• March 21, 2026
Indonesia dan Malaysia menyepakati 5 poin kerja sama kelapa sawit

Indonesia dan Malaysia menyepakati 5 poin kerja sama kelapa sawit

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Kedua negara sedang mengupayakan peluang biodiesel B5 untuk pasar Tiongkok

PUTRAJAYA, Malaysia – Meski marak perdebatan masyarakat mengenai kesalahan pencetakan bendera Indonesia dalam buku panduan resmi SEA Games, hubungan ekonomi dan bisnis antara Indonesia dan Malaysia tetap berjalan. Usai mengantarkan atlet wushu meraih 3 medali emas, 3 perak, dan 3 perunggu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu dengan Menteri Perkebunan dan Komoditas Industri Datuk Seri Mah Siew Keong pada Rabu 23 Agustus 2017.

Menurut Menteri Mah, Malaysia dan Indonesia membahas peluang penerapan produksi biodiesel B5 untuk pasar Tiongkok. Negeri Tirai Bambu aktif melakukan pengendalian kualitas lingkungan dan mencari peluang penerapan B5, dengan memadukan 5% minyak sawit atau palm methyl ester (PME) dan solar.

Airlangga Hartarto yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia mengatakan ada lima agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Pertama, membahas kampanye bersama untuk menghadapi kampanye negatif penggunaan minyak sawit di Uni Eropa dan AS, termasuk resolusi parlemen Eropa dan Norwegia, kata Airlangga dalam keterangan tertulis yang diperoleh Rappler.

(BACA: Indonesia menolak resolusi sawit Parlemen Uni Eropa)

Kedua, india dan Malaysia berkoordinasi untuk melawan hambatan tarif dan non-tarif yang diberlakukan oleh negara-negara seperti India, yang telah menaikkan bea masuk dari 100% menjadi 15%, dan Amerika Serikat, yang berencana menerapkan anti-dumping pada biodiesel. Ketiga, kedua negara bersama-sama mendorong Tiongkok untuk menggunakan biodiesel 5% untuk mengurangi defisit perdagangan dengan Indonesia dan Malaysia.

“Sekaligus sebagai upaya penerapan energi ramah lingkungan,” kata Airlangga yang juga politikus Partai Golkar itu.

(BACA: Indonesia dan Malaysia Kecewa dengan Diskriminasi Minyak Sawit UE)

Agenda pertemuan keempat adalah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk melakukan penelitian guna mengurangi upaya pembatasan senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker.

“Kami sepakat untuk mempercepat penguatan kelembagaan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan mendorong lembaga ini bermanfaat bagi nilai tambah/pengembangan hilir CPO,” kata Airlangga.

Kelima, “Kami sepakat untuk mempercepat penguatan kelembagaan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan mendorong lembaga ini bermanfaat bagi pengembangan nilai tambah/hilirisasi CPO,” kata Airlangga.

(LIHAT: DALAM FOTO Indonesia dan Malaysia sepakat membentuk dewan kelapa sawit)

Airlangga juga menyampaikan nantinya akan mengundang 7 negara produsen minyak sawit lainnya antara lain Thailand, Kolombia, Nigeria, Papua Nugini, Pantai Gading, Honduras, dan Guatemala untuk mengadakan diskusi kelompok terfokus di Bali dalam waktu dekat.

Mah mengatakan, jika China menerapkan program B5 maka akan mengubah keadaan, mengingat besarnya pasar China.

Turut hadir dalam diskusi kedua menteri tersebut Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar yang juga mantan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (IBPM).

Sebuah resolusi dari Parlemen Eropa meminta UE untuk berhenti menggunakan minyak nabati, termasuk minyak sawit, dalam campuran biodiesel mulai tahun 2020, dengan menyatakan bahwa tanaman tersebut diproduksi dengan proses yang tidak berkelanjutan dan menyebabkan deforestasi.

Indonesia dan Malaysia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, menguasai 85% produksi dan 91,2% pasar ekspor global. – Rappler.com

login sbobet