• March 29, 2026

Kisah Ajaib Masjid Guci Rumpong Aceh

PIDIE, Indonesia — H Muhammad Yusuf Ishak berjalan pelan menuju Masjid Guci Rumpong yang berdiri di Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis, 8 Juni 2017. Tangan pria berusia 70 tahun yang tampak keriput itu menunjuk ke arah masjid.

“Tanah di sini dulunya sungai. Saat Teungku Chik Dipasie hendak membangun mesjid, ia tinggal mengangkat tongkatnya keluar dari sungai. Lalu sungai itu berubah menjadi tumpukan tanah,” kata Yusuf Ishak.

Masjid Guci Rumpong memang merupakan salah satu masjid suci yang ada di Aceh. Masjid ini dibangun oleh Teungku Chik Dipasie pada saat Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya, sekitar abad ke-16 Masehi. Meski demikian, masjid tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Tak heran jika masjid ini cukup terkenal di Aceh. Bahkan, Sultan Iskandar Muda, sultan saat itu, pernah belajar di sana. Awalnya Masjid Guci Rumpong hanya berukuran 12×12 meter persegi. Namun kini di teras depan masjid diperpanjang beberapa meter.

Sejak dibangunnya masjid ini ratusan tahun lalu, masjid ini baru satu kali direnovasi pada tahun 2015. Pemugaran ini tidak banyak mengubah bentuk bangunan aslinya. Misalnya saja atap masjid yang dulunya hanya dianyam daun ilalang, kini sudah diganti dengan genteng. Pembaruan juga terlihat pada dinding masjid, yang dahulu dindingnya terbuat dari anyaman daun kelapa, kini sudah dipasang piring bermotif ukiran.

Sebuah masjid baru dibangun di sebelah masjid lama. Pembangunannya dimulai pada tahun 1987 M. “Meski sudah dibangun masjid baru, namun salat sehari-hari tetap dilaksanakan di masjid pertama,” kata Yusuf Ishak.

Yusuf mengatakan, masjid baru itu hanya digunakan untuk salat Jumat. Hal ini dilakukan karena masjid pertama tidak mampu menampung jamaah salat Jumat yang jumlahnya banyak, lanjutnya. Selain itu, pintu masjid baru tampak tertutup.

Batu Ciproc dan dua guci

Selain bangunan masjid, Teungku Chik Dipasie juga meninggalkan beberapa benda bersejarah lainnya. Benda-benda tersebut dikatakan ‘hidup’ pada zamannya. Misalnya Batu Ciprok dan dua buah guci.

Batu Ciprok kini diletakkan di bagian depan masjid, tepat di samping tangga pintu utama. Batu itu dikunci dalam sangkar. “Batu ini terlihat seperti karang. “Saya dikurung di dalam sangkar agar tidak ada yang diambil oleh siapapun,” kata Yusuf.

Yusuf melanjutkan ceritanya. Katanya, masyarakat menggunakan batu cemara untuk mengucapkan sumpah dan sumpah. “Kalau ada yang mau makian, orang itu harus cuci kepala dan airnya tumpah ke batu ini,” jelasnya sambil menunjuk batu Siprok.

Akibat sumpah tersebut, kata Yusuf, orang yang bersalah akan mengalami penyakit aneh. Misalnya warna kulit seluruh tubuhnya berubah menjadi belang-belang. “Saya melihat sendiri bahwa itu nyata,” kata Yusuf.

Tak jauh dari Batu Siprok, terdapat dua buah guci tua. Keduanya ditempatkan di gedung tertutup. Salah satu toples pecah di mulutnya. Belakangan dari situlah awalnya disebut Masjid Guci Rumpong dan Desa Guci Rumpong. Dalam bahasa Aceh, rumpong artinya rusak.

Ternyata toples pecah itu punya cerita. Konon ada tiga guci yang hendak berangkat ke masjid, namun saat mereka berebut untuk sampai ke sana dengan cepat, dua guci tersebut berkelahi. Sedangkan satu lagi tinggal di Masjid Teungku Dipucok Krueng, Beuracan, Meureudu, Pidie Jaya.

Akibat perkelahian tersebut, kedua guci tersebut saling bertabrakan dan salah satunya pecah pada bagian mulutnya. “Nah, toples pecah ini namanya Rumpong. “Dalam bahasa Aceh pecah artinya rumpong,” jelas Yusuf. Kedua toples tersebut berusia ratusan tahun. “Menurut sejarah, toples ini berasal dari Tiongkok.”

Selain itu, di dalam masjid terdapat tiang bambu yang memungkinkan muazin naik ke puncak masjid untuk mengumandangkan azan. Bambu ini disebut Purieh. Dia berusia 282 tahun. Semua masjid tua di Aceh memiliki Purieh ini.

Siapa Teungku Chik Dipasi?

Teungku Chik Dipasie adalah seorang ulama besar Aceh. Nama aslinya adalah Abdus Salam bin Burhanuddin. Ia lahir di Gigieng, sekitar 20 km sebelah timur Kota Sigli. Ayahnya, Bapak Syarif Burhanuddin, keturunan campuran Kurdi dan Turki, adalah seorang ulama besar Kesultanan Aceh.

Pada usia 15 – 35 tahun, Teungku Chik Dipasie menetap di Mekkah untuk memperdalam ilmu kaligrafi, jurnalistik, seni sastra, tafsir Al-Quran dan hadis. Karya seninya yang paling terkenal adalah Alquran tulisan tangan. Penduduk setempat menyebutnya Seureubek, dan juga sering digunakan sebagai sumpah.

Teungku Chik Dipasie menghabiskan sisa hidupnya di Desa Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. Di rumah yang ditinggalinya, di situlah tinggal pengurus masjid yang juga keturunan kesembilan, H Muhammad Yusuf Ishak.

Teungku Chiek Dipasie meninggal di Waido. Namun makamnya terletak di Desa Ie Leubeu, Kecamatan Kembang Tanjong Pidie. Jarak dari masjid sekitar 40 km.

Mengapa terkubur sejauh ini? Rupanya sebelum meninggal, Teungku Chik Dipasie pernah berpesan sambil melempar tongkat. “Di mana tongkat ini jatuh dariku, disitulah kuburku,” kata Yusuf menirukan ucapan Teungku Chik Dipasie.

Kemudian diketahui tongkatnya terjatuh di Ie Leubeu. Itu sebabnya makamnya terletak jauh dari tempat ia menghabiskan sisa hidupnya.

Kisah sakti Teungku Chik Dipasie lainnya yang beredar di kalangan masyarakat Aceh adalah tentang irigasi. Saat itu, dia menggaruk garis di tanah dengan tongkatnya sambil berdoa.

Ajaibnya, sisa-sisa tanah dari batang kayu itu menjadi irigasi. Goresannya dimulai dari Bukit Barisan hingga melintasi kecamatan di Pidie. Di antaranya Keumala, Kota Bakti, Mutiara, Indrajaya, Kembang Tanjung, dan Simpang Tiga. Panjangnya mencapai 23 km.

Yusuf mengatakan, tongkat yang digunakan Teungku Chik Dipasie untuk menggaruk tanah itulah yang kemudian dilemparkan Teungku Chik Dipasie ke Ie Leubeu, tempat ia dimakamkan.

“Sampai saat ini sistem irigasi bernama Lueng Bintang ini masih berfungsi untuk mengairi sawah warga,” pungkas Yusuf sambil menuju tempat wudhu begitu azan Ashar terdengar dari dalam masjid. —Rappler.com

Keluaran Hongkong