Kami sangka, hal itulah yang membuat Luis Milla bersedia menjadi pelatih timnas
keren989
- 0
Luis Milla memang belum pernah sukses di tim senior. Bagaimana dengan kali ini?
JAKARTA, Indonesia — Timnas Indonesia memperkenalkan Luis Milla Aspas sebagai pelatih terkini yang menangani timnas sepak bola senior sekaligus timnas U-23 pada Jumat 20 Januari.
Bahkan, menjelang hari peluncuran, Milla mengaku sempat ragu apakah benar-benar akan menangani pasukan Garuda.
Ia mengatakan, ada rasa takut akan ketidaknyamanan di Indonesia, khususnya penerimaan sepak bola nasional oleh masyarakat.
Keraguan itu bahkan tak kunjung hilang saat ia tiba di Jakarta pada Rabu 18 Januari. Namun kegelisahan itu perlahan hilang setelah ia membaca sejumlah media selama dua hari berikutnya.
Tampaknya sambutan masyarakat baik dan saya disambut dengan sangat antusias, kata Milla di kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Jumat.
Usai berdiskusi dengan PSSI dan sejumlah pesepakbola, wawasan Milla tentang Indonesia semakin terbuka. Apalagi, usai kontrak, ia dan PSSI mampu mencapai titik negosiasi yang bisa diterima kedua belah pihak.
“Tidak mudah. Sampai hari ini (Jumat), saya masih belum mengambil keputusan. Tapi setelah datang ke sini (Kantor PSSI), saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya akan bekerja keras untuk sepak bola Indonesia,” ujarnya.
Pelatih berusia 50 tahun itu yakin bisa membawa Indonesia tampil maksimal. Namun, dia enggan bicara soal target, termasuk saat ditanya soal emas bagi Indonesia di SEA Games 2017.
“Saya menerima pekerjaan ini. Saya menganggapnya penting. Tanya PSSI soal pertanyaan itu (target). “Saya baru datang dua hari yang lalu, jadi belum bisa dibicarakan, harus sinkronisasi dengan PSSI,” kata Milla.
Tidak pernah unggul dalam mengelola tim senior
Suasana keakraban dengan hadirnya wajah-wajah baru di PSSI pun berubah. Saat itulah sejumlah jurnalis menanyakan performanya saat menangani tim di level senior, yakni saat membesut Al Jazira (tim di Uni Emirat Arab) dan dua tim Spanyol, CD Lugo dan Real Zaragoza.
Prestasi Milla di Al Jazira memang tidak terlalu mengesankan. Saat melatih tim pada tahun 2013, ia hanya meraih satu kemenangan, lima kali seri, dan lima kekalahan dalam 11 pertandingan di semua kompetisi yang ia ikuti. Beruntungnya, Al Jazira meski tidak konsisten berhasil finis di posisi ketiga terbawah klasemen.
Namun hal tersebut tidak menyelamatkan nasib Milla. Dia akhirnya dipecat pada akhir musim. Kekalahan memalukan Milla terjadi saat Al Jazira yang menjadi juara edisi 2010-2011 kalah 1-5 dari Al-Shabab.
Saat pindah ke Al Jazira pada awal musim 2013, komentar serupa juga dilontarkannya saat diperkenalkan di Indonesia. Yakni, dia ingin membawa tim barunya untuk mendapatkannya roh khas sepak bola Spanyol. Ia bahkan memasang target minimal yang ingin dicapai timnya penerus. Tentu saja target tersebut meleset karena Al Jazira hanya mampu finis di posisi ketiga.
Di CD Lugo, ia hanya mencatatkan 28 pertandingan pada musim 2015-2016 dengan hasil yang kurang memuaskan pihak manajemen. Yakni 9 kali menang, 12 kali seri, dan 7 kali kalah.
Jika gagal di klub yang berkiprah di divisi Segunda, atau kasta kedua Liga Spanyol, ia memilih Real Zaragoza. Salah satu klub yang tampil di divisi Primera, kasta tertinggi sepak bola Spanyol.
Sayangnya, ia tak mampu mendongkrak performa tim. Ia hanya mengoleksi tiga kemenangan, empat kali imbang, dan lima kekalahan dari total 12 pertandingan. Milla mundur.
Sempat menganggur sejak Oktober dan mengaku mendapat banyak tawaran dari klub lain, Milla akhirnya menerima Indonesia.
Ia menegaskan, rekornya di tim atau klub senior tidak akan sama dengan menangani timnas. Ia mengklaim memiliki keunggulan dalam mengumpulkan pemain-pemain potensial antar negara.
“Saya yakin karena Indonesia punya materi pemain yang bagus, saya lihat,” ujarnya.
Milla mengaku ingin membawa gaya sepak bola Spanyol ke Indonesia. Sebab, ia merasa punya pengalaman empat tahun bersama tim Spanyol. Mulai dari U-19 hingga U-21. Untuk itu, ia optimistis bisa mengimplementasikan sepak bola nasional Matador di Indonesia.
“Sepak bola Spanyol adalah sistem yang rumit. Dan saya akan berusaha membawanya ke Indonesia untuk meraih prestasi maksimal di sepak bola,” ujarnya.—Rappler.com