Tiga titik fokus Indonesia dalam pertemuan global melawan terorisme
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Puluhan negara asing berkumpul di Bali untuk mencari solusi melalui pertemuan IMCT dan CTF guna menghentikan aksi teroris yang mengancam keamanan global
JAKARTA, Indonesia – Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pemberantasan Terorisme (IMCT) ke-4 pada 10 Agustus di Nusa Dua, Bali. Acara yang mengusung tema “Penanganan Aksi Teror Perbatasan” ini akan dibuka oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan dihadiri oleh beberapa kepala negara.
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari Konferensi Tingkat Tinggi Pemberantasan Pendanaan Teroris (CTF) yang diselenggarakan pada 8-9 Agustus lalu. Acara KKP ke-2 ini diselenggarakan oleh Pusat Analisis dan Pelaporan Transaksi Keuangan (PPATK) bekerja sama dengan Pusat Analisis dan Pelaporan Transaksi Australia (AUSTRAC).
Sedangkan IMCT diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Tujuan pertemuan itu sendiri adalah untuk memperkuat kerja sama jaringan internasional guna mengatasi ancaman gerakan teroris di wilayah perbatasan. Termasuk menghentikan pelaku teroris, arus informasi dan keuangan.
Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, ada 3 fokus Indonesia dalam IMCT, yakni memperkuat jaringan kerja sama internasional untuk mengatasi meningkatnya ancaman terorisme, mengatasi pemanfaatan teknologi siber dalam penyebaran ekstremisme dan radikalisme, dan meningkatkan pertukaran informasi, intelijen dan pengalaman untuk mengatasi aksi terorisme.
Kemenkopolhukam mengundang 24 negara dan 2 organisasi internasional yaitu PBB dan ASEAN. Sebanyak 13 negara telah menyampaikan konfirmasinya untuk menghadiri pertemuan IMCT.
Di akhir pertemuan IMCT akan disusun deklarasi ketua yang disebut Deklarasi Denpasar.
“pernyataan Ketua “Itu akan dikeluarkan oleh Indonesia untuk kemudian disampaikan kepada peserta konferensi dan delegasi,” kata Kepala Subdirektorat Kontra Terorisme Kementerian Luar Negeri Gatot Amrih Djemirin saat memberikan siaran pers, Kamis, 4 Agustus 2018. di kantor Kementerian Luar Negeri.
Sedangkan kegiatan KKP akan fokus pada solusi pencegahan gerakan teroris baik darat, udara, maupun darat. Sebagai tuan rumah, Indonesia juga mempunyai 3 titik fokus pada ajang ini.
“Pertama, menilai kembali upaya untuk meningkatkan pembagian informasi intelijen dan kerja sama antar badan intelijen. Kedua, pembentukan sosialisasi masyarakat tentang pembiayaan permodalan penyelenggaraan pendidikan dan kegiatan masyarakat terkait pemberantasan terorisme, kata Gatot.
Sedangkan Gatot melanjutkan fokus ketiga terkait program peningkatan kapasitas masyarakat. Program ini didirikan untuk mencegah penyalahgunaan teknologi dan pendanaan terorisme.
Pergerakan para teroris tersebut, kata Gatot, sudah mencapai tahap akut, sehingga pemerintahan suatu negara, terutama yang memiliki batas negara, rentan terhadap infiltrasi.
“Indonesia sendiri menjadi contoh ketika 8 orang pejuang asing (FTF) asal Uighur diketahui terlibat aksi teroris. Namun 4 orang di antaranya ditangkap dan dihukum,” kata Gatot.
Solusi pencegahan ini, kata dia, memerlukan kerja sama erat negara-negara sahabat. Pada Forum KKP, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akan menyampaikan keynote address dengan tema “optimalisasi hubungan multilateral untuk mendeteksi dan menghalangi pendanaan terorisme: kemungkinan strategi untuk mengatasi aksi teroris di kawasan regional”.
Sebanyak 23 dari 35 negara yang diundang telah mengonfirmasi kehadirannya, termasuk Menteri Kehakiman Australia Michael Keenan dan Jaksa Agung George Brandis. Di akhir KKP, negara-negara peserta akan mengeluarkan pernyataan bersama yang disebut Deklarasi Nusa Dua dan kemungkinan besar akan dibawa ke tingkat global pada Majelis Umum PBB pada bulan September.
Pertemuan KKP di Bali merupakan kelanjutan dari pertemuan serupa yang diadakan pada tahun 2015 di Brisbane, Australia. Salah satu poin yang dihasilkan dari pertemuan tersebut adalah Indonesia telah dikeluarkan dari wilayah abu-abu negara-negara yang tidak mematuhi pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan PBB 1267 dan 1373 oleh Lembaga internasional pemantau anti pendanaan terorisme dan pencucian uang atau Financial Action Task Force on Money Laundering (FAFT).
Apakah kedua pertemuan ini mampu memberikan solusi nyata untuk mencegah berkembangnya terorisme? – Rappler.com
BACA JUGA: