Mesty Ariotedjo berbicara tentang karir medis, kepedulian dan kecantikan
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Pekan lalu, atas undangan Wardah, Rappler berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan Mesty Ariotedjo, perempuan berusia 28 tahun yang dikenal kiprahnya di dunia modeling, musik, dan kedokteran.
Sudah lama tak mendengar kiprahnya di dunia hiburan dan modeling, kini Mesty mengaku banyak mencurahkan waktu dan konsentrasinya di bidang medis. Apalagi Mesty saat ini sedang menjalani praktik penuh waktu di RS Cipto Mangunkusumo sembari menyelesaikan program spesialis anak yang tengah dijalaninya.
“Iya, aku baru menyelesaikannya jam 5 sore, bergerak kerja dari jam 5 pagi,” ujar Mesty yang meski terlihat lelah namun tetap semangat berbagi ceritanya. Kehadiran Mesty malam itu untuk memperkenalkan dirinya sebagai duta merek Wardah terbaru.
“Kalau Wardah, saya punya visi dan misi yang sama. Wardah selalu memancarkan aura positif dan juga memiliki gerakan yang inspiratif. Jadi menurut saya merupakan suatu kehormatan dan kesempatan bagi saya untuk bisa bergabung. “Saya bisa bekerja sama untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar,” kata Mesty dan memulai pembicaraan.
Senang memberi
Sosok Mesty bisa dikenal sebagai selebritis dan tokoh masyarakat. Namun ia juga dikenal selalu peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Apalagi ia kini berprofesi sebagai dokter yang mengharuskannya bertemu dan membantu banyak orang.
Lantas apa latar belakang Mesty memilih profesi dokter?
“Saya terinspirasi oleh ibu saya. Sejak kecil saya memperhatikan ibu saya. Dia suka membantu orang dengan cara yang berbeda. Misalnya bertemu dengan pemulung, diajak makan atau dibantu, dan sebagainya. Jadi aku belajar, ketika aku memberikan hal terkecil sekalipun kepada orang lain, ada perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Kebahagiaan terus membangun, pemilik nama lengkap Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo mengawali perbincangan.
“Apa tujuan hidup kita selain membantu orang dan berguna bagi orang di sekitar kita? Kebetulan saat aku masih SMA, orang tuaku mengatakan bahwa aku hanya bisa bersekolah di Jakarta. Lalu aku berpikir, apa? Sebenarnya saya tidak bisa membayangkan ingin menjadi seorang dokter. Namun saat itu saya berpikir, pekerjaan apa yang bisa bermanfaat secara konkrit bagi orang lain tanpa saya harus banyak berpikir. Akhirnya, saya memilih untuk belajar kedokteran.”
Pilihan Mesty tidak salah. Sebab, sejak ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia banyak bertemu dengan sosok-sosok yang sangat menginspirasi dirinya untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama.
Untuk membantu pasien cacat
Wanita yang piawai memainkan harpa ini pun menceritakan momen dirinya harus mengabdi dan berlatih di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur. Selama 1 tahun mengabdi di sana, Mesty menyaksikan banyak peristiwa dan kondisi yang membuatnya merasa harus berbuat lebih.
“Misalnya saya bertemu dengan salah satu pasien perempuan. Dia tabrak lari, ada pendarahan di otak, harus dirujuk ke Bali. Tapi untuk dirujuk ke Bali dia butuh uang pesawat, biaya sebesar hati, makanan di sana. Akhirnya pihak keluarga berkata, ‘Dok, kami tidak punya uang. Kami hanya menyerah di sini.’ Dan pasien tersebut meninggal. Ini hanyalah salah satu dari banyak cerita serupa.”
Dari pengalamannya bersama warga di Ruteng, Mesty dan rekannya akhirnya mengambil inisiatif WeCare.id, platformpenggalangan dana yang fokus membantu biaya pengobatan masyarakat kurang mampu. Mesty telah merintis kerja di WeCare.id sejak Oktober 2015.
“Sampai saat ini, kami memiliki lebih dari 300 pasien dari Sumatera hingga Papua, dengan total dana yang terkumpul sekitar Rp2,4 miliar,” kata Mesty.
WeCare.id menyediakan dana bagi pasien yang membutuhkan dalam tiga pilar utamanya. Pertama jika medis. “Dokter di daerah mana pun yang pasiennya membutuhkan pertolongan dapat menghubungi kami. Misalnya, pasien membutuhkan kursi roda atau membutuhkan, misalnya nutrisi khusus yang tidak ditanggung.
Pilar kedua adalah donatur. “Setiap orang yang membuka wecare.id bisa memilih pasiennya untuk berdonasi mulai dari Rp 25 ribu. Anda dapat memilih pasien yang mana. Atau kalau bingung, misalnya ada donasi untuk semua orang. menyumbangkanSudahlah, kepada siapa kita akan menugaskannya? Transparan, semua jalur aliran uang dan donasi bisa dilihat.”
Dan pilar ketiga adalah katalisator. “Misalnya kalau punya tetangga atau bertemu orang di jalan, foto saja dan beri tahu kami. Kami akan melakukannya nanti menindaklanjutidan bermanfaat.
Dibantu oleh Gigih, sahabatnya salah satu pendiri dan masih banyak relawan lainnya, Mesty bersyukur bisa menyalurkan niatnya untuk berbagi profesi sebagai dokter secara lebih luas melalui WeCare.id.
Melalui WeCare.id, Mesty meraih beberapa penghargaan. Misalnya ASEAN-ICT Awards-CSR Category, Australia-ASEAN Emerging Leader in Social Enterprise oleh DFAT & Asialink 2017 dan penghargaan di Asia Social Innovation Awards di Hong Kong.
Bentuklah sebuah generasi
Mesty melanjutkan cerita mengapa ia memilih program spesialis anak saat melanjutkan studi. Mesty mengatakan, keputusan ini karena ingin membentuk generasi yang lebih baik mulai sekarang.
“Saya merasa saya memiliki kesan yang sangat mendalam tentang masa kecil saya. Saya merasa bahwa apa yang terjadi pada individu ketika mereka dewasa adalah cerminan dari apa yang terjadi ketika mereka masih anak-anak. Anak kecil mudah dibentuk dalam hal kesehatan dan kepribadian sehari-hari. Maka saya mempunyai keinginan untuk membentuk generasi dan mendidik mereka untuk selalu menjadi individu yang sehat dan mampu berkembang. Dengan menjadi dokter anak, Anda tidak hanya merawat anak saja, tapi juga mendiskusikan berbagai hal dengan orang tua. “Itu target saya,” kata penerima The Young Health Scholar pada Non-Commercial Conference (NCD) 2014 di Trinidad dan Tobago.
Setiap kali merawat pasien anak-anak, betapapun lelahnya ia, Mesty bisa merasakan semangat yang muncul dalam dirinya. Semua itu didasari oleh satu keyakinan, bahwa ia melakukan sesuatu yang baik demi masa depan anaknya.
Sehingga ketika harus melalui proses pendidikan yang panjang, ditambah dengan praktek kerja yang membutuhkan konsentrasi dan fokus penuh, Mesty tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik.
“Sekarang hampir 90% waktu saya dihabiskan di RSCM. Sampai saat ini kami bisa bekerja 110 jam dalam seminggu. “Saya hanya bekerja dari jam 5 pagi dan pulang jam setengah lima sore,” kata Mesty.
Membagi waktu
Menjadi seorang dokter yang kuliah namun juga beraktivitas di dunia entertainment tentunya membutuhkan dedikasi dan keahlian manajemen waktu dengan baik.
“Sebenarnya semua itu soal skala prioritas. Seiring bertambahnya usia, kita tahu bahwa kita tidak bisa melakukan segalanya. Saya sekarang lebih tegas, prioritas saya sebagai dokter. Jika saya melakukan hal lain seperti menjadi duta merek itu adalah sesuatu yang saya senang lakukan. Ini adalah waktu istirahatku yang sangat aku sukai. Ini seperti syuting seperti itu menyegarkan untuk saya. Menyenangkan. Atau memutar musik. Harus ada waktu, minimal seminggu sekali atau dua kali. Pasti ada waktu. Kecuali mencoba tidur sebentar,” jawab Mesty.
Karena jadwal latihannya yang tetap, Mesty merasa lebih bisa mengatur waktu dan aktivitasnya di luar aktivitas medis. Namun karena prioritasnya saat ini adalah fokus menyelesaikan pelatihannya sebagai dokter anak, dia mencoba mengesampingkan hal lainnya untuk saat ini.
“Kalau ada pekerjaan lain (di luar kedokteran) yang saya minati, saya bisa beradaptasi dan memilih, saya lihat apakah saya mampu atau tidak. Semakin saya datang ke sini, semakin saya terbiasa mengatakan ‘Tidak’. aku jatuh buatan sendiri“Kalaupun menarik, kalau tidak maksimal apa gunanya?”
Namun Mesty tak berniat meninggalkan dunia hiburan dan modeling sepenuhnya, yang turut membesarkan namanya. “Masih banyak lagi licik memberitahuku:’Apa yang sedang kamu lakukan mendesah tertawa terbahak-bahakJika Anda sudah menjadi dokter, jadilah dokter saja, Apa yang sedang kamu lakukan lain?’ Namun yang saya lihat adalah dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengetahui tentang saya sebagai individu, maka sangat mudah bagi saya untuk memberikan konseling atau pesan-pesan kesehatan atau hal-hal positif. Saya merasakan hal itu ketika saya berada di Flores. Saat itu mereka cukup mengenal saya, sehingga lebih mudah untuk terjun ke masyarakat.”
Jaga kesehatan kulit dan wajah Anda
Menghabiskan waktu merawat pasien di rumah sakit membuat Mesty tidak terlalu memikirkan penampilannya. “Wah, baru mencoba datang ke RSCM untuk menemui saya, tapi tidak pernah dandan. Ha ha ha,” katanya sambil tertawa.
Meski mengaku merupakan sosok yang lebih periang, Mesty pun mengaku tak memanfaatkannya perawatan kulit spesial. “Saya adalah orang yang acuh tak acuh. Kadang kalau capek banget, cuci muka aja lalu tidur. Satu-satunya hal yang menurut saya bermanfaat adalah kebiasaan makan dan minum air. SAYA banyak dari ituprotein, hewani dan nabati. Sama halnya dengan lebih sedikit garam.”
Selain itu, kata Mesty, yang paling jitu dan bermanfaat untuk kecantikan adalah istirahat yang cukup. “Sama lebih sedikit gula. Berdasarkan penelitian, gula merangsang peradangan, termasuk jerawat dan keringat lebih aktif. Jadi cobalah untuk mengurangi sebanyak mungkin gula dan banyak sayuran. Olahraga yang sama. Saya melakukan Pilates. Saya tidak punya banyak kardio karena aku sudah berada di rumah sakit kardio. RSCM bersifat ujung ke ujung. Mengejar konsultan, berjalan sangat cepat, berlari kesana kemari.”
Sementara soal riasan wajah, Mesty mengaku tak neko-neko. Yang tidak boleh dilewatkannya adalah penggunaan eyeliner. “Semuanya sama kue dua arah pakai bedak yang sama saja krim bibir Hanya. Itu saja. Jangan gunakan itu memerah sehari-hari. Warna lipstikku juga nadadia warna alami. Lebih cocok,” kata Mesty yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. —Rappler.com