• May 9, 2026

Tekanan untuk membubarkan FPI semakin menguat di Jawa Barat

Petisi tuntutan pembubaran FPI telah diajukan ke Gubernur Jawa Barat untuk disampaikan kepada Presiden Joko Widodo

BANDUNG, Indonesia – Tuntutan pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI) terus berlanjut di Kota Bandung. Lebih dari seribu orang dari berbagai elemen berkumpul di depan Gedung Sate pada Kamis 19 Januari 2017.

Mereka menggelar Seruan Akbar Koalisi Rakyat Jawa Barat untuk mengumpulkan petisi pembubaran Front Pembela Islam. Aksi ini juga bertujuan untuk mendukung Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan yang mengusut kasus penodaan Pancasila yang diduga dilakukan pimpinan FPI Rizieq Shihab.

Di antara massa yang memenuhi halaman Gedung Sate adalah putri Bung Karno, Sukmawati Soekarnoputri. “Saya bersyukur kader nasionalis bertekad untuk berdiri dengan berani membela Pancasila,” kata Sukmawati saat memberikan sambutan.

Sukmawati melaporkan pimpinan FPI Rizieq Shihab atas dugaan pencemaran nama baik dan penodaan Pancasila pada Oktober tahun lalu. Kasus yang ditangani Polda Jabar sudah memasuki tahap penyidikan. Namun Rizieq belum ditetapkan sebagai tersangka.Saya akan terus memantau kasus ini, kata Sumawati.

Selain Sukmawati, turut hadir pula putra Bung Karno, Toto Suryawan Soekarnoputra yang merupakan putra Sukarno dari pernikahannya dengan Kartini Manoppo. Toto merasa terpanggil untuk mendukung kakak perempuannya, Sukmawati.

“Aku dan adikku, Nona. Sukmawati, akan turun gunung bersama bangsa Indonesia, jika Pancasila dihina, kita akan maju tanpa mundur, ”kata Toto yang ikut berorasi.

Berbagai perwakilan elemen masyarakat pun turut memberikan sambutan di panggung yang disiapkan panitia di tengah Jalan Diponegoro. Massa yang hadir beberapa kali meneriakkan “Bubarkan FPI”.

Ketua Dewan Adat Sunda Ari Mulia Subagdja dalam sambutannya mengatakan menolak kehadiran FPI di Jawa Barat. Ari menilai FPI telah menghina Pancasila dan budaya. Dia mengingatkan saya pada kasus sampurasun, sapaan Sunda yang disalahartikan Rizieq Shihab sebagai “campuran racun” yang ia laporkan ke polisi pada 2015.

“Kami menolak keras keberadaan FPI di Jawa Barat. Kehadiran FPI tidak diinginkan oleh masyarakat Jabar, khususnya masyarakat dewan adat Sunda, tegasnya.

Beberapa perwakilan parpol juga hadir, seperti Hanura dan PDI Perjuangan. Adi Yuhana, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, mengaku siap menghadapi siapapun yang mengganggu Pancasila.

“Jika Rizieq Shihab ingin menantang kita yang membela Pancasila, maka kita siap menghadapinya, maka Pancasila harus kita jaga,” kata Adi.

Sementara itu, hadir sekitar 300 orang asal Cirebon dari kalangan santri asrama Islam. Sekretaris Jenderal Forum Santri Wilayah III Jabar Raden Sigit Permadi Purbaningrat mengatakan kehadiran mereka untuk turut serta menjaga keutuhan NKRI.

Sigit menyatakan, pihaknya menilai FPI adalah saudara seiman. Menurutnya, FPI telah dirusak oleh kelakuan anggotanya. Ia berharap aparat menindak tegas oknum FPI yang membuat kekacauan.

Disinggung pendapatnya mengenai petisi pembubaran FPI, Sigit mengaku setuju, jika terus menimbulkan kericuhan.”Dalam arti kata terus menimbulkan kericuhan, kami setuju, dan sangat setuju,” ujarnya.

Petisi pembubaran FPI ditandatangani oleh perwakilan 62 elemen masyarakat, antara lain Sukmawati Soekarnoputri sebagai perwakilan Partai Marhaenisme PNI, Kiagus Zainal Mubarak dari Sancang Declaration Interfaith Forum (FLADS), KH Nuradi dari Pagar Nusa Barat, dan Mohammad Fauzan Rachman dari Gerakan Masyarakat Bawah. Indonesia (GMBI).

Sukmawati Soekarnoputri menyerahkan petisi tersebut kepada Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Sate. Hadir dalam penyerahan petisi tersebut, Kapolda Jabar Irjen Pol. Anton Charliyan dan Pangdam III Siliwangi Jenderal M. Herindra.

Ada tiga poin yang disampaikan dalam petisi tersebut, salah satunya meminta Presiden Joko Widodo, DPR, MPR, Panglima TNI, Kapolri, dan pejabat tinggi pemerintah lainnya segera membubarkan FPI dan menetapkannya sebagai organisasi terlarang.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, seluruh pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Kominda) berkomitmen menjaga situasi kondusif di Jabar. Heryawan pun menegaskan, dirinya tidak menoleransi penistaan ​​agama.

“Tidak boleh menghina Pancasila, tidak boleh menghina budaya, tidak boleh menghina perorangan. “Kita hidup berbeda, bukan untuk menghujat, bukan untuk saling menghina,” kata Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan.

Sementara Kapolda Jabar Irjen Pol Anton Charliyan tak berkomentar sama sekali soal munculnya dukungan terhadap dirinya. Beberapa hari terakhir, Anton menjadi sorotan karena dianggap mendukung ormas GMBI.

Ketua Umum GMBI Mochamad Fauzan Rachman berharap gubernur meneruskan permohonan ke pemerintah pusat. “Jangan sampai terjadi gesekan,” ujarnya. —Rappler.com

uni togel