• March 4, 2026

Masjid Ahmadiyah di Kendal dirusak massa

Kehancuran tersebut menyebabkan masjid hancur dan Al-Quran berserakan di lantai

JAKARTA, Indonesia (UPDATED2) – Masjid Ahmadiyah di Desa Gemuh, Kendal, Jawa Tengah dirusak massa tak dikenal pada Minggu malam, 22 Mei.

Belum ada laporan adanya korban jiwa dalam kejadian ini.

Ketua Pemuda Ahmadiyah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Roy Attaul Djamil mengatakan, masjid tersebut sebenarnya sudah lama ditinggalkan.

Konstruksi baru dimulai lagi beberapa bulan lalu, kata Roy kepada Rappler melalui telepon, Senin pagi, 23 Mei.

Namun sejak awal pembangunan kembali, Ahmadiyah mendapat intimidasi dari pihak-pihak yang tidak menyukai kelompoknya. Kepala desa setempat juga mengatakan, warga desa tetangga tidak menginginkan masjid tersebut dibangun.

Namun pembangunan terus berlanjut hingga Minggu sore lalu. Meski ada beberapa perajin yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan intimidasi.

Puncaknya terjadi pada Minggu pukul 22.30 WIB. Menurut pengurus Ahmadiyah lainnya, Asep Jamaluddin, sekelompok orang merusak masjid saat hujan deras. Kehancuran tersebut menyebabkan masjid menjadi reruntuhan sehingga menyebabkan Alquran berserakan di lantai.

Baru pada Senin pagi, Ketua Gemuh Ahmadiyah, Tazis, membeberkan kabar tersebut kepada pengurus lainnya.

Hingga saat ini, pengurus Ahmadiyah belum mengetahui secara pasti kelompok mana yang merusak masjidnya.

Perselisihan harus diselesaikan secara hukum

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pihaknya telah menugaskan Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah untuk mengirimkan tim guna mengidentifikasi kejadian tersebut dan mencari solusinya.

“Jika benar terjadi kerusakan pada masjid, maka sangat disayangkan hal tersebut terjadi,” kata Lukman dalam pesan singkatnya kepada Rappler.

“Menghadapi perbedaan yang menimbulkan perselisihan, kita semua harus mengungkit dan menyelesaikannya melalui proses hukum, bukan dengan main hakim sendiri apalagi dengan kekerasan.”

Tanggapan umat Islam

Aksi perusakan Masjid Ahmadyah pun menuai reaksi keras dari umat Islam. Pengurus Daerah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menyebut tindakan anarkis tersebut merupakan kejahatan yang harus diusut oleh penegak hukum.

Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin mengatakan, apapun alasan yang digunakan warga untuk merusak masjid Ahmadyah tidak bisa dibenarkan.

“Meski aliran agama yang dianut jamaah Ahmadyah dinilai menyimpang, namun warga tidak boleh merusak tempat ibadah apalagi masjid. “Jangan pernah merusak masjid,” ujarnya saat dihubungi Rappler, Senin, 23 Mei.

Ia menduga rusaknya Masjid Ahmadyah kemungkinan besar disebabkan oleh ketidaksenangan segelintir orang terhadap ajaran yang disebarkan Ahmadyah.

Namun dalam hukum Islam dan hukum Indonesia, tindakan perusakan tersebut mengganggu kebebasan beragama yang ditaati setiap warga negara.

Ia juga mendesak polisi menindak tegas oknum yang sengaja merusak Masjid Ahmadyah Kendal.

Negara harus melindungi Ahmadiyah

Negara, kata Abu, wajib melindungi jamaah Ahmadiyah yang tertindas akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.

“Negara harus turun tangan untuk melindungi Ahmadyah. Kalau ada yang bilang jamaahnya mengajarkan ajaran sesat dan menyimpang, buktikan di pengadilan. Jangan mengambil keputusan sendiri. “Itu kejahatan,” kata Abu.

Polisi harus turun ke lokasi untuk mengusut tuntas dalang perusakan masjid, lanjutnya.

Sementara itu, Ketua MUI Jawa Tengah Ahmad Daroji menyesalkan tindakan anarkis yang dilakukan jemaah Ahmadyah.

Ia heran mengapa Ahmadyah kembali menjadi sasaran amukan massa untuk kesekian kalinya, padahal hingga saat ini situasi di Kendal relatif tenang.

“Saya akan mengumpulkan informasi dari tokoh agama setempat tentang mengapa hal ini masih terjadi. “Kita akan segera berpuasa, sebaiknya jauhi tindakan kekerasan dan mari kita berkonsultasi untuk menyelesaikan setiap masalah,” kata Daroji.

Sementara menurut seorang saksi mata, Kusnuyatin, perusakan masjid milik jemaah Ahmadyah tersebut dilakukan oleh orang tak dikenal dalam kondisi hujan deras, Minggu dini hari.

Seingatnya, saat itu ada ratusan orang yang datang ke Masjid Ahmadyah dengan pakaian basah kuyup. “Posisi saya tadi malam di rumah dan tidak berani melihat ke luar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Purworejo Ali Muhtadi mengaku sebelumnya ada warga desanya yang menolak pembangunan masjid Ahmadyah. Masjid ini dalam keadaan setengah direnovasi karena sudah lama ditinggalkan.

“Tetapi ketika warga melihat bagaimana masjid tersebut direnovasi, mereka menjadi emosional. Beberapa orang marah dan merusak bangunan tersebut. “Yang merusaknya banyak sekali dan apakah itu warga saya semua, saya tidak tahu karena situasinya hujan deras,” kata Ali. – dengan pelaporan oleh Fariz Fardianto/Rappler.com

BACA JUGA: