Ruwatan Sukerta, merupakan ritual kuno untuk mengusir sial pada masyarakat Jawa
keren989
- 0
SOLO, Indonesia – Dini hari, sekitar 300 orang berbaris dari Dalem Suryahamijayan menuju Kagungan Dalem Sasana Mulya di kompleks keraton Surakarta. Anak-anak dan orang tua mengenakan pakaian serba putih yang dibalut kain dan ikat kepala dari kain Mori polos.
Mereka akan mengikuti cerita Sukerta, sebuah ritual kuno penyucian diri yang dikenal masyarakat Jawa jauh sebelum masuknya agama-agama surgawi di Indonesia. Pemakaman massal gratis ini diselenggarakan oleh Direktorat Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Istana Kasunanan.
Di aula Sasana Mulya, kebingungan Wayang kulit (layar) dibentangkan, lengkap dengan struktur gamelan serta penabuh dan penyanyi gamelan. Pintu masuknya dihiasi daun kelapa kuning, tandan pisang, dan daun beringin seperti pada pesta pernikahan.
“Memercikan air merupakan prosesi penyucian diri dari sukerta – kotoran jiwa, aura kotor, dan roh jahat. Sukerta disebabkan oleh dosa yang menjadi penghambat keberhasilan atau menyebabkan kehidupan seseorang menjadi tidak menentu.”
Setiap orang harus berbaris untuk memasuki pintu kemudian duduk dengan tenang di lantai di pendapa, mereka tidak diperbolehkan makan atau bermain ponsel selama prosesi berlangsung. Sebelumnya mereka sudah diatur jalan ubo Ruwatan (peralatan ritual), mulai dari unggas hingga perabotan rumah tangga.
Di ruang penyucian, beberapa pembantu perempuan yang mengenakan kebaya hitam dan kain jarik duduk bersila di lantai sambil membakar dupa dan berbagai wewangian di atas tungku kecil hingga aroma dan asap tebal memenuhi ruangan. Lagu-lagu Jawa yang dibawakan para penyanyi tanpa iringan gamelan menambah suasana semakin mistis.
Satu per satu peserta perawatan memasuki ruangan untuk menjalani pembersihan. Ki Lebdo Pujonggo Harimurti, dalang yang memimpin ritual, membacakan doa dan menyiramkan air bunga setaman ke kepala setiap orang yang mencuci ruwat. Air untuk percikannya diambil dari beberapa sumber mata air yang dianggap keramat, antara lain Gunung Semeru, Sumur Jolotundo, Gunung Lawu, Masjid Agung Surakarta, dan Sumur Kadilangu Demak.
Percikan air ini merupakan prosesi pembersihan diri dari sukerta – kotoran jiwa, aura kotor dan roh jahat. Sukerta bisa disebabkan oleh dosa dan kesalahan masa lalu yang menjadi penghambat kesuksesan atau menyebabkan hidup seseorang menjadi gelisah.
Ada juga sukarta yang dipakai seseorang sejak lahir. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, beberapa anak yang memerlukan pengobatan antara lain:
- Anting Ontang (hanya anak)
- Mandi (tiga anak, anak laki-laki di tengah)
- Pergi mandi (tiga anak, perempuan di tengah)
- Minggu-minggu lawang (dua anak laki-laki)
- Beberapa bunga (dua anak perempuan)
- Lanjutkan kerja baikmu (dua anak, putra dan putri)
- Pemimpin (lima anak, semuanya laki-laki)
- Mancalaputri (lima anak, semuanya perempuan)
- kembar
Ada pula anak yang memerlukan pengobatan terkait kondisi saat lahir, misalnya:
- Kepala harum (lahir saat matahari terbit)
- Mati rasa (lahir saat matahari terbenam)
- Kepala sungsang (lahir di sore hari)
- Hampir tiba (lahir dengan plasenta)
- Pintunya terbuka (lahir di Candikala, saat langit berwarna kuning-merah)
Orang yang terlahir dengan sukerta, dalam kepercayaan Jawa, harus menjalani ruwatan untuk membebaskan diri dari kekuatan jahat yang ada di sekitarnya. Jika tidak, mereka akan mengalami kesulitan hidup, kemalangan dan bencana.
Usai mandi, peserta ruwatan massal kemudian mengikuti prosesi utama yaitu pertunjukan wayang Murwakala. Orang yang melakukan ruwat harus duduk bersila di pendapa untuk mendengarkan pertunjukan dengan khusyuk meskipun dalam pakaian basah.
Berbeda dengan wayang kulit biasa yang dipentaskan untuk hiburan, wayang ruwatan yang lekat dengan ilmu kebatinan Jawa ini lebih bersifat ritual sehingga tidak bisa dibawakan oleh sembarang dalang. Selain jam terbang, dalang ruwat wajib menjalani latihan spiritual sebelum melaksanakan – seperti puasa dan shalat – karena dialah tokoh sentral dan bertanggung jawab dalam prosesi ruwatan.
Ki Lebdo memasang wayang di tengah-tengah pakeliran untuk mengawali pertunjukan. Dengan mantra halus dan doa, guru Fakultas Wayang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta membuka ritual tersebut. Mantra dan doa inilah yang konon bisa meringankan aura buruk yang diyakini menyelimuti masyarakat Sukerta.
Meski ruwatan dikenal sebagai tradisi yang sudah ada sebelum zaman pra-Islam, namun banyak ritual yang sebenarnya mengandung unsur Islam. Misalnya dalang mengawali doa dengan suluk asmaul husna (nama baik Allah) dan diakhiri dengan mengutip surat Yaasin ayat 82 yang intinya kalau Allah menghendaki, Dia hanya berkata ‘jadilah’ maka biarlah.
“Setiap orang mempunyai dua sisi dalam jiwanya. Sebelah kiri didominasi nafsu jahat yang dibimbing setan, dan sebelah kanan dipenuhi kebaikan yang dibimbing oleh malaikat dan wali Allah.”
Pengaruh Islam muncul dalam tradisi Jawa ini melalui wayang kulit Murwakala Mulai dipentaskan sejak awal abad ke-17 menggantikan wayang beber yang sebelumnya biasa digunakan sebagai ritual ruwatan. Pada abad tersebut, penyebaran agama Islam masuk ke Pulau Jawa melalui akulturasi budaya yang diperkenalkan oleh Wali Songo.
Ki Lebdo memainkan sebuah sandiwara Murwakala, yaitu cerita wayang khusus untuk proses penyembuhan yang mengambil kisah Bathara Kala, seorang raksasa yang menjadi simbol predator orang sukerta dalam cerita wayang. Bathara Kala dipercaya sebagai penjelmaan setan yang datang ke bumi karena diusir dari kahyangan karena kesombongannya – hanya karena ia diciptakan dari api.
Dalam pembukaannya, dalang menyampaikan bahwa setiap orang mempunyai dua sisi dalam jiwanya. Sisi kiri didominasi nafsu jahat yang dipimpin setan, dan sisi kanan dipenuhi kebaikan yang dipimpin malaikat dan wali Allah. Iblis akan mengajak manusia untuk melakukan dosa dan keburukan sepanjang hidupnya sehingga tanpa disadari akan menjadi kotoran dalam jiwanya yang akan menghalangi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup.
“Dengan ruwatan ini insya Allah semoga yang belum mempunyai anak segera mempunyai anak, yang belum menemukan jodoh akan menemukan jodoh, yang sering malang akan kehilangan kesialannya,” kata Ki. Lebdo.
Salah satu peserta, Budiantoro menjelaskan, ia ingin mengikuti pengobatan massal karena merasa selalu ditimpa musibah yang membuat hidupnya tak kunjung maju meski telah berkali-kali dicoba.
“Secara ekonomi saya selalu bermasalah dan mengalami kegagalan, saya jauh dari kesuksesan, padahal saya sudah berusaha keras, seolah-olah ada hambatan,” ujarnya.
Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ritual ruwatan diadakan untuk melestarikan budaya Indonesia agar tetap hidup di masyarakat dan tetap menjadi milik bangsa Indonesia. Ini merupakan ruwatan massal gratis yang ketiga kali digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setelah beberapa tahun sebelumnya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, dan di Madiun, Jawa Timur.
“Jangan sampai negara lain mengekspor atau meminta ruwatan, nanti kita hanya ribut-ribut,” kata Irjen Kemendikbud Daryanto.
Menurut Ketua Panitia Ruwatan Sukerta Keraton, KGPH Dipokusumo, ritual ini hanya dibatasi 300 orang meski jumlah peminatnya cukup banyak. Mereka datang tidak hanya dari seluruh Kota Solo, tapi juga dari kota lain, seperti Jakarta, Pekalongan, Banyumas, Semarang, dan Surabaya.—Rappler.com