Setelah pembangunan datanglah kehancuran
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Anomali cuaca yang menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi di beberapa wilayah memang menimbulkan bencana di Indonesia.
Misalnya saja bencana tanah longsor di Jawa Tengah yang menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan lainnya mengungsi. Puluhan rumah di Sangihe, Sulawesi Utara, juga ikut terendam banjir.
Tapi, benarkah semua kerusakan ini disebabkan oleh alam saja?
Peraturan yang eksploitatif
Pakar sosiologi lingkungan dan pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Suryo Adiwibowo, punya pandangan berbeda.
Eksploitasi alam secara masif yang juga difasilitasi oleh pemerintah juga turut berkontribusi, ujarnya Suryo Rabu 22 Juni di Jakarta.
Ia memaparkan hasil kajiannya terhadap peraturan pemerintah daerah di Pulau Jawa yang ternyata cenderung merusak lingkungan.
Seperti diketahui, luas hutan alam dan pertanian di Pulau Jawa mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 1800 terdapat 10 juta hektar lahan hutan. Namun pada tahun 2005 hanya tersisa 0,4 juta hektar.
“Jangan tanya di tahun 2015, tentu akan berkurang akibat tergerusnya perumahan dan industri,” kata Suryo.
Menurut dia, kerusakan hutan di Pulau Jawa sebagian besar disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk perkebunan dan pertambangan, termasuk yang berada di kawasan konservasi. Meski sudah ada peraturan perlindungan, namun ternyata peraturan daerah (Perda) justru mengganggu perlindungan alam.
Kajian Suryo mengungkapkan, dari 278 peraturan daerah yang ada, 176 (atau 63 persen) tidak mempertimbangkan dan memuat daya dukung lingkungan hidup.
“Semuanya murni ekonomi,” ujarnya.
Stigma elite Jawa
Mengubah lahan menjadi sumber ekonomi, kata Suryo, sudah menjadi ciri khas elite politik di Jawa.
“Ini pengamatan subjektif saya ya. Padahal, elitelah yang lebih fokus pada ekonomi yang menyebabkan banyak perubahan lingkungan di Jawa, ujarnya.
Bukan hanya presiden saja, tapi juga gubernur dan bupati. Karena fokus mereka hanya pada masalah keuangan, para pemimpin ini jarang mau membaca data dan studi lingkungan hidup. Bahkan tidak jarang pengambil kebijakan hanya melakukan kesalahan tanpa didukung alasan yang kompeten.
Selain itu, banyak orang menganggap isu konservasi dan pembangunan ekonomi saling bertentangan. “Misalnya untuk pertumbuhan ekonomi, lingkungan harus dihilangkan terlebih dahulu,” ujarnya.
Padahal, jika melihat negara lain, seperti di Eropa, keduanya bisa berjalan beriringan. Suryo mengatakan, ketika pertumbuhan ekonomi global melambat, negara-negara di sana belum tentu mengeksploitasi alam untuk meningkatkan pendapatan.
“Ada pembangunan berbasis lingkungan, mereka (Eropa) berlanjut dan lingkungannya bagus. “Banyak peluang yang bisa ditangkap,” ujarnya.
Mengintensifkan industri negatif
Suryo juga menyayangkan pemerintah masih enggan mencantumkan industri ekstraktif negatif. Menurut dia, beberapa pabrik seperti semen sebaiknya tidak lagi berlokasi di Pulau Jawa.
“Bukannya tidak boleh sama sekali, tapi di Pulau Jawa tidak boleh,” kata Suryo.
Semen membutuhkan bahan baku kapur yang melimpah di pegunungan karst. Jika terus ditambang maka kandungan air di pegunungan akan terpengaruh dan menjadi terdampar.
Akibatnya lahan pertanian di sekitar pegunungan tidak layak lagi karena kering. Contoh nyata terjadi di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.
“Apa yang dulunya bisa dilakukan panen dua atau tiga kali setahun untuk tanaman sekunder kini tidak lagi memungkinkan. Jadi apa yang harus dilakukan? “Ya, mereka sudah meninggalkan sektor pertanian,” ujarnya.
Para petani yang digusur ini kemudian mencari pekerjaan baru, yang sebagian besar berada di luar kampung halaman mereka. Pada akhirnya, peristiwa ini mendorong urbanisasi besar-besaran di kota, yang juga membuat masyarakat tersebut bekerja di sektor non-formal seperti buruh lepas.
Sudah saatnya industri yang banyak menyerap air, kata Suryo, berhenti didirikan di Pulau Jawa. “Seperti tekstil yang juga berdiri di hulu sungai. “Tadinya sudah ada larangan, kenapa masih ada,” ujarnya.
Langkah konkrit
Suryo menilai perlu ada langkah serius dari pemerintah untuk menghentikan perusakan alam. Jika tidak, dampak bencana akan semakin parah dari tahun ke tahun.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nur Masripatin juga mengakui hilangnya hutan akibat eksploitasi turut berkontribusi meningkatkan dampak bencana. Selain perubahan iklim tentunya.
“Itulah sebabnya kami melakukannya kegiatan penanaman pohon dan teknik Sipil “di wilayah sumber utama potensi bencana,” kata Nur.
Namun, tidak cukup jika kesadaran hanya terjadi di tingkat pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga harus bisa bersinergi, dan berhenti membuat peraturan daerah yang justru semakin menggerogoti sumber daya alamnya sendiri. —Rappler.com