• March 20, 2026

Berkah manis Ramadhan bagi pedagang musiman di Malang

‘Hari pertama puasa kemarin kita buat 500 kaleng, besoknya turun jadi 400 dan sekarang rata-rata 200’

MALANG, Indonesia – Ramadhan yang terjadi setahun sekali membawa berkah bagi para pedagang musiman di Malang, Jawa Timur. Mulai dari pedagang buah hingga pembuat makanan tradisional mengaku mendapat untung selama Ramadan. Meskipun demikian produksinya, mereka masih belum mampu memenuhi permintaan yang cenderung meningkat.

Makanan tradisional cao, misalnya. Suratemi, salah satu dari dua produsen cao di Malang, mengakui permintaan makanan berbahan dasar daun cao meningkat hingga rata-rata 200 kaleng sehari, dibandingkan sebelum Ramadhan yang mencapai 50 kaleng.

“Hari pertama puasa kemarin kami buat 500 kaleng, besoknya turun menjadi 400 dan sekarang rata-rata 200,” kata Hariati, putri Suratemi, kepada Rappler, Jumat, 10 Juni.

Rumah ibu biasa dikenal dengan nama Mak Cao di Pasar Kebalen Jalan Laksamana Martadinata Gang 6 Kota Malang juga tumpukan penuh kayu bakar.

Puluhan kaleng alumunium berisi cao berjejer di pinggir rumah kecilnya, menunggu untuk diambil pembeli. Makanan yang sekilas terlihat seperti agar-agar berwarna gelap ini sering disantap bersama es krim dawet atau berbagai minuman olahan lainnya.

Seperti makanan tradisional lainnya, cao dimasak dengan cara yang sederhana. Saat ini Mak Cao mempekerjakan enam pemuda untuk memasak 40 kilogram daun cao untuk memproduksi sekitar 200 kaleng cao setiap hari.

Proses pembuatan cao memakan waktu hingga 5 jam dengan tungku kayu kering dan tong besar sebagai kuali untuk merebus cairan cao. Sari daun cao dicampur dengan larutan kanji dan tawas yang juga direbus hingga mendidih. Kaleng alumunium digunakan sebagai wadah untuk mendinginkan cao hingga pembeli mengambilnya.

Hariati menjual setiap kaleng cao seharga Rp 27.000, naik Rp 2.000 dari harga sebelum Ramadhan.

“Kalau Ramadan seperti ini, semua bahan baku akan bertambah. Daun cao yang kami ambil dari Ponorogo berbunga ketika Ramadhan tiba. “Harga cao juga kita naikkan,” kata Hariati.

Tiap kaleng cao bisa dipotong menjadi 30 bagian yang dijual rata-rata Rp 3.000 per potong oleh pengecer di sejumlah pasar di Malang Raya. Diakui Hariati, pembuat cao di Malang hanya ada dua orang, yakni dirinya dan keponakannya di kawasan Gadang. Sedangkan produknya mampu bertahan hingga tiga hari.

Menurut Hariati, permintaan Ramadhan tahun ini juga lebih besar dibandingkan tahun lalu karena Ramadhan tahun lalu datang saat Malang masih musim hujan.

“Kalau panas-panas dan dijual es krim, Ramadhan tahun lalu kan musim hujan, jadi pengunjungnya tidak sebanyak sekarang,” ujarnya.

Kenaikan harga Rp 2.000 lebih mahal juga tidak mengurangi permintaan pasar. Bahkan, mereka kerap kewalahan menolak pesanan karena stafnya sudah tidak mampu lagi melakukannya.

Keenam pemuda yang saat ini bertugas memasak cao dikhawatirkan tidak fokus dan menghasilkan cao yang encer dan rusak jika terlalu lelah.

“Kalau adonan terlalu banyak airnya bisa encer, kembalikan cao. “Cao-nya harus kita ganti,” kata Hariati. Dia memperkirakan permintaan akan tetap tinggi hingga hari ke-20 puasa Ramadhan.

Pedagang buah kebingungan mencari perbekalan

Hal serupa juga dialami Sayid, seorang pedagang buah di Pasar Gadang, Kabupaten Malang. Sayid mengaku mampu menjual melon hingga 5 ton setiap harinya. Ia bahkan bisa menjual hingga 10 ton jika barangnya tersedia di pasaran.

“Saya mencari melon di Tuban, Lamongan dan Sidoarjo, daerah panas. Rata-rata 5 ton per hari. “Kalau saya punya barangnya, saya bisa menjualnya sampai 10 ton,” kata Sayid.

Buah melon yang dikenal juga dengan sebutan semangka belanda sedang mengalami kenaikan harga. Jika sebelum Ramadhan harganya berkisar Rp 2.000 per kilo, kini melon kualitas bagus dijual hingga Rp 5.500 per kilo. Pada Ramadhan tahun lalu, harga melon mencapai Rp 6.000 per kilo, menurut Sayid.

“Tahun ini sepertinya belum bisa mencapai Rp 6.000 karena saat ini sedang awal musim panen melon dan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. “Jadi stoknya banyak,” lanjutnya.

Selain melon, Sayid juga meraup penjualan komoditas jeruk siam. Diakui konsumsi buah selalu meningkat di bulan Ramadhan. Harga jeruk pun naik dari Rp 8.000 per kilo menjadi Rp 10.000 per kilo untuk kualitas terbaik. Sayid menjual hingga 2 ton setiap harinya.

“Stok jeruk lebih banyak dibandingkan melon karena musim panen dimulai 4 hingga 11 bulan kemudian,” ujarnya.

Namun harga jeruk juga meningkat karena modal transportasi dan biaya tenaga kerja meningkat selama bulan puasa. Para pedagang mengatakan permintaan akan kembali normal setelah Ramadhan. – Rappler.com

Keluaran Hongkong