Berakhirnya perjuangan Agus Yudhoyono di Pilkada DKI Jakarta
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – “Dengan penuh kesatria dan rahmat, saya menerima kekalahan saya di Pilgub DKI Jakarta,” kata calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, dalam pidatonya di Wisma Proklik, Jakarta Pusat, Rabu malam, 15 Februari.
Memang belum ada hasil akhir perolehan suara yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Namun dari seluruh hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan berbagai lembaga survei, pasangan calon nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni berada di urutan terbawah.
Mereka hanya memperoleh 16 hingga 20 persen suara dalam hasil hitung cepat. Sebaliknya, paslon nomor urut 2 Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan paslon nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno diprediksi bakal melaju ke putaran kedua Pilkada DKI.
Hasil cepat rupanya sudah cukup membuat Agus-Sylvi mengaku kalah di Pilkada DKI Jakarta 2017.
Gerilya politik
Agus-Sylvi menjalani proses kampanye yang panjang pada bulan Oktober hingga Februari untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan programnya kepada warga Jakarta.
Saat diwawancarai Rappler, Juru Bicara Tim Pemenangan Agus-Sylvi, Rizki Aljupri mengatakan paslon nomor urut 1 lebih mengutamakan gerilyawan politik sebagai strategi utama kampanyenya.
Gerilya politik atau disebut juga “blusukan” dianggap oleh tim pemenangan sebagai cara paling efektif untuk meraih suara rakyat.
“Kami sangat yakin, untuk mendapatkan suara masyarakat, kita harus bertemu langsung dengan mereka,” kata Rizki kepada Rappler, Rabu, 1 Februari.
Tepat dua pekan menjelang hari pemungutan suara Pilkada DKI 2017, Rizki mengaku dirinya dan tim merasa strategi tersebut cukup efektif. Namun ternyata Pilkada Serentak pada 15 Februari lalu menunjukkan hasil berbeda.
Agus memang unggul dalam beberapa hasil survei di awal kampanye. Namun setelah perdebatan publik, elektabilitasnya terus menurun.
Faktor penyebab kekalahan Agus
Menurut dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Ikhsan Darmawan, faktor pertama yang menyebabkan kekalahan Agus di Pilkada DKI adalah minimnya pengalaman, khususnya di dunia politik.
“Sosok Agus paling muda. Jadi kalau Gubernur DKI, mungkin masyarakat masih melihat dia butuh pengalaman dulu, jam terbangnya masih belum cukup, kata Ikhsan kepada Rappler, Kamis, 16 Februari.
Kurangnya soliditas partai pendukung pasangan calon Agus-Sylvi juga menjadi permasalahan tersendiri. Jika melihat jumlah kursi yang dikuasai Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) di DPRD DKI Jakarta, seharusnya Agus bisa meraih minimal 25 persen. dari suara-suara itu.
“Karena partai-partai ini punya kader di kabinet. Mereka juga khawatir jika terlihat kokoh maka akan terancambergerak lagikarena sebelumnya ada pembicaraan tentang kemauan bergerak lagi,” kata Ikhsan.
Ikhsan pun menilai buruknya performa Agus-Sylvi dalam debat publik menjadi salah satu faktor kekalahan paslon tersebut.
“Mungkin waktu perdebatan juga mempengaruhinya, tapi tidak begitu meraih. Kemudian sebelum debat resmi, dia diundang dua kali dan tidak mau hadir. Saya kira ini juga menjadi catatan,” ujar dosen yang juga Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pembangunan dan Politik ini.
Ikhsan mengatakan, meski tidak semua pemilih di Jakarta menyaksikan debat tersebut, namun tetap penting untuk mendapatkan suara dari kelompok tersebut ragu yang ingin menggunakan debat sebagai alat untuk menentukan pilihan mereka.
Gerilya politik yang diusung sebagai strategi utama paslon nomor urut 1 juga dinilai melenceng.
“Misalnya Ahok bisa dimaksimalkan di Utara (Jakarta) dan Barat (Jakarta); memang mereka tahu bahwa kantong-kantong di sana menopang mereka dengan kuat. Anies-Sandi juga tahu bisa menguasai Selatan (Jakarta), Selatan dan Timur (Jakarta) dan itu sudah terbukti. Namun Agus belum jelas siapa yang mampu melakukannya memperoleh.”
“Serangan” yang dilakukan Antasari tidak signifikan

Sehari menjelang pemilu, Selasa 14 Februari, Antasari Azhar memberikan kado manis kepada mantan Presiden ke-6 RI sekaligus ayah Agus, Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini mengaku SBY turun tangan untuk menghentikannya menahan Aulia Pohan, mertua Agus.
Cikeas, kata Antasari, kemudian memberangkatkan pengusaha Harry Tanoesudibjo ke kediamannya di kawasan Bumi Serpong Damai. Kepada Antasari, Hary Tanoe mengaku diutus Cikeas. Sesampainya di rumah, saya minta ‘jangan tangkap Aulia Pohan’, kata Antasari.
Kabar yang begitu mengerikan itu dinilai SBY sebagai upaya melemahkan elektabilitas putranya yang akan bertarung di Pilkada DKI Jakarta keesokan harinya.
Maksud dihancurkannya nama SBY oleh Antasari & aktor di belakangnya ~ agar Agus-Sylvi kalah besok, 15 Feb 2017 di pilkada. *SBY*
— SB Yudhoyono (@SBYudhoyono) 14 Februari 2017
Namun, menurut Ikhsan Darmawan, “serangan” yang dilakukan Antasari tidak menjadi faktor signifikan dalam kekalahan Agus.
“Ada. Tapi menurut saya tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Ikhsan menjelaskan, elektabilitas Agus memang sudah anjlok jauh sebelum Antasari membuka suaranya terhadap SBY. Berbagai lembaga survei memperkirakan Agus memang akan menderita di Pilkada DKI Jakarta.
“Perkiraannya masih berkisar 20-21 persen. Lalu ketika D-Day keluar dari situ, wajar menurut saya akan ada penurunan. “Tapi itu (pernyataan Antasari) mengurangi perolehan suara pemilih secara signifikan, bukan seperti itu,” ujar penulis buku tersebut. Membongkar permasalahan dalam pilkada itu.
Skenario masa depan Agus

Di usianya yang sudah 38 tahun, karier politik Agus diyakini masih panjang. Menurut Ikhsan, besar kemungkinan Agus menjadi calon legislatif dari Partai Demokrat DPR RI pada 2019.
“Dari segi kualitas saja, dia lebih hebat dari adiknya (Edhie Baskoro Yudhoyono). Adiknya bisa jadi anggota DPR, menurut saya Agus lebih dari itu. Bisa jadi calon DPR di Jakarta atau mungkin di daerah Pacitan, Jawa Timur, ujarnya.
Sementara kemungkinan Agus bisa kembali mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah di daerah lain dinilai agak sulit, apalagi biaya yang harus dikeluarkan sangat besar.
“Kecuali mereka punya banyak uang untuk percobaan kedua,” pungkas Ikhsan.—Rappler.com