• March 21, 2026
Pertama menjadi gubernur, lalu bergabung dengan partai

Pertama menjadi gubernur, lalu bergabung dengan partai

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Deddy Mizwar menjadi kader Partai Gerindra untuk mengikuti Pilgub Jabar

BANDUNG, Indonesia – Kesepakatan politik yang terjadi menjelang pilkada merupakan hal yang lumrah. Sebab, partai politik biasanya menawarkan sejumlah syarat kepada calon yang akan diusungnya. Syarat tersebut bisa berupa mahar atau tawaran menjadi kader partai politik.

Seperti yang terjadi pada Deddy Mizwar. Wakil Gubernur Jawa Barat yang sebelumnya tidak memiliki partai ini akhirnya mendeklarasikan dirinya sebagai kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Diakui Deddy, alasan bergabung dengan partai berlambang Garuda itu karena akan didukung Gerindra yang hanya membutuhkan calon dari kader partainya. “(Ya) boleh saja (jadi kader), Gerindra bukan partai terlarang. “Saya menjadi kader karena maju atas nama Gerindra yang berkoalisi dengan PKS,” kata Deddy beberapa waktu lalu.

Namun lain halnya dengan Ridwan Kamil. Meski sudah resmi ditetapkan sebagai calon gubernur oleh Partai Nasional Demokrat, Kang Emil -sapaan akrabnya- belum tentu menjadi kader partai pimpinan Surya Paloh itu.

Hal inilah yang menjadi alasan Ridwan Kamil ingin diusung oleh Nasdem karena tanpa syarat ia adalah kader partai. Kepada parpol yang berniat mencalonkannya sebagai calon gubernur pada Pilgub Jabar 2018 mendatang, Emil sudah pasti menyatakan akan melakukannya. baru menjadi kader partai setelah menjadi gubernur.

“Saya bisa menjadi kader setelah menjadi gubernur. Ini catatannya. “Nasihat ibu saya, jangan jadi kader sebelum jadi gubernur,” kata Emil, Kamis, 24 Agustus 2017 di Taman Sejarah Kota Bandung.

Selama ini Emil hanya diusung oleh Nasdem yang hanya punya 5 kursi di DPRD Jabar. Pria yang kini menjabat Wali Kota Bandung itu membutuhkan 15 kursi lagi untuk bisa dicalonkan sebagai calon Gubernur Jawa Barat periode berikutnya.

Syarat jumlah kursi akan terpenuhi jika Emil diusung oleh koalisi lima partai. Kelima partai tersebut adalah Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrat, dan Partai Hanura.

Koalisi lima partai akan menentukan siapa yang akan mendampingi calon wakil gubernur pria bernama lengkap Muhammad Ridwan Kamil itu.Mengenai hal itu, Emil mengaku masih terus berkomunikasi dengan kelima parpol tersebut.

“Kami sedang dan masih terus berkomunikasi karena tidak mudah menyatukan berbagai partai dalam politik. Pasti ada batu jatuh, pasir naik (batu turun, pasir naik atau negosiasi), dapat apa dan sebagainya,” kata Emil.

Dinamika politik saat ini, kata Emil, masih mengalami perubahan, termasuk koalisi yang terbentuk antara Gerindra dan PKS yang mendukung Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu. Menurutnya, jalan yang harus ditempuh untuk mendaftarkan calon gubernur dan cawagub di Pilkada Jabar masih panjang.

“Jadi kalau kita simpulkan sekarang, masih ada waktu berbulan-bulan sebelum pendaftaran. Saya pikir ini masih terlalu dini. Namun dinamika tersebut masih dalam tahap awal. Buktinya masih aku yang punya warna hitam dan putih. Pak Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu belum memberikan pernyataan, belum hitam putih. Masih ada dinamika dari Gerindra, dari mana-mana. Jadi menurut saya pasti terjadi, kalau ada hitam di atas putih, ujarnya.

Kabar terbentuknya koalisi PDIP – Golkar dan Gerindra-PKS memberi kesan Ridwan Kamil ditinggalkan. Meski demikian, Emil sendiri mengaku tak khawatir.

“Tidak, tidak terlalu banyak khawatir (khawatir). (katanya) walinya ditinggalkan. Januari teh lila keneh (Januari masih jauh), jangan menilai final, masih empat bulan lagi. “Dan saya mengalaminya pada tahun 2013. Dan jangan lupa kawan-kawan media, pemilu di Jakarta membuktikan pemilu itu terjadi pada H-1,” kata Emil. —Rappler.com

Singapore Prize