Gubernur Lukas Enembe membahas penderitaan mahasiswa Papua dan bertemu Sultan Hamengkubowono
keren989
- 0
Dari hasil pertemuan tersebut, Sri Sultan Hamengkubowono menjamin keselamatan mahasiswa Papua di Yogyakarta. Meski demikian, aksi separatis tetap tidak diperbolehkan
YOGYAKARTA, Indonesia – Sempat tertunda, Gubernur Papua Lukas Enembe akhirnya mengunjungi Asrama Kamasan I, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta pada Rabu, 3 Agustus. Di hadapan ratusan mahasiswa Papua, Lukas menyatakan akan melaporkan tindakan diskriminasi yang dialami warga Papua di Yogyakarta kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo.
“Kondisi di Yogyakarta akan kami sampaikan seperti ini,” kata Lukas.
Ia mengatakan, masyarakat Papua juga merupakan warga negara Indonesia dan mempunyai hak yang sama dengan warga negara lain. Mereka mempunyai hak untuk tinggal di wilayah manapun di Indonesia tanpa diskriminasi dan intimidasi.
“Kalau ada yang bilang kamu monyet, jawab saja di Papua tidak ada monyet. Habitat alami kera Indonesia sebenarnya tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, kata Lukas.
Sedangkan mengacu pada garis Wallace, yaitu garis khayal yang memisahkan wilayah geografis persebaran hewan di Asia dan Australia. Satwa di Indonesia bagian barat, kata Lukas, berkerabat dengan Asia, sedangkan di bagian timur berkerabat dengan Negeri Kanguru.
Ia juga menilai tindakan sejumlah ormas yang berunjuk rasa di depan asrama dan meneriakkan kata-kata rasis kepada mahasiswa sudah di luar batas. Selanjutnya, saat kejadian, polisi menjaga ketat asrama Yogyakarta selama 3 hari.
“Ini keterlaluan,” kata Lukas.
Meski masih dalam situasi yang tidak mengenakkan, Lukas tetap berpesan kepada para mahasiswanya untuk tetap serius dan tekun dalam belajar. Sebab hanya dengan pendidikan, kata dia, masyarakat Papua bisa mencapai kesejahteraan.
“Minta kemerdekaan itu urusannya nanti, yang penting sekolah dulu,” ujarnya.
Represi terus berlanjut
Meski pengepungan kediaman tersebut telah usai, sejumlah mahasiswa melaporkan bahwa mereka menjadi korban kekerasan petugas polisi saat menghadiri pertemuan dengan Gubernur Lukas. Salah satu yang mengaku mendapat perlakuan penindasan dari aparat kepolisian adalah Naomi Aim, calon mahasiswa baru di Yogyakarta.
Naomi mengaku kepada Rappler bahwa dirinya sedang lewat di depan Kebun Binatang Gembira Loka saat sekelompok polisi mencegat sepeda motornya. Saat itu, polisi sedang melakukan razia lalu lintas terhadap pengguna kendaraan.
Tanpa diduga, dia mengerem dengan cepat dan terjatuh.
Bahkan, Naomi mengaku mendapat penilaian rasis dari personel polisi. Akibat kejadian tersebut, tangan dan bibirnya mengalami luka. Polisi juga menyita sepeda motornya.
Akibatnya, Naomi terpaksa berjalan kaki menuju asrama Papua.
“Di tengah jalan, saya menghentikan mobil van dan melaju mendekati kediaman,” kata Naomi.
Ia tiba di kediaman tersebut pada pukul 11.20 WIB saat Gubernur Lukas sedang memberikan sambutan kepada mahasiswa. Akibat tangisnya tersebut, Naomi menjadi perhatian ratusan peserta rapat.
“Saya juga dihentikan polisi saat keluar dari sini,” kata mahasiswa Papua lainnya, Alpeus Asso.
Sementara itu, di luar kediaman, massa polisi sipil terlihat berjalan di sekitar kediaman sejak pukul 09.00 WIB. Selain di Jalan Kusumanegara, mereka juga terlihat berjaga di Jalan Timoho.
Gubernur Lukas pun menyaksikan kondisi tersebut.
“Bahkan di depan gubernur, mereka masih melakukan intimidasi,” ujarnya.
Mengapa polisi masih melakukan tindakan intimidasi? Kabid Humas Polda DIY, Wakil Kombes Anny Pudjiastuti membantah adanya tindakan intimidasi atau penganiayaan terhadap mahasiswa Papua. Sebaliknya, dia meminta media tidak membesar-besarkan permasalahan tersebut.
“Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas,” ujarnya.
Temui Sultan Hamengku Buwono
Gubernur Lukas Enembe langsung menemui Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta dari kediaman mahasiswa. Sebanyak 8 orang rombongan Pemda Papua mendampingi Gubernur Lukas menuju Istana Kilen, kediaman Sultan.
Ketua Persatuan Mahasiswa Papua-Yogyakarta Aris Yeimo berharap pemerintah daerah Yogyakarta menjamin keselamatan warga Papua di sana. Ia pun berharap Sultan mencabut pernyataan rasis yang dilontarkannya tempo hari.
Ormas juga harus meminta maaf, kata Aris.
Sementara itu, pertemuan Gubernur Lukas dengan Sultan dilakukan secara tertutup dan tertutup.
“Kami tunggu saja di depan ruangan,” kata Ruben Frasa, Sekretaris Persatuan Mahasiswa Papua-Yogyakarta.
Usai pertemuan, Gubernur Lukas mengaku menyampaikan tuntutan mahasiswa Papua dalam pertemuan dengan Sultan. Dari hasil pertemuan tersebut, Sultan meminta mahasiswa Papua mengambil sikap saling pengertian.
“Beliau berjanji akan menjamin keamanan, namun separatis (tindakan) tetap tidak diperbolehkan,” kata Ruben menirukan pernyataan Gubernur Lukas. – Rappler.com
BACA JUGA: