Ma’ruf Amin meminta kunjungan Luhut tidak dikaitkan dengan pernyataan SBY
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Itu hanya kunjungan biasa. Saya dikunjungi karena saya sudah tua.”
Jakarta, Indonesia – Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta masyarakat tidak mengaitkan kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan ke kediamannya dengan pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) .
“Tidak ada apa-apa. Jangan menghubungkannya. Itu hanya persahabatan biasa. Saya didatangi karena saya sudah tua, kata Ma’ruf, Rabu, 2 Februari 2017 di kediamannya Jalan Deli Lorong 27, Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Menurut Ma’ruf, kedatangan Luhut Panjaitan didampingi Pangdam Jaya Mayor Teddy Lhaksmana dan Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan ke rumahnya hanya untuk memintanya membantu menjaga keutuhan NKRI.
“Tentu saja dia melaporkan situasinya, menyampaikan informasi dengan baik. Alhamdulillah dan keadaan tidak bisa dihancurkan. Keutuhan negara dan bangsa harus dijaga,” kata Maruf.
Kunjungan Luhut Panjaitan bersama Pandam dan Kapolda Metro Jaya ke rumah Ma’ruf Amin hanya berselang beberapa jam setelah SBY menggelar konferensi pers. Dalam jumpa pers tersebut, SBY antara lain mengungkapkan kemarahannya atas penyadapan yang diduga dilakukan melalui telepon selulernya.
Isu penyadapan ini terungkap dalam sidang dugaan penodaan agama yang melibatkan terdakwa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama yang digelar pada Selasa, 31 Januari di Kementerian Pertanian.
Saat itu, Ma’ruf Amin dipanggil sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menjelaskan proses keluarnya pernyataan agama MUI yang menyatakan pidato Ahok pada Surat Al Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka adalah penistaan agama.
Dalam persidangan, salah satu tim kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat, menanyakan soal pertemuan Ma’ruf dengan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni di kantor PBNU pada Oktober lalu.
Tak hanya itu, Humphrey juga menanyakan soal panggilan telepon mantan Presiden SBY yang diduga meminta Agus-Sylvi diterima sekaligus mengeluarkan fatwa terhadap Ahok.
Saat dibantah Ma’ruf, Humphrey menyebut timnya punya bukti percakapan telepon SBY dan Ma’ruf. Ia mengaku timnya sudah mengetahui jauh sebelum persidangan berlangsung namun sengaja tidak mempublikasikannya.
Bukti percakapan telepon tersebut membuat SBY curiga teleponnya telah disadap. —Rappler.com