Kisah dibalik kampanye Agus-Sylvi
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni kerap memperoleh suara terbanyak dalam berbagai survei yang digelar jelang Pilkada Serentak 15 Februari.
Tentu saja, masa kampanye yang telah berjalan sejak Oktober 2016 juga mempunyai peranan yang tidak kecil. Tim Agus-Sylvi menampilkan gaya kampanye yang tidak biasa, mulai dari turun panggung hingga mengenakan jaket ala militer.
Siapa yang bertanggung jawab mengembangkan strategi kampanye? Apa peran Agus dalam kampanye tersebut dan apakah ayahnya serta mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki peran khusus? Simak pemaparan juru bicara tim pemenangan Agus-Sylvi Rizki Aljupri kepada Rappler Indonesia pada Rabu, 1 Februari.
Fokus pada gerilyawan
Tim pemenangan Agus-Sylvi menggunakan dua strategi utama, yakni dibawah garis Dan di atas garis. Rizki mengaku timnya mengedepankan strategi dibawah garisyakni dengan melakukan gerilya politik.
Gerilya politik atau disebut juga “blusukan” dianggap oleh tim pemenangan sebagai cara paling efektif untuk meraih suara rakyat.
“Kami sangat yakin bahwa kami harus bertemu langsung dengan mereka untuk mendapatkan suara masyarakat.”
Agus dan Sylvi mengunjungi lima hingga sepuluh tempat setiap hari. Penentuan lokasinya berdasarkan undangan yang datang dari tokoh masyarakat setempat dan tokoh partai di masing-masing cabang dan cabang partai pengusung di tingkat kecamatan hingga kecamatan.
Misalnya saja di Pulo Gadung beberapa minggu lalu ada Pak Hasbiyallah Ilyas, anggota DPRD dari PKB. Beliau berceramah bersama warga sekitar dan mengundang Mas Agus. Begitu pula dengan Haji Lulung yang mengadakan kegiatan yang diundang Mas Agus, dan seterusnya.”
Selain bertemu langsung dengan masyarakat, kampanye juga dilakukan melalui media sosial dan iklan di media massa.
Tokoh strategis
Rizki mengaku tim pemenangan Agus-Sylvi tidak mempekerjakan pihak manapun sebagai konsultan politik dalam kampanyenya. Itulah sosok Wisnu Wardana, pengusaha berusia 42 tahun yang ditunjuk menjadi manajer kampanye tim Agus-Sylvi yang berperan sebagai pemimpin dalam upaya terpilihnya Agus-Sylvi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. menang.
“Dialah yang memimpin komando, semuanya dibantu oleh struktur atau mesin pendukung partai, seperti Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). ).”
Wisnu Wardana bertugas membentuk tim konsultan politik sendiri dan menentukan strategi kampanye.
“Pak Wisnu ada di bagian itu manajer kampanye, saya, Tuan. Rico Rustombi dan Rachland Nashidik sebagai juru bicara, serta Ibu. Imelda di departemen media. Jadi ini seperti mendirikan konsultan politik kita sendiri.”
Banyak spontanitas
Kampanye Agus-Sylvi banyak yang unik, dari video tantangan manekin hingga aksi melompat dari panggung. Rizki mengatakan, bentuk-bentuk tersebut kebanyakan bersifat spontan, baik dari Agus sendiri maupun dari tim pemenangan.
“Ada hal yang dibicarakan khusus oleh tim, tapi sebenarnya lebih bersifat spontanitas Mas Agus.”
Salah satu contohnya adalah pakaian yang dikenakan sebagai seragam tim pemenangan yang didesain seperti tentara karena latar belakang Agus. Ada juga video tantangan manekin yang merupakan ide spontan dari tim pemenang.
keterlibatan Agus-Sylvi
Dalam menentukan strategi kampanye yang dipilih, Agus lebih berperan dalam garis besarnya. Sedangkan segala hal teknis dipikirkan oleh tim pemenang.
“Misalnya kalau garis besarnya ‘oh, kita mau fokus pembangunan Jakarta dengan melibatkan seluruh warganya’, maka Mas Agus juga ikut terlibat. bertukar pikiran– miliknya. Atau misalnya ‘kita ingin fokus pada program yang berdampak pada masyarakat’, Mas Agus juga terlibat dalam persiapannya.”
Namun, bentuk dan detail kampanye semuanya dirancang oleh tim pemenang. Barulah dia meminta persetujuan Agus. Salah satunya saat debat Pilgub II pada Jumat, 27 Januari lalu, Agus-Sylvi mengenakan kaos dan jaket sebagai seragamnya.
“Nah, kita harus tanya ke Mas Agus apakah bapak nyaman ikut debat pakai kaos, yang lain pakai kaos. Kalau nyaman ya menunjukkan.”
Di sisi lain, calon wakil gubernur Sylviana Murni juga terlibat sama besarnya dengan Agus, namun dengan segmentasi berbeda.
“Misalnya Bu Sylvi lebih fokus pada ajaran ibu-ibu majelis taklim, ini sesuai dengan segmennya. “Kalau Mas Agus cocok bertemu dengan perwakilan organisasi masyarakat atau kelompok anak muda, kami akan sesuaikan dengan segmennya.”
peran SBY
Sementara ayah Agus sekaligus mantan Presiden SBY, menurut Rizki, tidak berperan langsung dalam proses kampanye putra sulungnya itu.
“Kalau untuk hari ke hari Saya tidak tahu apa-apa tentang teknis pelaksanaannya. Tapi kalau misalnya kita sebagai ayah memberikan nasehat kepada anak kita di rumah, kita tidak tahu.”
Rizki mengatakan, peran SBY hanya sebatas Ketua Umum Partai Demokrat dan hanya sesekali datang ke acara kampanye.
Misalnya saja seperti kita ketahui, penetapan Mas Agus sebagai calon gubernur pada awalnya melalui diskusi antara Ketua Umum dan Ketua Umum Partai, nah Pak SBY dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Beberapa. Beberapa, tentu saja terlibat dalam proses itu. Tapi itu saja.”
Cukup efektif?

Menurut Rizki, strategi kampanye yang dilakukan tim pemenangan Agus-Sylvi sejauh ini cukup efektif mengingat tingginya perolehan suara Agus dalam survei-survei terkini.
“Awalnya, bulan Oktober, kita melihat hampir tidak ada yang mengira Mas Agus akan menjadi calon gubernur. Dan pada rekaman pertama kita melihat Mas Agus di angka nol koma atau satu persen. Namun dalam waktu 2-3 bulan bisa meroket ke posisinya saat ini.”
Tim pemenang merasa bersyukur atas hasil ini.
“Kami Wow benarkah. “Kami sangat bersyukur, artinya masih banyak warga Jakarta yang menaruh harapan baru di pundak Mas Agus dan Mpok Sylvi.”
Namun jawaban mengenai efektivitas strategi kampanye tim pemenangan Agus-Sylvi baru benar-benar terjawab setelah pilkada serentak pada 15 Februari mendatang. —Rappler.com