Ribuan makanan berbuka puasa disajikan secara gratis
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Ratusan umat Islam terlihat memenuhi Masjid Istiqlal pada hari pertama berbuka puasa, Senin, 6 Juni mulai siang. Rappler tiba di masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut pada pukul 17.00 WIB, namun langsung diminta naik ke lantai dua untuk persiapan berbuka puasa.
“Silakan naik ke atas, saudari. “Perempuan di sebelah kanan, sedangkan laki-laki di sebelah kiri,” kata seorang pejabat masjid yang resmi dibuka pada tahun 1978 itu.
Umat Islam duduk saling berhadapan, membentuk barisan horizontal. Staf kemudian mulai membagikan kotak makan siang kepada jemaah untuk berbuka puasa. Saat mereka menunggu waktu berbuka, imam meminta mereka untuk bernyanyi.
Jumlah jemaah yang beribadah di masjid yang memiliki lima lantai itu bertambah seiring semakin dekatnya waktu berbuka puasa. Tak lama kemudian, terdengar suara genderang yang ditabuh dan suara azan. Puasa satu hari telah selesai.
Berikut video live report Rappler saat berbuka puasa:
Menurut Ketua Protokol Masjid Istqlal, Abu Hurairah Abdul Salam, aktivitas pembagian makanan kepada umat Islam di bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi.
“Saat ini total jemaah yang berbuka puasa mencapai hampir 3.000 orang. Sementara jumlah paket berbuka puasa mencapai 3.000 buah. Tapi, tergantung harinya, hari ini (jamaahnya) lumayan banyak karena anak-anak sekolah masih libur, kata Hurairah yang dihubungi Rappler melalui telepon, Senin malam, 6 Juni.
Tidak menutup kemungkinan ketika anak-anak kembali bersekolah, jumlah umat yang berbuka puasa akan turun menjadi 2.500 orang. Untuk menyediakan ribuan paket sembako, Hurairah mengatakan pihak penyelenggara bekerja sama dengan Rumah Makan Simpli dan menyajikan menu masakan Padang.
“Sebelumnya kami masak sendiri di dapur masjid. “Sekarang kami hanya harus menerimanya,” katanya.
Lalu bagaimana dengan Sahur? Hurairah mengatakan, sahur hanya disajikan pada hari ke-21 hingga ke-30. Total ada 1.000 paket sembako yang siap dibagikan. Pengurus Masjid Istiqlal mengaku juga bekerjasama dengan Restoran Sederhana.
Hurairah menjelaskan, untuk mewujudkan sekitar 4.000 porsi makan, dibutuhkan dana yang cukup besar. Ia mengatakan, sekitar Rp 2 miliar dikeluarkan untuk buka puasa dan sahur bersama.
“Dana tersebut diperoleh dari donasi masyarakat yang rata-rata mencapai Rp 100 juta setiap minggunya. “Karena ini sumbangan dari masyarakat, maka akan dikembalikan kepada mereka dalam bentuk ini,” ujarnya.
Bantuan juga akan diberikan dari Uni Emirat Arab. Rencananya dari sana dua organisasi akan memberikan bantuan berupa paket sembako selama 4 hari di bulan Ramadhan. Mengenai tanggal pendistribusiannya, jelas Hurairah, terserah pada pihak penyelenggara.
Usai berbuka puasa, jamaah biasanya disuruh salat tarawih.
Distribusi yang tidak merata
Namun, berbuka puasa di Masjid Istiqlal tidak selalu dipenuhi kebahagiaan. Umat Muslim yang mengaku sengaja datang ke sana untuk berbuka puasa justru mengaku kecewa karena tidak mendapatkan makanan.
“Suami saya tidak dapat menemukan kotak makan siang. “Sebenarnya kami sengaja datang ke sini karena di televisi ada chefnya dan makanannya bervariasi,” kata Wilianti yang ikut serta bersama putrinya, Pricilla Azahra.
Akibatnya, sisa makanan putrinya dimakan suaminya.
“Kok bisa begitu ya? Apakah itu kesalahan panitia?” tanya Wilianti yang datang dari kawasan Tanah Abang menggunakan sepeda motor.
Ia mengatakan, jumlah donasi yang diberikan tidak sesuai karena tidak semua orang menikmati paket buka puasa gratis tersebut. Akibatnya, ia menyerah dan tak mau kembali berbuka puasa di Masjid Istiqlal. Wilianti mengaku akan mencari masjid lain yang bisa mendistribusikan makanan secara merata.
“Saya bingung soal itu, lalu suami saya TIDAK Bisa dapat makanan, tapi satu orang bisa bawa nasi sampai 5 dus,” ujarnya.
Jemaah lainnya, Syahrul Muchtar justru mengaku bersyukur bisa berbuka puasa di Masjid Istiqlal. Syahrul yang datang bersama rekannya Firman sengaja mampir ke Istiqlal karena dekat dengan tempat pelatihan pendidikan di kampus kawasan Tugu Tani.
“Jika kami kembali ke kos-kosan di kawasan Kalibata, kami khawatir tidak sempat berbuka puasa. Jadi, sepulang dari kampus pukul 17.00, kami langsung naik kereta ke sini, kata Syahrul yang mengaku berasal dari Makassar saat ditemui Rappler.
Firman yang berasal dari Parepare menilai menu makanan cepat saji di Masjid Istiqlal sudah lebih dari cukup. Sebab di daerah tempat tinggal mereka di Sulawesi Selatan, mereka hanya mendapat kue jika berbuka puasa di masjid.
“Jadi di sini kita dapat makanan berat dan menunya langsung dari nasi,” kata Firman yang saat ini sedang menyelesaikan pelatihan di bidang perbankan selama 6 bulan.
Diakui Hurairah, ada jemaah yang membawa pulang lebih dari satu kotak makanan untuk keluarganya di rumah. Bahkan, idealnya mereka menyantapnya di masjid lalu dilanjutkan dengan salat tarawih.
“Idealnya, satu orang hanya boleh mengambil satu kotak bekal. “Kalaupun ada yang mengambil lebih dari satu kotak, biasanya petugas keamanan dan kebersihanlah yang membawakannya ke rekannya,” ujarnya.
Namun, Hurairah mengatakan sulit jika petugas harus memantau satu per satu orang tersebut. Sebab, jumlah petugas di masjid tersebut terbatas.
Sementara itu, Hurairah menyayangkan sikap jemaah yang memilih pulang usai berbuka puasa.
“Semula panitia berharap setelah berbuka puasa menunggu hingga kuliah selesai baru berdoa,” kata Hurairah.
Saksi bisu para pemimpin ibadah

Saat jemaah memilih mudik, tampak pengamanan di pintu masuk Masjid Istiqlal diperketat. Rupanya, Presiden Joko “Jokowi” Widodo tiba-tiba datang ke masjid dan melaksanakan salat tarawih. Mengenakan kemeja gamis berwarna putih, Jokowi duduk di barisan depan tanpa memberikan ceramah apa pun.
Keberadaan Masjid Istiqlal di Jalan Taman Wijaya Kusuma memang menjadi saksi bisu 7 presiden tersebut menjalankan ibadahnya. Masjid Istiqlal juga sering dijadikan tempat kunjungan para pemimpin dunia ketika berkunjung ke Indonesia. Salah satunya adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada tahun 2010.
Dalam wawancaranya dengan media, Imam Besar Masjid Istiqlal mendiang Ali Mustafa Yaqub yang saat itu menerima Obama mengatakan, bangunan fisik masjid memiliki arti khusus. Ada hubungan antara Islam dan budaya. Khusus untuk Masjid Istiqlal, unsur budayanya dilambangkan dengan gendang.
“Jadi, saya katakan, Islam tidak datang untuk menghilangkan budaya lokal. Bahkan tidak menutup kemungkinan budaya lokal bersinergi dengan Islam. Misalnya, genderang bisa masuk ke masjid, kata Yaqub pada tahun 2010 media.
Imam yang meninggal pada April lalu itu juga menjelaskan, di seberang masjid terdapat gereja Katolik yang terkenal, yaitu Katedral. Keberadaan dua rumah ibadah yang saling berdekatan menggambarkan toleransi beragama di Indonesia.
“Saya sampaikan kepada beliau, kedua tempat ibadah tersebut bukan sekedar simbol, tapi juga kerja sama. “Umat Katolik yang tidak memiliki tempat parkir saat ke gereja dapat memarkir kendaraannya di Istiqlal,” kata Yaqub.
Mendengar hal tersebut, Yaqub mengatakan Obama sangat terkesan. Obama pun kaget saat mengetahui Masjid Istiqlal mampu menampung 200 ribu umat Islam.
“Saya menyebut masjid ini terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di Mekkah,” ujarnya. – Rappler.com
BACA JUGA: