• April 17, 2026
Selamat datang migrasi generasi muda yang kembali ke pertanian

Selamat datang migrasi generasi muda yang kembali ke pertanian

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Tema Hari Pangan Sedunia 2017 membahas tentang dampak migrasi terhadap ketahanan pangan

JAKARTA, Indonesia — Tahukah Anda? tema Hari Pangan Sedunia 2017 Tampaknya hal ini berkaitan erat dengan migrasi.

Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah “Mengubah masa depan migrasi. Berinvestasi dalam ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan“. Tema ini relevan dan menjadi masalah serius di banyak negara. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sekitar 200 juta orang menjadi migran paksa antar negara, 70 juta akibat perang dan kekerasan, dan 20 juta akibat bencana di kampung halaman.

Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, yang sebagian besar berasal dari pedesaan. Hal ini berdampak besar pada pangan dan pertanian; mulai dari penyediaan makanan bagi para migran hingga dampaknya terhadap pertanian yang ditinggalkan, serta kebutuhan akan pertanian untuk bekerja di daerah tujuan.

Untungnya bagi Indonesia, masalah migran yang “terpaksa” (akibat perang atau bencana) bukanlah masalah yang besar. Padahal, banyak cerita mengenai kegiatan transmigrasi yang sebelumnya terbukti dapat mengatasi beberapa permasalahan kemiskinan dan pembangunan daerah, serta menjadi penopang pengembangan berbagai komoditas pertanian.

Di sisi lain, selain beberapa kasus yang tidak menguntungkan, para pekerja migran Indonesia di luar negeri pada umumnya mengirimkan kiriman uang (remittance) yang cukup besar ke kampung halamannya.

(BACA: Apa Peran Media Sosial dalam Mendukung Pemenuhan Pangan?)

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah Indonesia untuk menetapkan tema Hari Pangan Sedunia yang memuat aspek usia petani yang saat ini mulai khawatir karena semakin bertambahnya usia. Rata-rata usia petani Indonesia semakin tua: 55% petani kini berusia 55 tahun ke atas; tidak jauh berbeda dengan kondisi di Amerika Serikat, dimana 62% petani berusia 65 tahun ke atas.

Kondisi ini terjadi antara lain karena generasi muda pedesaan (termasuk anak-anak petani) “bermigrasi” keluar dari bidang pertanian, baik dalam bentuk migrasi fisik dari desa ke kota maupun migrasi profesional dari pertanian ke non-pertanian. Di Amerika Serikat, sebanyak 68% petani menyatakan belum memiliki penerus yang akan melanjutkan usaha pertaniannya. Ini adalah salah satu tantangan paling serius bagi masa depan pertanian.

(BACA: Anak Muda Jadi Petani dan Petambak Ikan, Kenapa Tidak?)

Namun di Indonesia, situasi seperti ini bukannya tanpa harapan. Saat ini, semakin banyak generasi muda yang menjadikan pertanian sebagai pilihan profesi dan sumber penghidupan. Pola Memulai Bisnis (awal) yang memadukan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai penerapannya dengan kegiatan pertanian yang juga melibatkan petani kecil, mulai menarik minat generasi muda terpelajar.

Inovasi dan kreativitas menjadi kelebihannya, dan sudah mulai memberikan dampak serta memberikan penghasilan yang layak bagi para pengusahanya. Jumlahnya belum banyak, namun generasi baru wiratani (pengusaha pertanian) Generasi muda mulai mewarnai khazanah pertanian Indonesia. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Hari Pangan Sedunia tahun 2017 masih menghadapi banyak permasalahan yang sama, namun hal ini juga menandai sebuah perkembangan baru yang diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih cerah (lapisan perak) dalam pengembangan pertanian Indonesia di masa depan. Semoga. —Rappler.com

DR Ir Bayu Krisnamurthi adalah anggota dewan dunia Dan GreenFund. Beliau juga merupakan mantan Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia dan mantan Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia. Belajar sekarang di Institut Pertanian Bogor (IPB)

slot gacor hari ini