• February 8, 2026
Saat penyandang disabilitas ‘pamer’

Saat penyandang disabilitas ‘pamer’

Jakarta, Indonesia – Dodi Kurniawan segera menaiki ojek Difa yang dipesannya melalui SMS 15 menit sebelum kedatangan.

Dodi hendak pergi Alun-Alun Selatan Kota Yogyakarta dari Lapangan Dengung Sleman memenuhi undangan diskusi pemilihan kepala daerah yang ramah terhadap kelompok minoritas.

Jok yang lebar dan pijakan kaki yang rendah memudahkan Dodi, seorang penyandang disabilitas akibat polio di kaki kirinya, untuk naik ojek.

“Desain ojek sesuai dengan kebutuhan saya. “Kalaupun agak mahal, tidak masalah karena juga untuk pembinaan penyandang disabilitas,” kata pria yang juga Pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia Kabupaten Sleman itu, Selasa, September. 6 Tahun 2016, kata.

Dodi mengaku sudah menjadi pelanggan tetap ojek Difa, ojek yang didesain ramah terhadap penyandang disabilitas. sejak tahun lalu.

Menurut Dodi, ada kurang lebih 12 ribu penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman yang merasa dibantu oleh Difa.

“Karena banyak kebutuhan mereka yang dipahami dan dipenuhi oleh para driver difa dan ojek. “Terkadang teman-teman penyandang disabilitas membutuhkan sedikit waktu untuk mencari jalan agar bisa naik sepeda motor dan dibawa naik ojek biasa.”

“Terkadang tukang ojek responsif membantu mereka untuk datang dengan berbagai cara yang justru membuat tidak nyaman bagi penyandang disabilitas, misalnya dengan menjemput atau menggendongnya. “Dengan adanya ojek Difa, kami lebih mudah dalam berkendara dan membawa barang lebih banyak,” ujarnya.

Semua bisa dinonaktifkan

Ojek difa didirikan pada Desember 2015 lalu oleh Triyono, seorang pemuda penyandang disabilitas berusia 35 tahun.

Meski sebagian besar pelanggannya adalah penyandang disabilitas, Triyono yang menderita lumpuh akibat polio ini tidak mendedikasikan jasa ojeknya hanya untuk kelompok difabel.

“Awalnya pada bulan Juni 2015, saya memiliki tiga sepeda motor yang saya adaptasi untuk layanan ojek. “Setelah kami mencari teman manajer, baru stabil pada Desember 2015. Difa berasal dari kata difable karena pengemudinya penyandang disabilitas, bukan karena pelanggannya sebagian besar penyandang disabilitas,” kata Triyono kepada Rappler.

Lulusan Fakultas Pertanian ini membutuhkan waktu enam bulan untuk mencari pengemudi dan pelanggan ketiga sepeda motor modifikasinya. Tabungan pribadi dari peternakan dan usaha lainnya digunakan sebagai modal awal untuk mendirikan layanan ojek.

Triyono gigih membuka usaha ojek karena ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas seperti dirinya bisa mandiri dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. “Tidak mudah mencari pengemudi dan penumpang, keduanya sama-sama bermasalah,” ujarnya.

Menurut Triyono, banyak penyandang disabilitas yang mendapat pelatihan keterampilan dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat namun tidak memanfaatkan keterampilannya untuk mandiri.

“Ada rasa malu, takut dan kurang percaya diri karena berbeda dan diremehkan. Mereka juga sering menerima kekerasan verbal dari keluarga dekat dan masyarakat. Kekerasan verbal itu biasa, saya juga pernah mengalaminya,” ujarnya.

Tak jarang, kata Triyono, para tukang ojek Difa harus mendapat perlakuan buruk dari tukang ojek lain yang merasa lahannya diambil alih oleh penyandang disabilitas. Meski Triyono mampu menyelesaikannya dengan baik dengan datang ke lokasi, namun tak jarang para pengemudi Difa berhenti sejenak mengendarai ojeknya karena takut dan terpukul.

“Kami memerlukan lebih banyak bantuan untuk membangun semangat mereka. Penumpangnya pun sama, banyak juga yang enggan naik ojek Difa karena malu. Hal ini juga saya alami karena saya juga seorang manajer Difa. “Alasan mengapa mereka malu dan kemudian takut karena mereka merasa ojek tidak aman,” ujarnya.

Demikianlah seleksi alam terjadi. Seiring berjalannya waktu, muncul pola klien Difa yang sebagian besar adalah kelompok penyandang disabilitas. Mereka yang menggunakan kursi roda juga dapat diangkut dengan sepeda motor Difa yang dirancang khusus.

Penumpang Kaukasia untuk tur kota

Seiring berjalannya waktu, ojek Difa semakin akrab di telinga masyarakat, termasuk wisatawan. BBanyak wisatawan mancanegara (baca bule) yang menggunakan jasa Difa. Dan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, Triyono memberikan pelayanan wisata kota dengan biaya Rp 25 ribu per jam dengan minimal order Rp 100 ribu selama empat jam.

Armada Difa pun kini bertambah dari tiga menjadi 15 unit sepeda motor. Untuk mengubahnya, Triyono membutuhkan modal sekitar Rp10 juta untuk sepeda motor manual, dan Rp14 juta untuk sepeda motor matic. Selain dana pribadi, Triyono mengaku menerima dana CSR dari perusahaan dan sedekah dari donatur.

Target saya tahun ini ada 100 pengemudi dan satu armada, kata Triyono seraya menambahkan saat ini ada 50 nama yang masuk daftar tunggu menjadi pengemudi.

Difa bekerja dengan bantuan sejumlah media sosial, seperti BBM, WhatsApp, Twitter, dan juga hotline. Padahal meski tidak secanggih aplikasi GoJek misalnya, sistem tarif Difa juga menggunakan prinsip jarak.

Ojek penerima layanan akan berkomunikasi dengan operator melalui Whatsapp, ia akan menunjukkan biaya berdasarkan jarak menggunakan Google Maps. Biayanya Rp 20 ribu per lima kilometer pertama, lalu Rp 2500 per kilometer.

“Untuk layanan ini, kami hanya mengambil tidak lebih dari 10 persen pendapatan ojek setiap harinya. Pengelolaan nombok tidak menjadi masalah. “Mereka (pengendara) bisa membawa pulang sepeda motor Difa,” ujarnya.

Triyono mengaku tengah menyiapkan aplikasi khusus yang lebih lengkap untuk memudahkan pengemudi dan penumpang. Aplikasi yang disiapkan bermacam-macam, antara lain pengiriman barang, penumpang, wisata kota, dan mengirim makanan.

Perkembangan ini tak lepas dari apresiasi yang diterima Difa melalui lomba kreativitas yang digelar salah satu perusahaan swasta Tanah Air.

“Keunggulannya, sepeda motor kami lebih lebar, sehingga makanan yang dipesan bisa masuk banyak kotak, dan barang yang masuk lebih banyak. Misalnya, berguna untuk membantu siswa memindahkan atau mengangkut penyandang disabilitas dengan kursi roda. “Aplikasi ini rencananya bisa dioperasikan bulan depan,” kata Triyono.

Manajer Difa pun berani menikah

Meski baru berusia satu tahun, para pengendara sudah merasakan segudang keunggulan ojek Difa. Salah satunya adalah Aris Wahyudi.

“Sebelumnya saya banyak bekerja di tempat lain, mulai dari sablon hingga berjualan salak. “Tapi saya baru berani menikah setelah dua bulan bekerja di Difa,” kata Aris Wahyudi.

Pemuda berusia 30 tahun itu menikah dengan istrinya pada Mei lalu.

Penghasilan dari Difa memberi keberanian bagi pria cacat akibat cedera dan kecelakaan kerja itu untuk melepaskan buah hatinya.

“Keluarga istri saya juga mempertanyakan penghasilan saya. Alhamdulillah, rata-rata saya bisa mendapat penghasilan Rp 100 ribu setiap harinya di Difa. “Kantor hanya mengenakan tarif 10 persen untuk ojek dan sekitar 30 persen untuk city tour karena kantor sedang mencari penumpang,” ujarnya.

Ia pun optimis masa depannya bersama Difa akan lebih baik setelah aplikasi tersebut beroperasi. Menurut dia, kursi yang lebar dan handling yang baik menjadi daya tarik Difa untuk menarik penumpang dari kelompok difabel.

“Kursi kami luas, jadi bisa memuat tiga orang sekaligus. Walaupun banyak ojek lain yang tidak suka, tapi itu tidak jadi masalah, yang namanya persaingan kerja buat saya. Memang kadang pengendara Difa lain tidak berani masuk jika didorong ojek lain, tapi saya tidak karena tidak pernah menggunakan kekerasan, ujarnya. – Rappler.com

Keluaran Sidney