• March 22, 2026
Menteri Rini menginstruksikan BUMN untuk membantu mengatasi kenaikan harga pangan

Menteri Rini menginstruksikan BUMN untuk membantu mengatasi kenaikan harga pangan

JAKARTA, Indonesia — Keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mengatasi fluktuasi harga pangan di bulan Ramadhan merupakan wujud fungsi BUMN sebagai agen pembangunan.

“Presiden terus mengingatkan BUMN untuk terlibat, menjadi solusi dalam setiap kegiatan perekonomian rakyat. “Tujuan bisnisnya bukan hanya mencari keuntungan, tapi misi sebagai agen pembangunan harus dijalankan,” kata Rini Soemarno, Menteri BUMN.

Hal itu diungkapkan Rini dalam perbincangan santai usai buka puasa bersama Forum Pemimpin Redaksi di Bank Mandiri Plaza, Jakarta, Rabu, 22 Juni.

Sejumlah pimpinan BUMN hadir dalam kesempatan tersebut, termasuk dari perbankan BUMN dan pembangunan infrastruktur.

Menurut Rini, pemerintah sangat serius dalam meningkatkan pengadaan pangan dari dalam negeri.

“Memang belum bisa serta merta, tapi kami serius untuk mulai beternak sapi lokal. “Akan ada perintah dari BUMN untuk melakukan hal tersebut,” kata Rini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya (kecuali menjelang pemilu 2014), lonjakan bahan pangan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Harga daging dulu berkisar Rp 75.000 per kilogram. Menjelang puasa, harganya melonjak sekitar Rp 120.000 – 140.000 per kilogram di sejumlah pasar.

Pemerintah yang lamban dalam memberikan bantuan, mengadakan rapat koordinasi untuk mengendalikan harga pangan. Pada tanggal 31 Mei telah dilakukan pertemuan antara Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, dan Menteri BUMN, di kantor Kementerian Pertanian, Ragunan.

Dari hasil pertemuan tersebut, pemerintah mengambil langkah untuk mengimpor berbagai jenis pangan. Tujuan pemerintah adalah menstabilkan harga daging dan bawang yang saat ini sedang meroket.

Menteri BUMN Rini Soemarno menunjuk dua BUMN untuk ikut menangani kenaikan harga, yakni Perum Bulog (Badan Urusan Logistik) dan PT Berdikari.

Kedua BUMN ini kami tunjuk untuk mengendalikan harga berbagai kebutuhan, khususnya bawang merah dan daging, sesuai instruksi Presiden, kata Rini.

Tugas kedua BUMN adalah menjaga pasokan dan harga empat bahan pokok utama yaitu beras, daging sapi, bawang merah, dan gula pasir.

Pemerintah menargetkan harga bawang merah sekitar Rp 25.000 per kilogram dan daging sapi Rp 80.000 per kilogram.

Cara yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi target harga adalah dengan membeli bahan pokok pangan dari produsen dan mengimpornya secara terukur.

Dalam kebijakan impor ini, pemerintah berjanji tidak akan mengenakan pajak kepada petani. Pemerintah dalam hal ini Bulog akan membeli pangan dari petani dengan harga normal, tanpa ada penurunan harga akibat meningkatnya barang impor.

“Pemerintah memberikan tugas kepada BUMN. Jadi petani tidak perlu khawatir, berapa pun impornya, petani akan menjualnya ke Bulog dengan harga segitu. “Kalau ada pedagang yang membeli lebih dari Rp15.000 per kilogram, alhamdulillah,” kata Menteri Perdagangan Tom Lembong usai rakor.

Tom juga menyampaikan, sudah ada 27.400 ton daging impor yang siap masuk ke Indonesia. Impornya dilakukan Perum Bulog sebanyak 10.000 ton dan PT Berdikari sebanyak 5.000 ton.

Selain itu, masih ada impor swasta sekitar 20.000 ton, kata Tom.

Diakui Tom, kenaikan harga daging sapi kali ini merupakan kesalahan pemerintah. “Ini akibat kesalahan kebijakan tahun lalu yang mengurangi kuota impor sapi secara drastis,” kata Tom.

Tahun lalu, pemerintah mengurangi impor sapi dari biasanya 160.000 sapi hidup per kuartal menjadi 50.000 sapi hidup per kuartal. Harga sapi langsung meroket. Sama halnya dengan kondisi tahun ini, saat bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

Situasi semakin parah karena pemerintah lamban dalam mengeluarkan izin impor sapi untuk tahun ini. Sebenarnya, persoalan ini sudah dibahas pada akhir tahun lalu dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Kuota impor yang seharusnya 650.000 ekor sapi seharusnya sudah dikeluarkan awal tahun. “Hanya 180.000 izin yang dikeluarkan,” kata Tom. Kementerian Perdagangan menerbitkan izin kuota impor berdasarkan rekomendasi Kementerian Pertanian.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyayangkan masih adanya kesenjangan data antarlembaga terkait kebutuhan pangan.

“Kami telah diingatkan berkali-kali untuk memperbaiki aspek data ini. Bagaimana kita dapat merumuskan kebijakan yang tepat jika data tidak sinkron?” kata Kalla akhir pekan lalu saat berbuka puasa bersama Pemimpin Redaksi Forum.

Rini mengatakan, solusi sinkronisasi data kebutuhan pangan dan aktivitas petani akan diwujudkan melalui penerbitan Boerekaarte.

“Kartu yang dikelola oleh bank-bank BUMN ini akan segera kami terbitkan dengan Bank Rakyat Indonesia sebagai landasannya,” kata Rini.

Melalui Boerekaart, rencana aktivitas petani akan dipantau, misalnya jadwal tanam, jenis tanam, kebutuhan dan pembelian pupuk, serta biaya hidup petani selama proses tanam hingga panen. –Rappler.com

judi bola