap tahunnya.
Sebuah tindakan yang kejam
Sementara itu, Koordinator LSM Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke Den Haas mengaku marah karena atraksi sirkus lumba-lumba masih tetap dipertahankan di Indonesia. Sejauh ini ada tiga penyelenggara yang mendapat izin menggelar sirkus balap. Mereka adalah Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Taman Safari Indonesia, dan Wersut Seguni.
Bagi Femke, pembelaan apa pun yang ditawarkan TIJA tidak lebih dari sebuah kebohongan.
“Kalau benar mereka melakukannya sesuai standar IATA, maka wadahnya akan diisi air. Apalagi peraturan Dirjen di Indonesia standarnya sangat rendah dan tidak mengikuti standar internasional, kata Femke saat dihubungi Rappler pada Rabu malam, 18 Januari.
Sebagai orang yang berakal sehat, Femke bertanya kepada masyarakat apakah etis melihat lumba-lumba dipindahkan ke kota lain hanya untuk menghibur masyarakat. Padahal seharusnya habitat lumba-lumba berada di laut lepas.
JAAN, kata Femke, akan tetap menolak keras kegiatan sirkus lumba-lumba yang digelar TIJA. Pasalnya, TIJA sejak awal tidak pernah berniat melepasliarkan lumba-lumba tersebut ke alam liar.
“Mereka hanya dijadikan properti dan badut,” tegasnya.
Femke menjelaskan, selama dalam pengawasan TIJA, lumba-lumba dipaksa berperilaku tidak sesuai dengan habitat aslinya, seperti menari dan mendengarkan musik keras. Belum lagi harus berada di kolam yang sempit dan ditaburi kaporit.
“Ini adalah kekejaman terhadap hewan langka dan dilakukan dengan cara yang luar biasa,” kata Femke.
Belum lagi, saat berada di bawah pengawasan TIJA atau kendaraan sirkus lainnya, mamalia ini kelaparan. Idealnya, kata Femke, lumba-lumba menangkap ikan segar dari laut dengan sonarnya.
“Tapi itu, kalau mereka tidak menari, mereka tidak diberi makanan. Padahal ikan yang diberikan bukanlah ikan segar. Akhirnya banyak lumba-lumba yang mengalami masalah pada ususnya, kata Femke. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com